1. Sari :
Survei hidrografi merupakan salah satu kegiatan esensial yang dilakukan dalam proses instalasi benda atau teknologi dasar laut khususnya peletakan kabel fiber optik dasar laut. Survei hidrografi pada penelitian dilaksanakan di Kapal Riset Baruna Jaya IV di wilayah perairan Cilacap, Jawa Tengah. Akuisisi data SSS
dilakukan menggunakan towed fish jenis Edgetech 4200FS, akuisisi data SBP dilakukan menggunakan SBP mounted jenis Oretech 3010, dan pengambilan sampel sedimen menggunakan gravity corer model Kullenberg. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk menyusun peta sebaran geomorfologi dasar laut dan tingkat bahaya dari kehadiran tiap morfologi dasar laut untuk melakukan penilaian terhadap jalur peletakan kabel fiber optik yang aman.
Pengolahan dan analisis difokuskan pada data hasil rekaman side scan sonar (SSS) yang dilakukan menggunakan aplikasi SonarWiz 7. Pengolahan data rekaman SSS menghasilkan citra mosaik permukaan dasar laut yang digunakan untuk mengidentifikasi morfologi dasar laut berdasarkan gelap–terang (rona) suatu
objek. Peta sebaran geomorfologi dasar laut kemudian disusun menggunakan aplikasi ArcGIS 10.4 berdasarkan sistem klasifikasi yang dikemukakan oleh British Geological Survey (BGS). Identifikasi potensi bahaya survei penanaman alat (burial assessment survey) yang dikemukakan oleh Rapp et al. (2010) digunakan sebagai dasar
pembuatan peta perubahan jalur instalasi kabel fiber optik bawah laut.
Peta geomorfologi dasar laut KP 48 – 53 menunjukkan terdapat morfologi dasar laut yang umum dijumpai pada paparan benua, yaitu bedform berupa riak pasir (ripple) yang terbentuk melalui arus dasar laut dan indikasi morfologi yang terbentuk melalui aktivitas lepasan fluida (fluid–escape feature), yaitu kawah letupan (pockmark). Morfologi dasar laut kategori bahaya 1 (riak pasir) memiliki potensi bahaya terendah sedangkan kategori bahaya 3 (kawah letupan) memiliki potensi bahaya tertinggi sehingga diperlukan adanya perubahan jalur kabel.
Kata kunci: Survei hidrografi, side scan sonar, jalur peletakan kabel fiber optik
1. Sari :
Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki potensi menarik. Salah satu upaya pemerintah Gunungkidul dalam memaksimalkan potensi wisata tersebut ialah dengan membuat jalan baru. Salah satunya Jalan Pantai Selatan Jawa di Desa Tepus, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang nantinya juga akan digunakan sebagai bagian dari Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS) yang merupakan bagian dari proyek Pemerintah Pusat melalui Kementrian Pekerjaan Umum-Pekerjaan Rakyat (PU-PR) dan diresmikan pada tahun 2019 sebagai Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS). Pembuatan jalan baru di Pantai Selatan Jawa merupakan salah satu upaya pemerintah guna meningkatkan konektifitas Pulau Jawa bagian selatan, sehingga dapat mengurangi kesenjangan dengan wilayah Pantai Utara (Pantura). Selain itu jalan tersebut juga merupakan akses menuju pantai-pantai wisata di daerah Gunungkidul, seperti Pantai Indrayanti, dan Pok Tunggal. Namun, proses pembuatan jalan baru tersebut dilakukan dengan memotong tebing dimana memiliki potensi terjadinya gerakan massa yang cukup rendah – tinggi. Maka dari itu diperlukan adanya studi mengenai kestabilan lereng di sepanjang jalan tersebut guna mencegah terjadinya gerakan massa atau tanah.
1. Sari :
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki cadangan batubara yang besar. Salah satu cekungan penghasil batubara adalah Cekungan Sumatera Selatan dengan formasi Muara Enim sebagai pembawa batubara. Formasi ini tersusun oleh material–material vulkanik yang akan mempengaruhi komposisi penyusun batubara yang dapat berubah baik secara fisika maupun kimia, terutama pada komposisi maseral. Studi tentang komposisi maseral penyusun batubara yang terpengaruh material vulkanik ini bertujuan untuk mengetahui perubahan
komposisi maseral dan mineral penyusun batubara yang mungkin terjadi.
Penelitian ini juga dapat bermanfaat untuk mengetahui karakteristik petrografi
organik batubara yang terpengaruh oleh material vulkanik.
Penelitian ini dilakukan pada batubara Formasi Muara Enim yang berada di Kecamatan Tanjung Agung, Provinsi Sumatera Selatan dan termasuk ke dalam wilayah kerja PT. Sriwijaya Bara Priharum. Analisis pada batubara yang terpengaruh abu vulkanik ini dilakukan pada 30 sampel yang berada tepat di lapisan atas dan lapisan bawah lapisan tuff, serta 3 sampel tuff. Metode analisis yang digunakan adalah petrografi organik pada sayatan poles batubara. Selain itu, digunakan pula metode petrografi sayatan tipis untuk mengetahui komposisi
mineral pada material tuff. Untuk identifikasi mineral pada sampel batubara dan tuff secara lebih detail digunakan metode analisis XRD bulk powder.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan, dapat diketahui komposisi maseral penyusun batubara di lokasi penelitian didominasi oleh maseral huminite dan liptinite. Pada batubara yang berada di bagian bawah lapisan tuff, disusun oleh maseral yang berbentuk detritus atau hancuran material pembentuk batubara seperti subgrup maseral detrohuminite (kelimpahan 26,00% vol–38,73% vol), sporinite (kelimpahan 2,55% vol–6,55% vol), liptodertrinite (kelimpahan 3,27% vol–8,00% vol), dan inertodetrinite (kelimpahan 0,36% vol–1,82% vol). Kelompok maseral tersebut menandakan adanya input air yang mengandung nutrient ke dalam lingkungan gambut akibat diendapkannya lapisan piroklastik. Pada batubara yang berada di bagian atas lapisan tuff, maseral yang menyusun
mengalami preservasi yang cukup baik ditandai oleh maseral subgrup telohuminite (kelimpahan 26,18% vol–42,73% vol), didukung oleh maseral fusinite (kelimpahan 0,55% vol–2,55% vol), inertodetrinite (kelimpahan 0,36% vol–2,55% vol). Mineral penyusun tuff didominasi oleh mineral lempung, kuarsa, k–feldspar, dan plagioklas. Pada mineral penyusun batubara didominasi oleh kuara, mineral lempung, serta szomolnokit, apatit, anatase, dan boehmit dalam jumlah minor
Kata kunci: batubara, maseral, petrografi organik, lapisan piroklastik, Formasi Muara Enim
– Mahasiswa
Nama : Evan Wiadji
NIM. : 16/395073/TK/44365
Judul : Tipe dan Genesa Mineralisasi Bijih Hidrotermal pada Blok Karimbow dan Blok Ular Hijau di Prospek Ranoyapo, Kabupaten Minahasa Selatan dan Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara.
– Penguji dan Notulis
– Mahasiswa
Nama : Daffa Rayhan Al-Fattah
NIM. : 17/415155/TK/46444
Judul : Tinjauan Karakteristik Geologi Teknik Terhadap Massa Batuan Konstruksi Bendungan Ciawi, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.
– Penguji dan Notulis
– Mahasiswa
Nama : Febiolla Aulia Maharani Yunus
NIM. : 17/410242/TK/45599
Judul : Rekonstruksi Palinspatik Blok X, Subcekungan Anggursi Utara.
– Penguji dan Notulis
– Mahasiswa :
Nama : Reza Fahmi Manurung
NIM. : 17/413659/TK/46099
Judul : Identifikasi Potensi Geosite Kawasan Gunung Pusuk Buhit, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara sebagai Landasan Penentuan Kawasan Geoculture – Diversity.
– Penguji dan Notulis :
– Mahasiswa :
Nama : Fadli Arif
NIM. : 17/413632/TK/46072
Judul : Struktur Mikro Kokas Hasil Pengokasan Coking Coal Formasi Batuayau, Cekungan Kutai,
Kalimantan Tengah.
– Penguji dan Notulis :
1. Sari :
Kecamatan Saptosari merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta yang termasuk dalam bentang alam karst Gunung Sewu. Selain bukit – bukit kerucut karst, sinkhole sangat umum dijumpai terutama pada batugamping yang telah lapuk dan tertutup oleh endapan tanah. Dropout dan suffosion sinkhole merupakan tipe sinkhole yang berasosiasi dengan endapan atau soil cover. Proses pembentukan sinkhole tipe tersebut cukup membahayakan karena mengakibatkan tanah ambles yang terjadi secara cepat, serta umumnya berada pada area yang digunakan untuk aktivitas manusia seperti sawah dan ladang. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan zona kerentanan amblesan tanah akibat dari keberadaan dropout dan suffosion sinkhole. Untuk mencapai tujuan tersebut, observasi lapangan, analisis laboratorium dan evaluasi data sekunder dilakukan untuk mengumpulkan data geomorfologi, litologi tematik, kelurusan struktur geologi, dan keberadaan sinkhole atau kejadian amblesan tanah yang sudah ada. Dalam menentukan parameter yang paling
berpengaruh, digunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) yang hasilnya menunjukkan bahwa parameter litologi atau endapan lebih berperan dibandingkan dengan parameter jarak terhadap kelurusan struktur geologi dan parameter geomorfologi (kelerengan). Hasil bobot dari proses AHP ini kemudian digunakan untuk membuat peta kerentanan amblesan dengan metode weighted–overlay. Berdasarkan proses tersebut, daerah penelitian dapat dibagi menjadi tiga zona tingkat bahaya amblesan tanah tipe dropout dan suffosion sinkhole, yaitu (1) zona tingkat tinggi dengan probabilitas amblesan sebesar 92% per km2, (2) zona tingkat sedang dengan probabilitas amblesan sebesar 4.7% per km2, dan (3) zona tingkat rendah tidak memiliki potensi amblesan tanah. Tanah yang mengalami amblesan dicirikan dengan persentase butiran halus >50%, nilai Cu > 20, tipe tanah CH – MH, dan memiliki plastisitas tinggi. Dengan adanya peta kerentanan amblesan tanah ini, diharapkan perencanaan wilayah dan pembangunan konstruksi teknik di daerah penelitian dapat memperhatikan zona–zona bahaya amblesan yang ada, sehingga dampak kerugian yang terjadi akibat amblesan tanah dapat terminimalisir.
