Menemukan Makna dalam Setiap Proses: Perjalanan Aldi Setiawan Menjadi Wisudawan Terbaik Teknik

Bagi Aldi Setiawan, perjalanan menjadi seorang geologis bukan sekadar tentang memahami teori dan menguasai berbagai konsep kebumian. Lebih dari itu, geologi mengajarkannya untuk berpikir kritis, bekerja sama, beradaptasi, serta mengambil keputusan berdasarkan data. Mahasiswa Teknik Geologi UGM angkatan 2022 asal Kota Probolinggo, Jawa Timur, tersebut kini menutup perjalanan akademiknya dengan sebuah pencapaian membanggakan sebagai Wisudawan Terbaik.

Perkenalan Aldi dengan dunia geologi sebenarnya telah dimulai sejak duduk di bangku SMA. Saat itu, ia mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) Geografi. Salah satu materi yang dipelajari dalam kompetisi tersebut adalah geologi. Dari sanalah tumbuh ketertarikannya terhadap proses-proses pembentukan bumi dan bagaimana kondisi bawah permukaan dapat dipahami melalui ilmu geologi.

“Sejak SMA, saya mengikuti OSN Geografi dan salah satu materi yang dilombakan yaitu geologi. Hal tersebut menjadi awal saya tertarik dengan proses-proses pembentukan bumi dan bagaimana kita bisa memahami kondisi bawah permukaan melalui ilmu geologi,” ungkap Aldi.

Ketika mulai mencari perguruan tinggi, UGM menjadi salah satu pilihan utamanya. Ia melihat Teknik Geologi UGM memiliki lingkungan akademik yang kuat, kegiatan lapangan yang beragam, kesempatan penelitian, serta ruang untuk berkembang di berbagai bidang geologi. Bagi Aldi, belajar geologi tidak berhenti pada teori di ruang kelas, tetapi juga bagaimana mengamati, menganalisis, dan memecahkan persoalan nyata di lapangan.

Menjalani Kuliah dengan Passion

Selama menjalani perkuliahan, Aldi mengakui bahwa ada banyak suka dan duka yang ia alami. Namun, menurutnya, rasa suka jauh lebih banyak karena ia merasa memiliki passion terhadap bidang geologi. Ketertarikan tersebut membuat berbagai mata kuliah, praktikum, hingga kegiatan lapangan dapat dijalani dengan penuh semangat.

Dari perjalanan tersebut, Aldi menyadari bahwa menjadi seorang geologis tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki.

“Menjadi seorang geologis bukan hanya tentang seberapa banyak kita tahu, tetapi juga bagaimana kita berpikir kritis, mampu bekerja sama, beradaptasi, dan mengambil keputusan berdasarkan data,” tuturnya.

Ketertarikannya kemudian semakin mengerucut pada bidang geologi energi dan sumber daya mineral. Aldi tertarik memahami bagaimana proses geologi membentuk dan mengontrol keberadaan berbagai sumber daya, mulai dari minyak dan gas bumi, batubara, panas bumi, hingga mineral. Menurutnya, bidang tersebut menarik karena geologi tidak hanya digunakan untuk memahami proses yang terjadi di bumi, tetapi juga memiliki peran penting dalam menemukan dan mengembangkan sumber daya yang dibutuhkan manusia.

Belajar dari Gunung Muria

Salah satu pengalaman paling berkesan selama kuliah bagi Aldi adalah ketika mengerjakan penelitian skripsi mengenai alkaline magma plumbing system di Gunung Muria, Jawa Timur. Penelitian tersebut berusaha memahami dinamika pergerakan magma alkali di bawah Gunung Muria berdasarkan data mineralogi, geokimia, dan geotermobarometri. Ketertarikan terhadap petrologi dan proses magmatisme menjadi salah satu alasan Aldi memilih topik tersebut. Selain itu, Gunung Muria memiliki karakteristik geologi yang menurutnya sangat menarik untuk dipelajari. Dalam proses penelitian, Aldi melewati berbagai tahapan, mulai dari pengambilan sampel, preparasi dan analisis petrografi, analisis geokimia, EPMA, hingga perhitungan geotermobarometri.

Namun, justru bukan hasil akhir penelitian yang menjadi bagian paling berkesan baginya. Aldi lebih mengingat proses ketika harus berhadapan dengan data yang tidak selalu sesuai dengan ekspektasi. “Kesulitannya tentu ada, terutama ketika mengintegrasikan berbagai jenis data dan ketika hasil perhitungan tidak selalu langsung memberikan jawaban yang diharapkan. Tetapi justru dari situ saya belajar bahwa penelitian adalah proses mencari jawaban, bukan sekadar membuktikan dugaan awal,” jelasnya. Pengalaman tersebut menjadi salah satu pembelajaran penting bagi Aldi bahwa dalam penelitian, ketidaksesuaian data bukan selalu sebuah kegagalan. Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menjadi pintu untuk menemukan pertanyaan baru dan memahami suatu permasalahan dari perspektif yang berbeda.

Konsistensi dan Kemampuan Mengatur Prioritas

Di luar kegiatan akademik, Aldi juga cukup aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi dan aktivitas lainnya. Berbagai tanggung jawab tersebut tentu menuntut kemampuan untuk mengatur waktu. Baginya, kunci utama dalam menjalani banyak aktivitas adalah menentukan skala prioritas. Ia tidak berusaha melakukan semuanya secara bersamaan, tetapi menentukan pekerjaan mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu dan membuat target yang realistis.

“Tantangan terbesar yang saya hadapi yaitu ketika harus menghadapi banyak tanggung jawab dalam waktu yang bersamaan, terutama ketika kuliah, penelitian, organisasi, dan kegiatan lainnya berjalan beriringan,” ujarnya. Untuk menghadapinya, Aldi membagi pekerjaan menjadi bagian-bagian kecil agar lebih mudah diselesaikan. Ia juga belajar bahwa meminta bantuan bukan berarti menunjukkan ketidakmampuan. Berdiskusi dengan teman maupun dosen justru dapat membantu melihat suatu permasalahan dari perspektif yang berbeda. Menurutnya, kemampuan mengatur waktu bukan berarti membuat semua hal berjalan sempurna. Yang lebih penting adalah mengetahui kapan harus fokus dan kapan harus beristirahat. Hal tersebut sejalan dengan prinsip yang ia pegang selama menjalani kuliah, yaitu selalu bersyukur, tabah, rendah hati, dan bertanggung jawab.

Aldi juga percaya bahwa pencapaian akademik tidak lahir dari usaha besar yang dilakukan hanya sesekali, tetapi dari konsistensi yang dijaga sepanjang perjalanan. “Saya tidak merasa setiap hari harus menjadi mahasiswa yang paling pintar atau paling produktif. Yang saya coba lakukan adalah terus berkembang sedikit demi sedikit, menyelesaikan tanggung jawab dengan baik, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan,” katanya. Ia juga berusaha menikmati setiap proses yang dijalani. Sebab, jika hanya berfokus mengejar hasil, perjalanan perkuliahan dapat terasa jauh lebih berat.

Sosok yang Berarti dalam Perjalanan selama kuliah

Dalam perjalanan akademiknya, Aldi menyebut Dosen Pembimbing Akademik (DPA), Ibu Esti Handini, D.Sc., sebagai salah satu sosok yang memberikan pengaruh besar. Menurut Aldi, Bu Esti tidak hanya memberikan arahan dalam persoalan akademik, tetapi juga membantunya ketika harus menghadapi berbagai pilihan dan tantangan selama masa kuliah. “Nasihat dan perhatian beliau sebagai DPA sangat berarti, karena membuat saya merasa tidak hanya dibimbing sebagai mahasiswa, tetapi juga sebagai seseorang yang sedang mempersiapkan diri untuk memasuki dunia setelah perkuliahan,” ungkapnya.

Aldi merasa bersyukur mendapatkan kesempatan untuk dibimbing oleh beliau. Baginya, dukungan dosen, keluarga, teman, dan orang-orang yang hadir dalam perjalanan kuliah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pencapaian yang diraihnya.

Predikat Wisudawan Terbaik: Sebuah Pengingat

Ketika mendapatkan predikat sebagai Wisudawan Terbaik, Aldi mengaku merasa sangat bersyukur sekaligus tidak menyangka. Predikat tersebut tentu menjadi sebuah kebanggaan bagi dirinya dan keluarga. Namun, Aldi tidak memandang pencapaian tersebut semata-mata sebagai penghargaan atas hasil akademik. Baginya, predikat tersebut justru menjadi pengingat bahwa perjalanan hingga sampai pada titik tersebut tidak pernah dilakukan seorang diri.

“Ada banyak orang yang membantu saya sampai di titik ini, keluarga, dosen, teman, dan orang-orang yang menemani proses saya,” ujarnya. Karena itu, pencapaian tersebut tidak membuat Aldi berhenti belajar. Sebaliknya, ia melihatnya sebagai tanggung jawab untuk terus berkembang dan membawa ilmu yang diperoleh selama kuliah ke tahap kehidupan berikutnya.

Melangkah ke Dunia Energi dan Pertambangan

Setelah menyelesaikan studi, Aldi ingin melanjutkan karier di bidang energi dan pertambangan. Untuk jangka panjang, ia ingin terus mengembangkan kompetensi teknis sekaligus kemampuan profesional. Ia ingin menjadi seorang geologis yang tidak hanya mampu memahami dan menginterpretasikan data, tetapi juga mampu memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan nyata di industri. Untuk rencana studi lanjut, Aldi masih mempertimbangkannya secara matang. Salah satu bidang yang ingin ia pelajari lebih jauh adalah Artificial Intelligence (AI) dan machine learning, khususnya untuk diterapkan dalam eksplorasi geologi energi dan sumber daya mineral.

Menurutnya, perkembangan teknologi membuka peluang baru bagi ilmu geologi. Integrasi antara pemahaman geologi dengan teknologi dan analisis data menjadi salah satu bidang yang menarik untuk terus dikembangkan.

Pesan untuk Generasi Teknik Geologi Berikutnya

Kepada teman-teman mahasiswa Teknik Geologi yang masih menjalani perkuliahan, Aldi berpesan agar tidak terlalu takut menghadapi kesulitan maupun kegagalan. “Nikmati prosesnya. Kuliah di Teknik Geologi memang tidak selalu mudah. Ada praktikum, laporan, responsi, pemetaan, kegiatan lapangan, dan berbagai tugas lainnya. Tetapi suatu saat nanti justru akan merindukan proses-proses tersebut,” pesannya. Ia mengingatkan mahasiswa untuk tidak menjadikan satu nilai atau satu kegagalan sebagai ukuran perjalanan mereka. Yang terpenting adalah terus belajar dan berkembang.

Aldi juga membagikan beberapa hal yang menurutnya penting selama menjalani perkuliahan: memahami konsep dasar dan tidak hanya menghafal, berani bertanya, memanfaatkan kesempatan untuk mengikuti penelitian, organisasi, kompetisi, maupun kegiatan lapangan, serta membangun relasi yang baik dengan teman dan dosen. Tidak kalah penting, ia mengingatkan mahasiswa untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan akademik dan kehidupan pribadi. “Jangan sampai terlalu sibuk mengejar prestasi sampai lupa menikmati masa kuliah,” ujarnya.

Pada akhirnya, perjalanan Aldi di Teknik Geologi UGM memperlihatkan bahwa sebuah pencapaian tidak hanya dibentuk oleh nilai dan prestasi, tetapi juga oleh konsistensi, ketekunan, keberanian menghadapi tantangan, serta kemampuan untuk terus belajar dari setiap proses. Ia menutup perjalanan tersebut dengan sebuah kalimat yang menjadi prinsip sekaligus penyemangatnya:

“Life isn’t a dream, but dreams are a part of life. So, do your best and be the best version of yourself.”

Bagi Aldi, menjadi versi terbaik dari diri sendiri bukan berarti harus selalu menjadi yang paling unggul. Lebih dari itu, menjadi terbaik adalah tentang terus bertumbuh, bertanggung jawab terhadap setiap proses, dan tetap rendah hati dalam setiap pencapaian.

Sumber: Aldi Setiawan

 

Humas Departemen | Agustus 2026