SUHU AC KE TERIK MATAHARI: Cerita Anak Jakarta di Medan Kebumen

Sebagai anak yang tumbuh di Jakarta, kehidupan saya sebelumnya cukup jauh dari kata “lapangan”. Pergi ke mall, berjalan di tempat ber-AC, dan jarang terkena matahari mungkin lebih menggambarkan zona nyaman saya. Masuk hutan, berjalan di bawah terik matahari, duduk di tanah, terkena gatal-gatal karena tanaman, atau melewati medan terjal bukanlah aktivitas yang pernah saya bayangkan akan menjadi bagian dari kehidupan saya. Bahkan membayangkan diri melakukan hal-hal tersebut saja tidak pernah terpikirkan. Namun, masuk Teknik Geologi ternyata membawa saya ke tempat yang sangat jauh dari kebiasaan itu. Kuliah Lapangan di Kebumen menjadi salah satu pengalaman yang paling membuat saya sadar bahwa ternyata saya bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.

Kavling pemetaan saya berada di sekitar Desa Peniron, Gunung Tugel, hingga sebagian wilayah persawahan Karangsambung. Pada awal kegiatan saya masih merasa senang-senang saja, sampai mulai mengerjakan peta tentatif dan menyadari satu masalah besar: akses jalan di kavling saya ternyata sangat sedikit, terutama menuju daerah-daerah tinggian. Kavling saya dikelilingi oleh daerah tinggi, sementara jalur yang relatif mudah dilalui justru berada di daerah dataran yang merupakan endapan dan dilalui sungai berukuran cukup besar. Kelompok kami memiliki empat kavling, dengan area tampalan keempat kavling berada di kawasan yang cukup tinggi. Alih-alih menghindarinya, kawasan tersebut justru akhirnya kami jadikan pondokan. Sejak saat itu, kehidupan KL saya berubah menjadi rutinitas naik-turun gunung setiap pagi dan malam.

Hari Pertama: Mencari Jalan yang Tidak Ada di Peta

Hari pertama saya habiskan dengan mengelilingi satu kavling untuk mencari jalan-jalan yang belum tergambarkan pada peta. Selain melakukan tracking, saya juga mulai menandai singkapan-singkapan yang dapat diteliti pada hari-hari berikutnya. Hari itu juga menjadi awal dari salah satu penemuan yang cukup menarik. Saya bersama porter menemukan jalan menuju puncak Gunung Tugel. Karena berpikir bahwa lebih baik sekalian daripada harus kembali lagi di hari berikutnya, kami memutuskan untuk langsung melakukan tracking ke arah gunung.

Di sana kami menemukan bongkah-bongkah andesit berukuran sebesar mobil. Awalnya saya mengira batu tersebut hanya bongkah biasa yang kebetulan berukuran sangat besar. Namun, setelah diamati lebih lanjut, ternyata yang kami injak bukan sekadar bongkah lepas. Batuan andesit tersebut berukuran sangat besar dan menjadi bagian dari penyusun Gunung Tugel itu sendiri. Dari situ saya mulai sadar bahwa peta dan kenyataan di lapangan ternyata punya cara masing-masing untuk memberikan kejutan.

Hari kedua dan ketiga relatif lebih mudah karena jalur dan singkapan sudah saya telusuri sejak hari pertama. Saya sudah memiliki gambaran mengenai jalan mana yang dapat dilewati, lokasi singkapan yang perlu diamati, dan bagian mana yang masih menjadi tanda tanya. Tetapi hari keempat kembali memberikan pengalaman yang berbeda.

 

Ketika Hampir Menyerah, Malah Menemukan Singkapan

Hari keempat saya menyeberangi sisi utara Gunung Tugel untuk mencari Formasi Totogan dan Karangsambung. Secara teori, lokasi tersebut terlihat cukup jelas pada peta. Kenyataannya, medan berkata lain. Daerah yang terlihat seperti dataran ternyata merupakan persawahan yang bergelombang dan naik-turun. Jalannya pun sulit, sehingga perjalanan menuju lokasi terasa seperti hiking dengan bonus sawah.

Setelah semakin jauh berjalan, singkapan yang dicari tidak kunjung terlihat. Saya dan Hesky kemudian memutuskan untuk menyusuri daerah sekitar permukiman dan kandang sapi. Di sepanjang perjalanan kami menemukan beberapa bongkah breksi besar di sekitar sawah yang kemungkinan berkaitan dengan material Formasi Totogan. Tidak jauh dari sana, kami kembali menemukan breksi yang kemungkinan merupakan hasil pelapukan atau gelindingan batuan dari Waturanda.

Hari mulai gelap dan tenaga mulai habis. Kami sebenarnya sudah hampir memutuskan untuk kembali, tetapi Hesky mengajak saya untuk mencoba berjalan sedikit lagi. Tidak lama kemudian, di balik pepohonan, saya melihat sesuatu berwarna abu-abu sekitar delapan hingga sembilan meter di depan. Karena sudah terlalu lelah, saya bahkan sempat mengira itu langit. Ternyata bukan. Setelah didekati, benda tersebut merupakan singkapan batuan berukuran sangat besar berwarna hitam keabu-abuan.

Hesky langsung antusias, sementara saya lebih banyak bengong mencoba memahami apa yang sedang kami lihat. Setelah diamati, batuan tersebut ternyata merupakan batu pasir yang sangat keras dan resisten. Ketika dipukul, bunyinya bahkan terdengar “ting-ting”. Singkapan tersebut kemudian kami plot dan ternyata masih dapat ditelusuri lebih jauh hingga ditemukan singkapan lain yang telah dimanfaatkan sebagai area penambangan. Penemuan ini menjadi salah satu momen yang paling saya ingat karena singkapan tersebut justru ditemukan ketika kami sudah hampir memutuskan untuk pulang.

Mencari Struktur, Menjadi Misteri

Pencarian data geologi kemudian berlanjut ke sekitar Penosogan, tidak jauh dari bagian Waturanda di Gunung Tugel. Saya beberapa kali kembali ke lokasi yang sama untuk memastikan apakah terdapat struktur geologi atau tidak. Di sana terdapat anak sungai Luk Ulo yang hampir seluruh bagiannya memperlihatkan perlapisan batuan yang sangat panjang, bahkan lebih dari 15 meter, dengan bentuk yang melengkung.

Sekilas, bentuk tersebut terlihat seperti sinklin. Namun, setelah diamati lebih lama, saya mulai berpikir bahwa bentuk tersebut bukanlah lipatan, melainkan perlapisan yang dipotong oleh aliran sungai sehingga menghasilkan kenampakan melengkung. Interpretasi tersebut kemudian saya diskusikan saat reco bersama Bapak Jarot Setyowiyoto selaku dosen pembimbing dan mendapat penguatan. Dari sana, saya juga mendapat arahan bahwa perbedaan elevasi yang berubah cukup tiba-tiba di daerah tersebut dapat menjadi petunjuk keberadaan struktur yang lebih besar.

Masalah berikutnya, tentu saja, adalah menemukan struktur tersebut.

Semakin menuju bagian atas Gunung Tugel, medan semakin terjal dan akses semakin sulit. Di beberapa titik kami harus meninggalkan motor dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju area yang mulai mendekati hutan. Pada salah satu perjalanan, kami menemukan sungai dengan sebuah batang pohon yang ukurannya sangat besar hingga benar-benar menghalangi jalan. Kondisinya sudah mulai sepi, angin berembus cukup kencang, dan suasana di sekitar sungai terasa agak berbeda. Entah karena memang suasananya, atau karena saya sudah terlalu lelah, tetapi angin di sana benar-benar membuat merinding.

Jujur, pada saat itu saya mulai berpikir bahwa mungkin hari tersebut adalah waktu yang tepat untuk pulang. Namun, setelah berdiskusi dengan Hesky, kami memutuskan untuk setidaknya melihat area sungai terlebih dahulu sebelum benar-benar kembali. Untungnya, keputusan tersebut tidak sia-sia. Kami justru menemukan kontak antara batu pasir Waturanda dan Penosogan.

Begitu data yang dibutuhkan berhasil didapatkan, kami tidak banyak berdiskusi lagi. Langsung bergerak cepat dan buru-buru meninggalkan lokasi. Dalam kondisi seperti itu, menemukan kontak batuan memang menyenangkan, tetapi pulang sebelum hari semakin gelap terasa jauh lebih menyenangkan.

Pada hari berikutnya, penelusuran di lokasi lain menghasilkan beberapa struktur minor yang kemudian dapat ditarik menjadi interpretasi struktur mayor. Perlahan, bagian-bagian yang sebelumnya masih menjadi pertanyaan mulai terhubung satu sama lain.

Lima Hari yang Mengubah Cara Pandang

Pada akhirnya, pemetaan saya berhasil mengidentifikasi sembilan satuan batuan dari tujuh formasi. Angka tersebut mungkin terlihat seperti sekadar hasil akhir pemetaan, tetapi bagi saya angka itu memiliki cerita yang jauh lebih panjang. Sejak awal, saya cukup terkejut melihat kondisi kavling dengan kontur yang tajam, akses jalan yang terbatas, sungai yang memotong sekitar seperempat kavling, serta banyaknya formasi yang harus dipetakan.

Dengan satu hari efektif untuk mengelilingi kavling dan empat hari pemetaan, saya akhirnya berhasil menyelesaikan sesuatu yang sebelumnya bahkan tidak pernah saya bayangkan akan saya lakukan. Saya yang awalnya cukup gelisah membayangkan harus masuk ke medan seperti itu ternyata mampu bertahan sampai akhir. Tentu bukan berarti semuanya selalu mudah. Ada lelah, panas, takut, bingung, tersesat, dan beberapa momen ketika rasanya lebih mudah untuk mengatakan “sudah, pulang saja”. Tetapi justru dari situ saya belajar bahwa kemampuan untuk terus berjalan sering kali muncul setelah kita dipaksa melewati batas yang kita kira tidak bisa dilewati.

Sejak masuk Teknik Geologi, saya belajar satu cara sederhana untuk bertahan: jalani saja, bawa santai, lakukan sebisanya, dan kalau bisa, tertawakan hal-hal yang terasa berat. Mungkin bukan metode ilmiah, tetapi sejauh ini cukup efektif.

Dan ternyata, menjalani semua itu tidak pernah benar-benar sendirian. Dukungan teman-teman yang saling menyemangati dan membuat segala sesuatu terasa lebih ringan menjadi bagian penting dari perjalanan ini. Begitu juga keluarga. Setiap kali saya bercerita kepada Ibu tentang apa yang saya lakukan, jawabannya hampir selalu sama, “pasti bisa.” Ayah, yang memang penggemar Liverpool, sering mengatakan satu kalimat di waktu-waktu random: “You’ll Never Walk Alone.”

Dulu saya hanya menganggapnya sebagai kalimat khas Liverpool yang sering Ayah ucapkan. Namun, selama KL ini, saya baru menyadari betapa cocoknya kalimat tersebut dengan apa yang saya alami. Di tengah medan yang sulit, rasa lelah, keraguan, dan berbagai hal yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan akan saya lakukan, ternyata selalu ada keluarga, teman, dan orang di sekitar saya  yang mengingatkan untuk terus berjalan.

Mungkin saya memang tidak pernah membayangkan akan duduk di tanah, berjalan di bawah panas, masuk ke medan terjal, atau mengejar singkapan sampai hampir gelap. Tetapi ternyata, saya bisa. Dan pada akhirnya, mungkin itulah hal terbesar yang saya bawa pulang dari KL: bukan hanya peta dengan sembilan satuan batuan dan tujuh formasi, tetapi keyakinan bahwa saya mampu melakukan lebih banyak hal daripada yang selama ini saya kira.

Penulis: Aulia Faraj Husna Areta

 

Humas Departemen | Agustus 2026