Bruno, Mustika Baru Milik Kita Bersama

Pagi itu, hawa dingin terasa menusuk kulit. Dari ventilasi jendela, hanya terdengar kicauan burung. Jalan-jalan nampak lenggang. Pagi itu, belum ada aktivitas manusia yang mencolok. Itulah, mustika baru berhasil kami temukan ketika kami berada di wilayah Bruno. Sebuah daerah asing yang tidak kami pikirkan sebelumnya.

Sebetulnya kami skeptis dan mengira kuliah lapangan mandiri akan menjadi hal yang merepotkan dan menyusahkan. Wilayah Bruno memiliki medan yang luar biasa terjal. Setiap hari, kaki-kaki kami harus berhadapan dengan topografi menantang yang didominasi oleh litologi breksi andesit. Batuan keras yang membentuk topografi yang begitu curam, namun ajaibnya lahan-lahan ekstrem itu tidak dibiarkan kosong begitu saja. Masyarakat dan alam seolah berbagi ruang dengan menyulap lereng-lereng curam menjadi pemukiman, persawahan, perkebunan kopi, hingga deretan hutan pinus milik Perhutani yang menjulang memagari langkah kami setiap hari.

Menurut penuturan Camat Bruno, Bapak Taufik Bagas, terungkap bahwa Bruno memang diakui sebagai wilayah yang sangat rawan terhadap bencana longsor, apalagi ketika sudah memasuki musim penghujan. Dalam perbincangan hangat itu, terselip sebuah harapan dari Pak Camat. Beliau sangat berharap bahwa hasil pemetaan geologi yang kami lakukan ini mungkin akan membawa manfaat yang baik dan nyata, khususnya untuk mitigasi di wilayah Bruno ke depannya.

Tentu saja, harapan itu menjadi cambuk penyemangat, meski kenyataan di lapangan seringkali menguji fisik dan mental kami. Kendala utama yang harus kami hadapi setiap harinya adalah medan yang ekstrim. Kami jarang sekali menemukan jalan setapak yang layak, memaksa kami untuk sering menerobos rimbunnya semak dan pepohonan. Tantangan pun bertambah berat dengan sulitnya mencari singkapan batuan yang ideal. Kebanyakan singkapan yang kami temui kondisinya sudah sangat lapuk, basah oleh embun dan lumut, serta kurang representatif untuk diambil datanya. Rasanya butuh kesabaran ekstra hanya untuk bisa memalu batuan yang segar.

Beruntungnya, alam seakan tahu persis cara mengobati rasa lelah kami. Di tengah peliknya menelusuri lintasan, wilayah Bruno ternyata menyimpan banyak objek wisata curug atau air terjun yang spektakuler. Di sela-sela membelah hutan, kami disambut oleh megahnya Curug Kyai Kate, Curug Gunung Putri, hingga Curug Muncar. Suara gemuruh air dan segarnya percikan curug-curug inilah yang membuat beban pemetaan kami terasa jauh lebih ringan dan sangat refreshing. Rasa lelah seolah hanyut begitu saja terbawa arus.

 

Bruno, mungkin kami tinggalkan bukan hanya sebagai cerita. Akan tetapi sepantasnya adalah Keluargga dan Mustika. Beruntungnya kami, Lima sekawan kelompok A12. Kelompok tangguh, sudah sepantasnya mendapat daerah pemetaan yang sangat berkesan. Semoga kami dapat kembali, dengan kabar yang lebih indah dari sekadar tempat.

Penulis: Daffa Naufal Yanuro (Geo-24)

 

Humas Departemen | September 2026