Bukan anak geologi namanya kalau tidak bisa melakukan pemetaan. Begitu juga dengan saya, Monica Bonita Putri mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di S1 Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada. Kegiatan pemetaan mandiri saya lakukan di pertengahan semester 4 menuju semester 5 pada bulan Juli 2025. Petualangan pemetaan ini dimulai dari perjalanan dari Yogyakarta menuju Kabupaten Kendal menggunakan sepeda motor. Bersama teman-teman kelompok, saya menginap di salah satu rumah warga yang telah disurvei beberapa kali sebelumnya. Tempat yang cukup untuk bergulat menyelesaikan kavling yang didapatkan selama dua belas hari.
Pemetaan geologi yang saya dapatkan berada pada kavling 135, secara administratif terletak di perbatasan antara Kabupaten Kendal dan Kabupaten Temanggung dengan cakupan desa terluasnya terdapat pada Desa Muncar. dengan lokasi pemetaan tertinggi berada di ketinggian 750 mdpl dan terendah 250 mdpl. Kondisi perbedaan tinggi yang signifikan menunjukkan adanya perubahan fitur geologi lokasi-lokasi tertentu. Selama dua belas hari saya harus melalui medan perjalanan yang cukup menantang akibat jalan dengan turunan curam dan berliku tajam. Pada bagian tengah kavling 135, terdapat sungai besar bernama Sungai Pupu yang melintang dari barat daya ke timur laut. Sungai tersebut diapit dua punggungan dengan orientasi yang sama.
Fitur-fitur geologi yang ditemukan di kavling 135 secara umum tersusun atas batuan sedimen dan batuan beku, di mana pada lokasi-lokasi berkontur tinggi umumnya tersusun atas batuan beku yang lebih resisten dari pelapukan. Sedangkan daerah pengamatan dengan kontur lebih rendah dan cenderung landai tersusun atas batuan sedimen berlapis. Batuan beku yang ditemukan diasumsikan merupakan hasil produk aliran lava akibat struktur aliran-aliran yang ditemukan di lapangan, dengan jenis batuan berupa batuan andesit dan basalt. Batuan sedimen yang ditemukan merupakan batulempung bersisik dengan batupasir.
Penulis: Monica Bonita Putri
Humas Departemen | Oktober 2026