Daerah di bagian barat Sungai Progo, atau akrab disebut Kulonprogo, adalah daerah yang saya petakan selama pemetaan geologi mandiri pada bulan Juli – Agustus 2026 lalu. Berada pada elevasi yang membentang dari 125 mdpl di bagian tenggara, hingga 750 mdpl di bagian barat laut, kavling ini menyimpan sejarah geologi Kulonprogo secara garis besar. Berdasarkan Peta Geologi Regional Lembar Yogyakarta oleh Rahardjo, W., et al., kavling ini tersusun atas tiga formasi: Formasi Andesit Tua, dan Jonggrangan yang menjari terhadap Sentolo.

Ketiga formasi tersebut tersingkap di atas Kulonprogo, dan dapat dipetakan dengan baik dalam rentang waktu sepuluh hari. Dalam rentang waktu tersebut, batuan penyusun Kulonprogo, tepatnya di Kecamatan Jatimulyo dan sekitarnya, dapat dibagi menjadi lima satuan batuan. Pada bagian barat laut, Formasi Jonggrangan dibagi menjadi Satuan Batuan Packstone dan Satuan Batuan Wackestone yang keduanya bersifat masif. Kedua satuan batuan ini menyusun setidaknya 15% dari keseluruhan kavling. Keterdapatan batuan karbonat tidak hanya pada bagian barat laut kavling, tapi juga pada bagian tenggara. Di mana, ditemukan batu gamping yang menyusun Formasi Sentolo. Satuan Batu Gamping Formasi Sentolo pada kavling ini hanya menyusun setidaknya 5% dari keseluruhan kavling. Sisa 80% penyusun kavling adalah hasil dari aktivitas vulkanik purba Gunung Api Gajah yang berumur Oligosen.
Berdasarkan hasil pemetaan, Formasi Andesit Tua tersusun atas dua satuan batuan: Satuan Batuan Andesit yang tersebar pada bagian utara kavling, dan Satuan Breksi Vulkanik yang tersebar pada bagian selatan kavling. Persebaran satuan ini tidak sepenuhnya sempurna, hal ini membuktikan bahwa alam memiliki caranya sendiri untuk mengukir sebuah karya yang dapat ditelaah di kemudian hari. Tidak hanya menjadi sebuah karya, keberadaan Satuan Batuan Andesit juga membuka peluang pekerjaan bagi warga untuk melakukan penambangan legal di sekitar wilayah Giripurwo.
Penulis: Fernanda Pia Rasheesa
Humas Departemen | Oktober 2026