Pemetaan Geologi Mandiri merupakan salah satu kesempatan bagi mahasiswa Teknik Geologi untuk mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari selama perkuliahan secara langsung di lapangan. Saya berkesempatan melakukan pemetaan di daerah Trimulyo dan sekitarnya, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Daerah ini menyimpan kondisi geologi yang cukup menarik dengan bentang alam perbukitan, vegetasi yang cukup lebat, serta singkapan batuan yang tersebar di berbagai lokasi. Selama pemetaan, saya tidak hanya belajar mengenali batuan dan struktur geologi, tetapi juga memahami medan serta berinteraksi dengan masyarakat yang tinggal di sekitar daerah pemetaan.
I conducted a three-week geological mapping project in Sojomerto Village, Kendal, together with four other student mappers and five field helpers. During the mapping activity, I observed outcrops, measured geological structures, and interpreted the distribution of rock units across my assigned area. Based on my field observations, I divided the area into three main lithological units, volcanic sandstone, calcareous siltstone, and volcanic breccia units. The volcanic sandstone unit is mainly distributed in the northern part of the area and is interpreted as part of the Damar Formation based on the regional geology. Distinguishing this unit from the volcanic breccia of the Kaligetas Formation in the southern area was challenging because both formations contain breccia. However, the occurrence of volcanic sandstone as a matrix and several volcanic sandstone outcrops supported my interpretation of the northern unit as the volcanic sandstone unit. In contrast, the southern area was classified as volcanic breccia because it is dominated by volcanic deposits associated with the Kaligetas Formation. Between these units, I identified a soft, fine-grained calcareous siltstone unit, particularly along rivers where erosion had exposed the underlying rocks.
Bumi, tempat hidup seluruh umat manusia yang menyimpan begitu banyak sumber daya dan misteri geologi yang membentuknya, sumber daya yang dibutuhkan serta misteri yang ingin dipecahkan memerlukan lebih dari sekedar teori ruang kelas. Ilmu Geologi membutuhkan pengamatan langsung terhadap batuan, bentang alam, struktur hingga proses geologi yang menjadi misteri yang ingin dipecahkan. Hal ini yang menjadi pendorong adanya Kuliah Lapangan Geologi di penghujung semester empat mahasiswa Teknik Geologi UGM.
Bagi sebagian orang, Mandala Giri mungkin dikenal sebagai kawasan perbukitan dengan udara sejuk dan panorama pegunungan di Kabupaten Banjarnegara. Namun, di balik bentang alam tersebut tersimpan cerita geologi yang menarik. Melalui kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri 2026 di Desa Sembawa dan sekitarnya, salah satu fitur yang menjadi perhatian adalah keberadaan batuan intrusif yang di lapangan diinterpretasikan sebagai gabro di kawasan Mandala Giri, Desa Karanggondang. Kemunculan massa batuan yang besar dan masif di tengah vegetasi menjadikan kawasan ini tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memberikan gambaran mengenai proses geologi yang pernah berlangsung di wilayah tersebut.
The 2026 Independent Geological Mapping Activity gave me an opportunity to directly understand the geological conditions of the Kulon Progo area. The mapping area consists of several geological units, including the Kebobutak Formation, Jonggrangan Formation, and a small occurrence of andesitic intrusion. In addition to its geological characteristics, the area also has several sites of fill-material mining activity.
During the mapping activity, I observed rock outcrops, the distribution of geological units, and geological structures found in the field. One of the most interesting findings was a major dextral strike-slip fault. The structure shows a relatively consistent orientation in the Java Island and provides important information for understanding the deformation pattern that developed in the mapping area.
Menyingkap Geologi melalui Pemetaan
Pemetaan geologi mandiri membawa kami menyusuri wilayah Kedungwringin, Semali, Borosari, Jatinegara, Banjiruyung, Pekunceb, Kedungjati, hingga Pohkumbang. Sepanjang perjalanan, kami menemukan berbagai singkapan batuan dan bentang alam yang membantu menggambarkan kondisi geologi daerah.
Salah satu temuan yang menarik adalah breksi piroklastik Formasi Waturanda, yang dalam kolom stratigrafi daerah memiliki ketebalan lebih dari 600 meter dan merekam aktivitas vulkanik pada masa lalu. Di area kavling yang sama, kami juga menemukan Curug Pejaten, yang menjadi salah satu fitur geologi lokal. Keberadaan curug menunjukkan interaksi antara aliran air, batuan, dan proses erosi dalam membentuk bentang alam.
Pemetaan Geologi Mandiri dilaksanakan pada tanggal 8–30 Juli 2026 di daerah Sendangdalem dan sekitarnya dengan cakupan area sekitar 4×5 km yang melintasi Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Wonosobo. Hari pertama kegiatan digunakan untuk orientasi medan dan identifikasi akses guna menentukan lintasan pemetaan pada hari-hari berikutnya. Perencanaan lintasan didasarkan pada kenampakan morfologi dengan memanfaatkan fitur Terrain dan Street View pada Google Maps untuk memperkirakan akses sebelum dilakukan penelusuran secara langsung. Peta kerja lapangan berupa peta topografi yang memuat kontur, jalan, dan sungai disusun menggunakan ArcMap, kemudian diimpor ke Avenza Maps untuk plotting STA, pencatatan deskripsi singkapan, dokumentasi, dan perekaman lintasan. Pengambilan data pada setiap singkapan dilakukan melalui observasi, deskripsi litologi, pengukuran orientasi, pencatatan, pengambilan sampel, dan dokumentasi. Pengukuran orientasi perlapisan batuan maupun struktur geologi dilakukan menggunakan kompas geologi, hasil pengukuran dicatat pada fitur deskripsi yang tersedia. Sebanyak 70 STA representatif berhasil dicatat selama kegiatan pemetaan. Hasil pengamatan menunjukkan daerah penelitian tersusun atas satuan tuf karbonatan, batupasir tufan karbonatan, breksi basalt, dan batupasir, serta memiliki satuan geomorfologi berupa perbukitan struktural terdenudasi rendah, sedang, dan tinggi. Selain itu, ditemukan struktur geologi berupa sesar naik, antiklin, dan sinklin. Satuan breksi basalt merupakan litologi yang paling dominan, menempati >50% area kavling, sementara satuan batupasir memiliki persebaran paling terbatas. Keterbatasan tersebut kemudian terkonfirmasi melalui korelasi dengan data kelompok pada area bertampalan, yang menunjukkan bahwa persebaran utama batupasir berkembang lebih luas di area kavling lain.
Pendahuluan
Pada awal bulan Juli, saya melaksanakan kegiatan pemetaan geologi mandiri di wilayah Kecamatan Broena, Purworejo. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses pembelajaran lapangan yang bertujuan untuk memahami kondisi geologi secara langsung melalui pengamatan dan pemetaan detail terhadap kondisi batuan, geomorfologi, serta struktur geologi di daerah kavling dan sekitarnya. Kegiatan pemetaan tidak hanya dilakukan dengan menyusuri sungai dan medan perbukitan, tetapi juga mencakup pengamatan karakteristik batuan, hubungan antarsatuan batuan, serta berbagai struktur geologi yang berkembang di wilayah pemetaan.
Bukan anak geologi namanya kalau tidak bisa melakukan pemetaan. Begitu juga dengan saya, Monica Bonita Putri mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di S1 Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada. Kegiatan pemetaan mandiri saya lakukan di pertengahan semester 4 menuju semester 5 pada bulan Juli 2025. Petualangan pemetaan ini dimulai dari perjalanan dari Yogyakarta menuju Kabupaten Kendal menggunakan sepeda motor. Bersama teman-teman kelompok, saya menginap di salah satu rumah warga yang telah disurvei beberapa kali sebelumnya. Tempat yang cukup untuk bergulat menyelesaikan kavling yang didapatkan selama dua belas hari.
Kegiatan pemetaan geologi di daerah Bruno dan sekitarnya memberikan pengalaman untuk mengenali kondisi wilayah secara langsung. Medan pada kavling yang dipetakan tergolong sangat curam dengan elevasi berkisar antara 250 hingga 960 mdpl, sehingga kegiatan pemetaan tidak hanya membutuhkan pemahaman geologi, tetapi juga kesiapan dalam menghadapi kondisi lapangan. Di tengah kegiatan tersebut, terdapat berbagai pengalaman yang membuat proses pemetaan menjadi lebih berkesan, mulai dari menikmati pemandangan Gunung Sindoro dan Sumbing hingga pengalaman terjatuh dari motor saat melewati medan pemetaan. Meskipun secara umum kondisi geologi Bruno tergolong sederhana, kegiatan pemetaan menunjukkan bahwa masih banyak hal menarik yang dapat ditemukan ketika kondisi wilayah diamati secara langsung.