Penulis: Gregorius Agung Paniroi Pasaribu

Kegiatan pemetaan geologi mandiri di daerah Rembang menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan sekaligus menantang dalam perjalanan perkuliahan saya. Daerah ini tidak hanya indah dengan perbukitan kapurnya, tetapi juga menyimpan catatan panjang sejarah bumi yang terekam dalam berbagai formasi batuan. Selama pemetaan, saya menemukan empat formasi utama yang cukup menarik, yaitu Formasi Mundu, Ledok, Wonocolo, dan Bulu.
Setiap formasi seolah memiliki cerita sendiri. Formasi Mundu hadir dengan batugamping putih kekuningan yang padat dan penuh fosil foraminifera, seakan membawa saya membayangkan laut dangkal purba yang pernah menutup kawasan ini. Formasi Ledok berbeda nuansanya, tersusun oleh batulempung gampingan dan batupasir halus, memberi kesan tenang seperti lautan dalam yang sunyi. Formasi Wonocolo memperlihatkan napal gampingan dan batugamping terumbu, bukti kehidupan laut yang subur pada masa lampau. Sementara itu, Formasi Bulu dengan batugamping terumbu masifnya berdiri gagah, seolah menjadi saksi bisu terbentuknya lingkungan karbonat tropis jutaan tahun lalu. Keempat formasi ini bukan hanya batu semata, melainkan rekaman perjalanan panjang bumi, sekaligus kunci bagi potensi sumber daya alam yang sudah lama dikenal di Rembang.

Wakil Bupati (Wabup) Nganjuk, Trihandy Cahyo Saputro, secara langsung meninjau proses ekskavasi fosil Stegodon trigonochepalus atau gajah purba di Kawasan Hutan Tritik, Desa Tritik, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur (Jatim), Selasa (21/10/2025). Penemuan fosil yang nyaris utuh ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk. Untuk mencapai titik temuan fosil, Wabup yang akrab disapa Mas Handy ini harus menyusuri jalan sempit, berkelok dan menanjak.
