Bukan anak geologi namanya kalau tidak bisa melakukan pemetaan. Begitu juga dengan saya, Monica Bonita Putri mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di S1 Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada. Kegiatan pemetaan mandiri saya lakukan di pertengahan semester 4 menuju semester 5 pada bulan Juli 2025. Petualangan pemetaan ini dimulai dari perjalanan dari Yogyakarta menuju Kabupaten Kendal menggunakan sepeda motor. Bersama teman-teman kelompok, saya menginap di salah satu rumah warga yang telah disurvei beberapa kali sebelumnya. Tempat yang cukup untuk bergulat menyelesaikan kavling yang didapatkan selama dua belas hari.
berita
Kegiatan pemetaan geologi di daerah Bruno dan sekitarnya memberikan pengalaman untuk mengenali kondisi wilayah secara langsung. Medan pada kavling yang dipetakan tergolong sangat curam dengan elevasi berkisar antara 250 hingga 960 mdpl, sehingga kegiatan pemetaan tidak hanya membutuhkan pemahaman geologi, tetapi juga kesiapan dalam menghadapi kondisi lapangan. Di tengah kegiatan tersebut, terdapat berbagai pengalaman yang membuat proses pemetaan menjadi lebih berkesan, mulai dari menikmati pemandangan Gunung Sindoro dan Sumbing hingga pengalaman terjatuh dari motor saat melewati medan pemetaan. Meskipun secara umum kondisi geologi Bruno tergolong sederhana, kegiatan pemetaan menunjukkan bahwa masih banyak hal menarik yang dapat ditemukan ketika kondisi wilayah diamati secara langsung.
Kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri 2026 di Kavling 66, Kabupaten Kebumen, menawarkan peluang yang berharga bagi mahasiswa Teknik Geologi guna mengaplikasikan pengetahuan geologi secara praktik di area kerja. Aktivitas ini dilaksanakan melalui observasi singkapan di berbagai titik pengamatan (STA), penentuan litologi, perekaman, dan pengukuran formasi geologi. Pemetaan dilaksanakan secara bertahap dari STA 1 sampai STA 115. Beragam jenis batuan berhasil ditemukan, dari batupasir berukuran very fine sand hingga coarse sand, batupasir karbonatan, tuf karbonatan, lanau, napal, sampai breksi dengan fragmen basalt dan andesit. Berdasarkan variasi litologi dan juga interpretasi lapangn, batuan-batuan tersebut termasuk ke dalam Formasi Halang (Tmph) dan Formasi Anggota Breksi Halang (Tmpb) yang kemudian dapat dipelajari melalui persebaran sifat batuan di zona pemetaan.
Kecamatan Sumpiuh, sebuah kecamatan di Kabupaten Banyumas, mungkin bagi banyak orang hanya terlihat sebagai daerah perbukitan biasa dengan sungai kecil dan permukiman warga yang tenang. Namun bagi penulis yang sedang melakukan pemetaan geologi mandiri di sana, daerah ini menyimpan cerita panjang tentang aktivitas gunung api purba yang pernah mengubah bentang alam kawasan Serayu Selatan jutaan tahun lalu.

Di bagian selatan area pemetaan, penulis menjumpai lokasi tambang nonaktif yang menyingkapkan breksi andesit dengan masa dasar batupasir tufan dan sisipan batulanau berlaminasi. Tidak jauh dari lokasi tambang, kami juga menjumpai kontak antara breksi andesit dan batulanau tepat di tepi sungai bagian selatan, yang kemungkinan menandai bidang perubahan energi pengendapan dari lingkungan yang lebih dekat sumber vulkanik menuju lingkungan yang lebih tenang. Menyusuri sungai lebih ke selatan, kami menemukan perselingan batulanau dan batulanau karbonatan dengan sisipan batupasir tufan.
Kuliah lapangan geologi di kawasan Karangsambung, khususnya di sekitar lintasan Banioro serta Pusat Riset Geologi BRIN, merupakan tonggak fundamental dalam memahami dinamika tektonik lempeng secara empiris di alam terbuka. Sebagai monumen geologi dan laboratorium alam terlengkap di Indonesia, kawasan ini merekam jejak tumbukan lempeng serta prisma akresi purba berumur Kapur Akhir hingga Paleogen. Berbasis di fasilitas stasiun riset BRIN, kegiatan ekskursi ini memadukan observasi lapangan langsung—mulai dari orientasi medan, pengukuran kedudukan struktur menggunakan kompas geologi, hingga rekonstruksi stratigrafi regional—sehingga konsep teoritis di ruang kuliah berpadu harmonis dengan fenomena geodinamika bumi yang sesungguhnya.
Kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri 2026 membawa saya ke perbukitan Kecamatan Kaliwiro, Wonosobo, kavling saya terdiri dari 6 formasi batuan, yaitu Formasi Waturanda (Tmw), Penosogan (Tmp), Halang (Tmph), Peniron (Tpp), Damar (Qtd), dan Ligung (Qtlb). Aktivitas pemetaan dilakukan dengan menelusuri lintasan sungai dan bukaan jalan untuk mengamati singkapan, mencatat litologi, dan menentukan hubungan antarformasi, yang kemudian disusun menjadi peta geologi permukaan kavling.
Fitur geologi lokal yang menonjol adalah kontras litologi : lima formasi (Waturanda, Halang, Peniron, Damar, Ligung) didominasi breksi, sementara Penosogan justru tampil berbeda dengan perlapisan batupasir karbonatan, batupasir, dan batulempung yang lebih halus dan berlapis rapi. Breksi andesit yang melimpah di kavling ini juga dimanfaatkan warga sebagai bahan bangunan (pondasi, batu tepi jalan, batu hias), namun morfologi perbukitan berlereng dengan tanah lempung berplastisitas tinggi membuat wilayah ini rawan gerakan tanah.

Kegiatan pemetaan geologi merupakan kegiatan yang termasuk dalam rangkaian kuliah lapangan yang wajib ditempuh oleh mahasiswa Teknik Geologi UGM. Setiap mahasiswa nantinya akan mendapatkan suatu kaveling dengan luas 5 x 5 km yang harus dipetakan fitur – fitur geologi yang ada pada wilayah tersebut. Salah satu wilayah yang dipetakan adalah daerah Desa Legetan, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo. Daerah ini memiliki banyak fitur – fitur geologi yang menarik untuk disingkap secara lebih dalam.
Unveiling Geological History through Mapping
The Kulon Progo Mountains constitute an area within the Special Region of Yogyakarta characterized by diverse geology and fascinating landscapes. The hills found here are not merely the product of erosion and weathering but are the result of a series of geological processes spanning millions of years. The variety of rock formations exposed in Kulon Progo offers an opportunity to understand how the region’s geological environment has evolved over time. The presence of volcanic rocks, andesite intrusions, and carbonate rocks serves as evidence that the area once experienced magmatic and volcanic activity before transitioning into a shallow marine environment.
Kendal mungkin lebih sering dikenal melalui hamparan sawah, perbukitan, dan jalan-jalan yang menghubungkan bagian utara hingga selatan Jawa Tengah. Namun, di balik bentang alam yang terlihat sederhana tersebut, tersimpan perjalanan geologi yang berlangsung selama jutaan tahun. Setiap perbukitan, lembah, dan singkapan batuan menjadi bagian dari cerita panjang yang membentuk wilayah ini hingga seperti sekarang. Secara fisiografis, daerah pemetaan saya berada di Zona Serayu Utara. Wilayah Sukodadi dan sekitarnya sendiri memiliki bentang alam yang cukup beragam, mulai dari perbukitan hingga daerah dengan kemiringan lereng yang cukup terjal. Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang paling terasa selama perjalanan pemetaan. Naik turun lereng, menyusuri jalan kecil, hingga mengikuti alur sungai membuat saya perlahan memahami bahwa bentuk permukaan bumi yang saya lihat ternyata memiliki hubungan erat dengan kondisi batuan dan struktur geologi di bawahnya. Penelitian di daerah ini menunjukkan adanya morfologi vulkanik dan fluvial dengan pola pengaliran subdendritik, yang memperlihatkan bagaimana proses geologi dan erosi bersama-sama membentuk bentang alam daerah ini.

Sekilas, Kaveling 96 mungkin bukan tempat yang akan langsung menarik perhatian. Bentang perbukitan, lembah, vegetasi, dan jalan-jalan kecil di Kecamatan Tambak dan sekitarnya, pada wilayah perbatasan Kebumen dan Banyumas, Jawa Tengah, terlihat begitu biasa. Tidak banyak singkapan besar, tidak banyak pula hal yang secara kasatmata tampak istimewa. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan cerita geologi yang jauh lebih tua dari keberadaan manusia. Jutaan tahun lalu, wilayah ini pernah menjadi bagian dari lingkungan laut. Sedimen dan material vulkanik diendapkan, mengalami litifikasi dan deformasi tektonik, hingga akhirnya terangkat menjadi daratan.