Dari Tumpahan Oli Hingga Teror Kera Dalam Dinamika “Ibadah” Wajib Anak Geologi Di Kota Semarang

Bagi mahasiswa Teknik Geologi UGM, semester 4 merupakan salah satu puncak dari kegiatan pembelajaran yang telah dilalui di dalam bangku perkuliahan untuk dipraktekkan secara langsung di lapangan.  Kuliah Lapangan atau biasa disebut KL merupakan suatu “ibadah” wajib terutama bagi mahasiswa Teknik Geologi. Kegiatan ini dibagi menjadi dua yaitu Kuliah Lapangan Geologi selama 12 hari di Bayat dan Pemetaan Geologi Mandiri pada masing-masing kavling di Zona Serayu. Awal semester 4 dimulai dengan pembagian kelompok KL pada bulan Februari yang menempatkan saya dengan 3 orang teman kelompok yaitu syafish, zahra, dan stefanie. Selain itu, undian kavling juga menempatkan kami berempat pada kavling yang berada di Kota Semarang, Jawa Tengah. Selama satu semester kami seringkali bertemu untuk saling berdiskusi dan mengerjakan penugasan mata kuliah Metode Geologi Lapangan.

Tak terasa, semester 4 berakhir pada bulan Juni dengan sangat cepat, angkatan 24 yang akan melaksanakan KL Bayat pada bulan itu pun merasakan rasa yang campur aduk antara siap dan tidak siap. Setelah dijalani, ternyata waktu di Bayat berputar terasa sangat lama. Singkat cerita, kami menamatkan perjalanan 12 hari dengan lancar tanpa halangan. Beberapa hari setelah pulang dari Bayat, kami menghubungi kontak pemilik pondokan yang akan ditinggali selama di Semarang. Dengan kagetnya, secara tiba-tiba dan tanpa konfirmasi dengan kami, pemiliknya ternyata sudah menyewakan pondokan tersebut kepada orang lain. Rasa kesal dan marah tentu kami rasakan saat itu, tanggal yang sudah kami rencanakan untuk berangkat terpaksa kami undur dan atur ulang untung mencari pondokan lagi diwaktu yang dadakan tersebut. Tanpa pikir panjang, kami bertiga yang kebetulan jadwalnya kosong langsung berangkat pagi dari Jogja ke Semarang melakukan perjalanan singkat dalam sehari dalam misi mencari pondokan.

Usaha memang tidak menghianati hasil, setelah berkeliling di beberapa kelurahan, akhirnya kami mendapatkan pondokan di area Kedungpane. Awalnya kami mengunjungi kantor kelurahan untuk menanyakan rumah yang sekiranya dapat ditempati selama pemetaan, dan setelah diberikan akses ke pondokan tersebut, kami memutuskan untuk memilih tempat tersebut. Tak lama berdiskusi, pada sore harinya terjadi kesepakatan dengan pemilik pondokan dan akhirnya kami langsung pulang ke Jogja, perjalanan singkat tapi cukup melelahkan. Setelah beberapa hari menyiapkan peralatan dan barang untuk pemetaan, kami berangkat berdelapan masing-masing dengan satu porter naik motor ke Semarang dengan berboncengan, sedangkan barang-barang diangkut dengan mobil pick up. Hari sial memang tidak ada di kalender, tinggal berapa ratus meter sampai ke pondokan, tumpahan oli membanjiri jalan, tak lama motor yang ada di depan jatuh tepat di depanku, reflek langsung menghentikan dengan rem, tapi motor malah berbalik arah dan terpeleset hingga kami “tidur” bersama motor. Kebetulan, warga yang ada di sekitar sigap dan langsung menolong kami serta memberi pasir di tumpahan oli. Karena tidak terlalu parah, kami melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal beberapa meter, tak lama setelahnya, damkar datang dan membersihkan jalanan tersebut dari oli dengan semburan air yang deras.

Hari pertama diawali dengan beres-beres pondokan dan barang yang telah tiba, lalu kami berkeliling untuk memahami jalan dan area kavling yang akan kami petakan. Esoknya, kami tidak langsung melakukan pemetaan, tetapi reconnaissance bersama dosen pembimbing. Pemetaan hari pertama dilakukan keesokan harinya pada kavling masing-masing. Tiap orang ditemani oleh seorang porter yang berasal dari angkatan 25. Pada kavling 119, mayoritas disusun oleh dua formasi yang dominan yaitu Damar dan Kaligetas, serta dua formasi di sebagian kecil berupa Kerek dan Kalibeng. Dua formasi utama penyusun berisi batuan vulkanik berumur Kuarter berupa batuan breksi, konglomerat, tuf, dan batupasir tufan. Sedangkan Formasi Kerek berumur Miosen yang tersusun oleh batulanau karbonatan dan batulempung. Pada kavling ini, Formasi Kerek ditemukan di area kecil yang sebagian tertutup oleh Waduk Jatibarang. Sedangkan Formasi Kalibeng disusun oleh batupasir tufan dengan besar sudut kemiringan lapisan cukup tegak mendekati 90.

Kavling 119 berada di kawasan yang padat penduduk dan industri karena termasuk dalam Kota Semarang. Hal ini cukup menyulitkan dalam mencari sebuah singkapan di area kavling. Selain itu, kontur daerah ini relatif naik turun dan terdapat pemukiman padat penduduk yang rawan longsor maupun tanah bergerak sehingga perlu diwaspadai pula untuk warga yang tinggal di area tersebut. Namun, daerah ini juga memiliki tempat wisata yang cukup terkenal berupa waduk dan goa yang berada dalam satu kawasan. Goa Kreo berada di sebuah pulau di tengah Waduk Jatibarang yang dominan tersusun oleh konglomerat, uniknya kawasan ini banyak dipenuhi oleh kawanan kera yang tinggal di sana. Cerita unik, saat melakukan pemetaan di dekat waduk yang kebetulan merupakan area tampalan dengan kavling stefanie, kami tiba-tiba dikerumuni kawanan kera seolah-olah kami telah memasuki kawasan territorial mereka. Tentu panik yang kami rasakan, tetapi mencoba untuk tenang. Kaki saya sempat ditarik oleh seekor kera berukuran besar, hal itu menjadi salah satu momen yang menegangkan selama pemetaan mandiri. Sambil berjalan pelan keluar dari area tersebut, akhirnya kami bisa bebas dari kerumunan kera dengan selamat. Pemetaan pun berlanjut setelah itu hingga hari terakhir. Menjelang pemetaan berakhir, kami diundang oleh Pak RT setempat untuk membantu mempersiapkan hiasan berupa bendera atau biasa disebut “umbul-umbul” untuk dipasang di pinggir jalan. Kegiatan ini juga membantu kami untuk bersosialisasi dengan warga setempat karena sering mengira kami itu mahasiswa yang sedang melakukan KKN. Tak banyak yang bisa kami berikan, tapi setidaknya menjaga silaturahmi dengan warga sekitar sangat diperlukan karena di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung. Akhir kegiatan pemetaan dilakukan dengan checking, kebetulan dilakukan di hari itu saya ada jadwal mengikuti perlombaan secara daring. Alhasil saya hanya mengikuti checking setelah lomba selesai pada siang hari. Karena semua telah berjalan lancar, pemetaan pun selesai dan kami kembali lagi ke Jogja beberapa hari setelahnya untuk menyiapkan sampel yang akan dipreparasi. Sebelum menutup akhir dari cerita, saya ucapkan terima kasih terutama untuk porter yaitu Gibral, serta teman-teman Kelompok B6 yaitu syafish, zahra, stefanie yang telah menemani perjalanan dalam KL baik di Bayat maupun di Semarang.

Penulis: Fatecha Tirta Yudha

 

Humas Departemen | Oktober 2026