Dengan Cinta, Mengenang Nebula

Nebula, Tinggal Kenangan (Anif Punto Utomo (Geo-1983))

“Mas Bagyo mengusulkan nama Nebula.” Kalimat itu disampaikan Bambang Tri Wahyono (BTW-angkatan 1980) saat rapat HMTG pertengahan 1981. Mas Bagyo yang dimaksud adalah Subagyo Pramumijoyo (1972) waktu itu dosen muda di Teknik Geologi.

Mengapa diberi nama Nebula? Filosofinya, nebula adalah teori kabut pembentukan bumi, sementara apa yang dipelajari geologi adalah tentang bumi. Penerbitan Nebula terinspirasi dari majalah Gea ITB yang diterbitkan mahasiswa Teknik Geologi ITB dan Clapeyron yang diterbitkan mahasiswa Teknik Sipil UGM.

Keinginan menerbitkan Nebula diawali saat HMTG merayakan tumpengan memperingati ulang tahunnya di Laboratorium Geodinamis.€ Subagyo, yang hadir di acara itu melontarkan gagasan agar HMTG membuat majalah atau buletin sebagai ajang komunikasi dan informasi keilmuan antarmahasiswa, dosen, alumni.

Gagasan itu klop dengan HMTG yang juga berpikiran menerbitkan majalah. Dua bulan sebelumnya, Nandang Heriyadi (1978) mengajak BTW mengikuti pelatihan jurnalistik yang diadakan majalah Clapeyron. Setelah ikut pelatihan itulah terbetik keinginan menerbitkan majalah.

Berikutnya pada Juli 1981, Subagyo mengumpulkan beberapa aktivis mahasiswa untuk mengeksekusi gagasannya. Saat itu yang hadir ketua HMTG Hariyadi (1976), Subeno (1976), Sujarwo (1975), Sandiwan (1975), Nandang (1978), Yusmawan (1976), Benny Prim (1978), Djarot Pratjoyo (1979), Mamed Roseno (1979), Puji Pratiknyo (1979), dan BTW.

Pertemuan demi pertemuan dilakukan untuk mematangkan penebitan. Materi yang dibahas mulai dari nama, logo, karakter penulisan, format majalah atau buletin, dan personel pengelola. Akhirnya disepakati, nama Nebula dan dalam format majalah.

Ketua Jurusan Teknik Geologi UGM sebagai pelindung. Penasehat adalah Wartono Rahardjo dan Subagyo. Di jajaran pengelola, penanggungjawab adalah Ketua HMTG. Dewan redaksi: Nandang Heriyanto, Subeno, Sandiwan, dan Sudjarwo. Reporter: Bambang Tri Wahyono, Puji Pratiknyo, Mamed Roseno, dan Yusmawan. Layout dan Artistik Benny Prim dan Djarot Pratjoyo. Pembantu umum Kamawan, dan sebagai distributor Ichsan Effendi.

September 1981 Nebula terbit. Kalau saja saat itu sudah ada lagu ‘September Ceria’ yang dinyanyikan Vina Panduwinata, mungkin pengelola Nebula akan koor menyanyikannya bersama untuk menyambut Nebula edisi perdana. Nebula terus eksis. Regenerasi juga berlangsung. Setelah pengelola generasi pertama, berikutnya pegurus Nebula adalah Puji Pratiknyo yang dibantu rombongan angkatan 1981 yakni Gontho, Kusumastono, Tyas Timur, dan Achmad Bunyanuddin.

Anif Punto Utomo (Geo-1983)

Kehadiran Nebula secara perlahan mulai diakui oleh lembaga di luar. Terbukti pada 1983, Achmad Bunyanuddin ditugaskan ke Pulau Rakata untuk meliput kegiatan 100 Tahun Letusan Krakatau bersama rombongan Direktorat Vulkanologi Bandung.

Ketika Teknik geologi pindah dari Jetis ke Jl Flora, sekitar 1986-1987, redaksi Nebula dinahkodai oleh Anif Punto Utomo, Susidarto, Sukmandaru. Di bagian sirkulasi, layout, cetak dan keuangan ada Andri Subandriyo, Ari Samodra, Kuncoro, Anton Supriyono, Baskoro, Imron, Adi Maryono, Ilyas, dan Aji Prihananto. Pada periode ini Nebula terbit tiga kali. Dana diambil dari iuran mahasiswa yang dikenakan saat pendaftaran ulang.

Ketika kampus pindah dari Flora ke Grafika, Nebula tetap tebit. Masing masing ketua himpunan dan pengelola Nebula memiliki strategi sendiri sendiri agar majalah kebanggaan mahasiswa Geologi itu tetap eksis.

Syahdan, ketika akan menebitkan edisi terbaru pada tahun 2007, terdengar kabar Nebula sudah dipatenkan. Usut punya usut ternyata salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta yang telah mematenkan nama Nebula sebagai sebuah majalah.

Tak ada pilihan lain, majalah harus berganti nama. Maka dari hasil diskusi di himpunan, dipilihkan nama ‘Loup’. Sejak 2007 itu, majalah Nebula yang diterbitkan HMTG tinggallah kenangan.

*Tulisan ini di-rewrite dari salah satu tulisan di buku “Told and Untold Story Teknik Geologi UGM”.

 

Sumber: Buletin DTGL http://ugm.id/STRATAEDISIPERDANA