Ketika Perjalanan Karier Tidak Selalu Berjalan Sesuai Rencana
Kalimat tersebut sedikit banyak menggambarkan perjalanan karier Pak Herki Priambodo (Geo-98) di bidang geologi. Kariernya dimulai di Total E&P Indonesie, Balikpapan sebagai seorang wellsite geologist pada tahun 2003. Kariernya di industri oil and gas kemudian berlanjut di beberapa perusahaan besar lainnya selama lebih dari satu dekade.
Pada tahun 2014, krisis harga minyak membawa dampak yang signifikan terhadap industri. Kondisi tersebut turut mengubah perjalanan karier Pak Herki. Oleh karena itu, pada tahun 2016, beliau harus mengakhiri kariernya di perusahaan tempatnya bekerja. Perubahan besar tersebut menempatkan beliau dalam survival mode. Awalnya, beliau mencoba untuk tetap bertahan sebagai operation geologist dan bekerja secara project by project. Namun, kenyataannya, kesempatan project tidak selalu ada. Situasi inilah yang menyebabkan Pak Herki menapaki perjalanan baru sebagai seorang entrepreneur.
Peralihan tersebut tentu tidak terjadi dengan mudah. Bersama istrinya, Bu Fenny Thamba (Geo-98), Pak Herki mencoba berbagai bidang usaha sebelum akhirnya menemukan arah yang paling sesuai dengan kompetensi dan pengalaman yang mereka miliki. Keduanya memutuskan untuk membangun usaha yang tetap memiliki keterkaitan dengan dunia profesional yang selama ini digeluti, yaitu Laboratorium Pengujian Independen yang menyediakan analisis dan pengujian mineral berbagai komoditas pertambangan.
Dari perjalanan ini, Pak Herki mendapatkan sebuah pelajaran penting, bahwa dalam menghadapi perubahan, seseorang tidak hanya mengandalkan satu kemampuan. Menurutnya, memiliki pondasi ilmu yang kuat menjadi salah satu modal yang penting untuk menghadapi berbagai perubahan. Transisi menjadi seorang entrepreneur tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga waktu, kesiapan mental dan sumber dana. Seorang entrepreneur harus bisa memahami perkembangan trend, mengetahui arah perkembangan industri, serta selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan regulasi. Dengan demikian, seseorang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi yang selalu dinamis.
Dari pengalamannya sebagai seorang profesional, Pak Herki melihat bahwa mahasiswa, kampus, dan alumni sering kali berjalan sendiri-sendiri. Padahal, jika digabungkan untuk membentuk suatu ekosistem yang saling terhubung dalam dunia profesional, ketiganya berpotensi besar. Kesadaran akan pentingnya keterhubungan antara mahasiswa, kampus, dan alumni ini ternyata juga berkembang di kalangan temanteman KAGEOGAMA (Keluarga Alumni Teknik Geologi Gadjah Mada). Dari kesamaan pemikiran inilah kemudian lahir sebuah gagasan bernama GeoLink, sebuah badan usaha di bawah naungan KAGEOGAMA dan dimiliki oleh Koperasi KAGEOGAMA.
Penulis: Pia (Geo-24), Brenda (Geo-25), Avi (Geo-07)
Sumber: https://geologi.ugm.ac.id/edisi-juli-agustus-2026-exploring-frontiers-of-geology/