Memasuki semester ke-4 dalam bangku perkuliahan di Universitas Gadjah Mada memiliki tantangan tersendiri, terutama bagi kami di jurusan Teknik Geologi. Sebab, pada semester ini kami perlu menghadapi Kuliah Lapangan yang disebut-sebut sebagai titik terendahnya mahasiswa geologi. Kuliah Lapangan dibagi menjadi två pemetaan, yaitu Kuliah Lapangan Bayat dan Kuliah Lapangan Mandiri. Untuk lokasi pemetaan mandiri dibagi secara perorangan dengan luas 4 × 5 km, dengan fokus persebaran pada Zona Serayu Selatan. Saya sendiri mendapatkan kaveling nomor 26 yang berlokasi di Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo. Apabila dilihat dari Peta Geologi Regional yang dibuat oleh Asikin dkk. (1992), kaveling 26 tersusun oleh dua formasi, yakni Formasi Halang dan Anggota Tuf Formasi Waturanda, sehingga asumsi awal akan didapati batupasir, tuf, batugamping, dan batuan vulkanik.

Kuliah lapangan kelompok B9 dimulai dari tanggal 8 Agustus 2026 hingga 25 Agustus 2026 dengan perkiraan hari aktif pemetaan sebanyak 10 hari. Kaveling 26 sendiri tersusun dari morfologi sungai dengan teras purba yang cukup luas ke arah barat Kali Kemecing, punggungan homoklin, perbukitan antiklin, dan punggungan piroklastik. Pemetaan mandiri saya dimulai dari Desa Gadingsukuh dan mengular ke utara menuju Desa Kalikarung, lalu berakhir kembali di Desa Gadingsukuh.
Persebaran litologi pada Formasi Halang didominasi oleh batupasir dan batupasir tufan, serta pada sungai didapati perlapisan allochemic sandstone dengan sisipan konglomerat dan coquina. Sementara itu, pada Anggota Tuf Formasi Waturanda didominasi oleh tuf dan lapili tuf, serta didapati pula breksi andesit dari Formasi Waturanda pada puncak Bukit Bujel. Pada kaveling 26 juga didapati struktur lipatan berupa antiklin pada bagian utara kaveling dan sesar geser sinistral yang mengontrol pola aliran sungai.

Kondisi geologi pada Kaveling 26 ini juga menyimpan berbagai potensi sumber daya geologi dan terapan yang cukup signifikan. Endapan teras purba yang luas di sepanjang Kali Kemecing berpotensi sebagai akuifer air tanah dangkal serta endapan aluvial berupa pasir dan batuan beku yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan bahan bangunan lokal. Selain itu, batuan beku dan piroklastik berupa breksi andesit di puncak Bukit Bujel serta unit batupasir memiliki nilai ekonomis sebagai bahan galian konstruksi. Dari sisi geologi lingkungan, identifikasi kemiringan lereng pada punggungan homoklin dan zona struktur sesar geser sangat krusial sebagai dasar zonasi potensi bencana longsor di daerah Kepil.
Penulis: Farros Rumi
Humas Departemen | Oktober 2026