Penulis: Najwa Millati Azka
Pemetaan Geologi merupakan salah satu mata kuliah wajib di Program Studi Teknik Geologi UGM, yang dilaksanakan pada semester lima. Sebelum terjun ke lapangan secara mandiri, mahasiswa dibekali teori dan praktik lapangan melalui mata kuliah Metode Geologi Lapangan di semester empat, serta Kuliah Lapangan di Kampus Lapangan Geologi UGM yang ada di Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah atau sering disebut KL Bayat. Pada KL Bayat, mahasiswa berlatih melakukan pemetaan dengan sistem buddy dengan salah satu teman kelompok yang telah dibagi secara undian di awal semester empat. Selama KL Bayat kami-mahasiswa melakukan pemetaan di lintasan yang telah ditentukan, serta pemetaan kavling mandiri. Setelah di siang hari melakukan pekerjaan lapangan, pada malam hari selama KL bayat aka nada ujian petrologi dan struktur, serta pembuatan laporan harian hasil dari pekerjaan lapangan pada hari itu. KL Bayat diakhiri dengan pembuatan dan presentasi poster manual hasil pemetaan pada kavling kelompok.




Pemetaan dilakukan secara individu berdasarkan kavling undian yang telah diperoleh sebelumnya, dengan luas masing-masing 4 × 5 km. Kegiatan pemetaan mandiri ini berlokasi di Desa Ketringan–Jlodro dan sekitarnya, Kecamatan Jiken–Kenduruan, Kabupaten Blora–Tuban, Provinsi Jawa Tengah–Jawa Timur. Wilayah ini termasuk dalam Zona Rembang yang didominasi oleh batuan sedimen berumur Tersier. Kegiatan pemetaan berlangsung hampir satu bulan, yaitu dari tanggal 30 Juni hingga 26 Juli 2025. Selama kegiatan lapangan, mahasiswa melakukan berbagai aktivitas seperti mengidentifikasi persebaran batuan, menentukan jenis serta kontak antar batuan yang terdapat di daerah tersebut, dan menafsirkan batas penyebaran jenis batuan di lapangan. Selain itu, mahasiswa juga berusaha menemukan struktur geologi yang berkembang di lokasi pemetaan, seperti patahan maupun lipatan. Seluruh data yang diperoleh kemudian diolah dan disusun menjadi sebuah peta akhir yang disebut Peta Geologi. Selain itu, karena kegiatan pemetaan dilakukan di sekitar pemukiman warga, para mahasiswa dapat berinteraksi dengan baik bersama masyarakat desa. Warga menyambut kami, para mahasiswa, dengan senyuman hangat saat melintas di jalanan desa. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri karena mempermudah kami dalam mencari akses menuju lokasi titik pemetaan.