Departemen Teknik Geologi menyelenggarakan kegiatan fieldtrip pada hari Sabtu, 25 April 2026 dalam rangka praktikum mata kuliah Geomorfologi dan Penginderaan Jauh bagi mahasiswa program sarjana (S1), serta sebagai bagian dari penguatan materi mata kuliah Geomorfologi pada program defisiensi Program Studi Magister. Kegiatan ini diikuti oleh 158 mahasiswa S1 dan 7 mahasiswa program magister, serta didampingi oleh 15 asisten lapangan. Fieldtrip ini berada di bawah bimbingan dosen pengampu, yaitu Ir. Gayatri Indah Marliyani, S.T., M.Sc., Ph.D., IPM. dan Dr. Ir. Yan Restu Freski, S.T., M.Eng., IPM., yang secara langsung mengarahkan jalannya kegiatan akademik di lapangan.
SDG 14: Ekosistem Lautan
Penulis: Wahyu Puji Intansari

Tim mahasiswa Departemen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada telah menyelesaikan kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri 2025 di Kecamatan Parengan dan Soko, Tuban, Jawa Timur. Selama 14 hari, dari 2 Juli hingga 15 Juli 2025, saya melakukan pemetaan pada kavling seluas 4×5 kilometer yang didominasi oleh medan berat dan menantang. Sekitar 50% area pemetaan berupa ladang jagung dan persawahan berlumpur, diselingi perbukitan batugamping dengan lereng curam yang memiliki kemiringan 56-140%.
Penulis: Tattaquna Ghulam Winuyaka

Wilayah Eksplorasi Kami: Parengan, Tuban
Parengan, sebuah kecamatan di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, mungkin sekilas terlihat seperti kawasan pedesaan biasa yang tenang. Namun, di balik perbukitan dan lahan pertaniannya, tersimpan sejarah panjang bumi yang terekam dalam batuan sedimen berumur Miosen hingga Pliosen. Daerah ini menjadi lokasi kuliah lapangan kami selama 20 hari, sebuah perjalanan yang bukan hanya mengasah keterampilan geologi, tetapi juga membentuk cara pandang saya terhadap kehidupan dan masyarakat.
Penulis: Iqbal Arridho Firdaus

Siapa sangka ratusan hektar ladang jagung ini dulunya adalah habitat bagi beberapa biota laut. Benar, kalian tidak salah dengar. Sekitar 20 juta tahun lalu atau saat kala Miosen Awal, wilayah ini merupakan lautan dan dihuni oleh beragam biota laut. Kenampakan seperti terumbu karang dapat ditemukan dengan mudah disini. Wilayah ini terletak di Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah. Mendengar kata Rembang tentunya identik dengan RA. Kartini, sang pahlawan emansipasi Wanita Indonesia, lokasi dimana beliau dimakamkan.
Penulis: Bella Natasha Dwina Hutapea
Pemetaan Geologi Mandiri tahun 2025 menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa Departemen Teknik Geologi untuk mengasah keterampilan kerja lapangan sekaligus memahami karakter geologi daerah secara langsung. Kegiatan ini saya lakukan di Zona Rembang, tepatnya di kavling 128 yang terletak di Desa Wukirsari, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati. Lokasi ini berada pada bagian sayap utara suatu antiklin, dengan morfologi khas berupa kuesta, homoklin, dan hogback yang membentuk deretan bukit memanjang. Lanskapnya menampilkan perbedaan lereng yang mencolok antara sisi yang curam dan sisi yang landai, memberikan gambaran yang jelas tentang hubungan antara struktur geologi dan bentuk lahan. Medan seperti ini menjadi tantangan tersendiri, karena jalur lintasan lapangan harus menyesuaikan kemiringan bukit dan akses menuju singkapan batuan yang terkadang tersembunyi di antara vegetasi lebat.
Penulis: Gabriella Hardinsti Sitorus
Pemetaan dilakukan secara individu berdasarkan kavling undian yang telah diperoleh sebelumnya, dengan luas masing-masing 4 × 5 km. Kegiatan pemetaan mandiri ini berlokasi di Desa Ketringan–Jlodro dan sekitarnya, Kecamatan Jiken–Kenduruan, Kabupaten Blora–Tuban, Provinsi Jawa Tengah–Jawa Timur. Wilayah ini termasuk dalam Zona Rembang yang didominasi oleh batuan sedimen berumur Tersier. Kegiatan pemetaan berlangsung hampir satu bulan, yaitu dari tanggal 30 Juni hingga 26 Juli 2025. Selama kegiatan lapangan, mahasiswa melakukan berbagai aktivitas seperti mengidentifikasi persebaran batuan, menentukan jenis serta kontak antar batuan yang terdapat di daerah tersebut, dan menafsirkan batas penyebaran jenis batuan di lapangan. Selain itu, mahasiswa juga berusaha menemukan struktur geologi yang berkembang di lokasi pemetaan, seperti patahan maupun lipatan. Seluruh data yang diperoleh kemudian diolah dan disusun menjadi sebuah peta akhir yang disebut Peta Geologi. Selain itu, karena kegiatan pemetaan dilakukan di sekitar pemukiman warga, para mahasiswa dapat berinteraksi dengan baik bersama masyarakat desa. Warga menyambut kami, para mahasiswa, dengan senyuman hangat saat melintas di jalanan desa. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri karena mempermudah kami dalam mencari akses menuju lokasi titik pemetaan.
Penulis: Fareza Azkiya Mukti
“Kuliah” dan “Lapangan”, adalah dua kegiatan yang akrab dilakukan oleh mahasiswa Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM). Senang atau sedih, berhasil atau mengulang, mahal atau murah tidak lagi menjadi pikiran bagi mereka yang menjalani pemetaan ini dengan gertakan dari hati. Selama hampir tiga minggu, saya dengan teman kelompok 18 menjalani Kuliah Lapangan Geologi, atau sering dikenal orang sebagai KLG, Pemetaan Geologi Mandiri di Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora. Setiap pagi, saya harus menempuh perjalanan sejauh 6 kilometer dari pondokan kami di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, melintasi jalan berbatu sebelum akhirnya tiba di kaveling. Medan ini tidak pernah memberi kemudahan—namun justru di situlah letak tantangannya.
Penulis: Affe Tegar Eka Ramadhani
Kabupaten Blora, khususnya Kecamatan Jiken, merupakan bagian dari cekungan Rembang yang dikenal memiliki keragaman stratigrafi dan potensi sumber daya alam, terutama sektor minyak bumi. Pemetaan geologi mandiri tahun 2025 di kawasan ini menjadi sangat penting, seiring tuntutan perkembangan ilmu kebumian dan kebutuhan pengelolaan sumber daya berbasis karakter batuan secara presisi. Fokus kajian ini adalah karakteristik batuan yang termasuk dalam Formasi Wonocolo, Ledok, dan Mundu yang secara stratigrafi menyusun urutan utama batuan sedimen di wilayah ini.
Penulis: Andrew Hanan Pasha
Di balik peta geologi yang kita lihat di dinding ruang kuliah atau laporan teknis, selalu ada cerita panjang di lapangan—cerita tentang medan yang harus dilalui, batuan yang diamati, hingga interaksi dengan masyarakat setempat. Pemetaan geologi yang dilakukan di Desa Tegalrejo, Dokoro, Karangasem, Sumberagung, Pelemsengir, dan Maitan—mencakup Kecamatan Wirosari, Ngaringan, Tambakromo, dan Todanan—bukan hanya upaya akademis, melainkan juga langkah nyata untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Kegiatan ini melibatkan area seluas 4 × 5 km dengan skala 1:25.000, memadukan analisis data DEM untuk peta topografi dan observasi langsung di lapangan. Data yang dikumpulkan mencakup paleontologi, petrologi, stratigrafi, dan struktur geologi, membentuk gambaran menyeluruh tentang kondisi geologi lokal.
Penulis: Rian Toni Eka Saputra
Daerah Pati–Grobogan, Jawa Tengah, terletak pada jalur lipatan dan sesar berarah barat–timur yang menjadi bagian dari zona Kendeng–Rembang di belakang busur vulkanik Jawa. Secara fisiografi, wilayah ini memperlihatkan peralihan morfologi yang jelas: di bagian utara–timur berkembang perbukitan kapur (karst) yang terjal dengan puncak–puncak terisolasi, dolina, dan gua yang terbentuk pada batu gamping masif dan berlapis, sedangkan di bagian tengah hingga selatan, khususnya di Grobogan, mendominasi perbukitan lempung–napal berlipat dengan lereng landai hingga sedang. Dari sudut pandang tektonik, daerah ini mengalami pengaruh kompresi berulang akibat subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia di selatan Jawa, yang memunculkan sistem lipatan antiklin–sinklin berarah barat–timur, sesar naik, dan sesar oblik. Zona Rembang di timur Pati tersusun terutama oleh batu gamping yang membentuk bukit-bukit karst Sukolilo, Kayen, dan sekitarnya. Zona Kendeng di Grobogan dan selatan Pati terdiri dari batulempung, napal, , dan wackestone, yang menunjukkan pengaruh sedimen karbonat.