Departemen Teknik Geologi menyelenggarakan kegiatan fieldtrip pada hari Sabtu, 25 April 2026 dalam rangka praktikum mata kuliah Geomorfologi dan Penginderaan Jauh bagi mahasiswa program sarjana (S1), serta sebagai bagian dari penguatan materi mata kuliah Geomorfologi pada program defisiensi Program Studi Magister. Kegiatan ini diikuti oleh 158 mahasiswa S1 dan 7 mahasiswa program magister, serta didampingi oleh 15 asisten lapangan. Fieldtrip ini berada di bawah bimbingan dosen pengampu, yaitu Ir. Gayatri Indah Marliyani, S.T., M.Sc., Ph.D., IPM. dan Dr. Ir. Yan Restu Freski, S.T., M.Eng., IPM., yang secara langsung mengarahkan jalannya kegiatan akademik di lapangan.
Kegiatan dilaksanakan di beberapa lokasi di Daerah Istimewa Yogyakarta yang merepresentasikan keragaman proses geomorfik, mulai dari sistem fluvial, struktural, karst, hingga eolian pesisir. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pengenalan bentuklahan (morfotipe), tetapi juga menekankan pemahaman terhadap proses pembentuknya (morfogenesis). Dalam perspektif geomorfologi, setiap bentanglahan merupakan hasil interaksi kompleks berbagai proses yang berlangsung dalam suatu sistem berantai (cascade system). Proses-proses tersebut dikendalikan oleh berbagai faktor seperti litologi, struktur geologi, iklim, topografi, vegetasi, dan waktu, yang secara kolektif membentuk karakteristik lanskap yang diamati saat ini.
Melalui fieldtrip ini, mahasiswa diajak untuk mengintegrasikan hasil interpretasi penginderaan jauh dengan observasi langsung di lapangan. Pendekatan ini memungkinkan peserta untuk memahami bahwa tidak ada satu bentuklahan pun yang terbentuk oleh satu proses tunggal, melainkan oleh interaksi berbagai agen geomorfik seperti air, angin, dan gravitasi yang bekerja secara simultan.

Lokasi pertama merupakan titik pertemuan dua sungai besar di Yogyakarta, yaitu Sungai Opak dan Sungai Oyo. Sungai Opak berhulu di lereng Gunung Merapi, sedangkan Sungai Oyo berasal dari kawasan Gunungkidul. Perbedaan sumber dan kondisi geologi menyebabkan kedua sungai memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari segi debit, energi aliran, maupun material sedimen yang diangkut. Pada lokasi ini, mahasiswa mengamati pengaruh struktur geologi berupa Sesar Opak terhadap perkembangan morfologi sungai. Selain itu, dilakukan pengamatan terhadap litologi breksi vulkanik Formasi Nglanggeran yang mengontrol terbentuknya jeram dan dominasi erosi vertikal pada Sungai Oyo. Sebaliknya, Sungai Opak yang mengalir di atas endapan vulkanik Merapi menunjukkan karakter aliran yang berbeda. Interaksi kedua sistem sungai ini menghasilkan dinamika geomorfik yang kompleks pada zona tempuran.

Pengamatan kedua dilakukan di atas Bukit Dermo yang menitikberatkan pada morfologi struktural Igir Sudimoro serta keterkaitannya dengan bentanglahan karst Gunung Sewu. Dari titik ini, mahasiswa melakukan interpretasi visual terhadap variasi morfologi, seperti puncak-puncak yang relatif rata, lereng terjal, hingga lereng bergelombang (undulated slopes).
Bentanglahan di lokasi ini menunjukkan indikasi proses peneplainisasi pada Formasi Nglanggeran. Selain itu, Bukit Dermo diinterpretasikan sebagai spur yang ditandai dengan keberadaan triangular facet pada bagian bawahnya, yang mencerminkan kontrol struktur geologi terhadap pembentukan topografi.

Lokasi ketiga berada di Danau Dendengwelut, Panggang, Gunungkidul. Lokasi ini merepresentasikan bentanglahan karst khas Gunung Sewu yang berkembang pada batugamping Formasi Wonosari. Berdasarkan observasi lapangan dan interpretasi citra satelit, cekungan yang terisi air di lokasi ini diidentifikasi sebagai uvala, yaitu gabungan beberapa doline yang berkembang menjadi cekungan yang lebih luas. Pengamatan ini memberikan pemahaman mengenai proses pelarutan (karstifikasi) sebagai agen utama pembentuk bentanglahan karst, serta bagaimana faktor litologi dan struktur batuan memengaruhi perkembangan morfologi permukaan.

Lokasi terakhir berada di Pantai Widuri, memperlihatkan transisi bentanglahan dari lingkungan pesisir ke sistem eolian. Mahasiswa mengamati struktur sedimen seperti ripple serta dinamika proses pantai, termasuk swash zone. Selain itu, dilakukan pengamatan terhadap gumuk pasir yang terbentuk akibat interaksi antara suplai sedimen, arah dan kecepatan angin, serta kondisi vegetasi. Gumuk pasir di kawasan ini dikategorikan sebagai gumuk pasir tipe barchan. Perubahan morfologi dari bentanglahan pesisir menuju bentanglahan eolian di lokasi ini menunjukkan keterkaitan erat antara proses marin dan atmosferik dalam membentuk bentanglahan.

Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu mengintegrasikan konsep teoretis dengan kondisi nyata di lapangan. Setiap lokasi pengamatan menonjolkan proses tertentu, namun secara keseluruhan menunjukkan bahwa bentanglahan merupakan hasil interaksi multi-proses yang saling berkaitan. Fieldtrip ini menjadi sarana penting untuk melatih kemampuan analisis geomorfologi, sekaligus memperkuat pemahaman bahwa setiap bentuklahan menyimpan rekaman proses geologi yang panjang dan kompleks.
Penulis: Vidya Syarifah
Foto: Yuki Revianka, Vidya Syarifah, Irvan Lubis
Humas Departemen | April 2026