Penulis: Ghazy Ijlal Rafif
Kegiatan pemetaan geologi mandiri yang berlokasi di Desa Semanggi dan sekitarnya, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, Jawa Tengah ini lebih tepatnya di kaveling 123 dengan pengerjaan selama kurang lebih 3 minggu dilakukan supaya para peserta dapat memetakan area tersebut meliputi litologi penyusunnya, struktur mayor maupun minor yang terdapat pada Lokasi tersebut, geomorfologi, dan sumber daya alam terlebih sektor kehutanan dan juga migas yang terdapat pada kaveling 123 ini. Selama melakukan pemetaan mandiri ini kami menetap di Desa Nglobo dikediaman Bapak Joko yang terletak disebelah masjid desa sehingga memudahkan para peserta kelompok yang beragama muslim untuk melakukan ibadah. Selain tempat ibadah kediaman ini juga dekat dengan warung untuk kami membeli kebutuhan dan juga pom mini untuk bahan bakar kendaraan kami sebagai peserta pemetaan. Saya sendiri melakukan kegiatan pemetaan ini pada setiap hari senin hingga sabtu yang kemudian dihari minggu saya gunakan untuk istirahat. Selama pemataan saya menggunakan kendaraan motor untuk area yang dapat diakses menggunakan motor apabila medan tidak memadai menggunakan motor maka saya akan berjalan kaki (tracking) untuk menelusuri area tersebut untuk mengcover kaveling.
Pemetaan dilakukan secara individu berdasarkan kavling undian yang telah diperoleh sebelumnya, dengan luas masing-masing 4 × 5 km. Kegiatan pemetaan mandiri ini berlokasi di Desa Ketringan–Jlodro dan sekitarnya, Kecamatan Jiken–Kenduruan, Kabupaten Blora–Tuban, Provinsi Jawa Tengah–Jawa Timur. Wilayah ini termasuk dalam Zona Rembang yang didominasi oleh batuan sedimen berumur Tersier. Kegiatan pemetaan berlangsung hampir satu bulan, yaitu dari tanggal 30 Juni hingga 26 Juli 2025. Selama kegiatan lapangan, mahasiswa melakukan berbagai aktivitas seperti mengidentifikasi persebaran batuan, menentukan jenis serta kontak antar batuan yang terdapat di daerah tersebut, dan menafsirkan batas penyebaran jenis batuan di lapangan. Selain itu, mahasiswa juga berusaha menemukan struktur geologi yang berkembang di lokasi pemetaan, seperti patahan maupun lipatan. Seluruh data yang diperoleh kemudian diolah dan disusun menjadi sebuah peta akhir yang disebut Peta Geologi. Selain itu, karena kegiatan pemetaan dilakukan di sekitar pemukiman warga, para mahasiswa dapat berinteraksi dengan baik bersama masyarakat desa. Warga menyambut kami, para mahasiswa, dengan senyuman hangat saat melintas di jalanan desa. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri karena mempermudah kami dalam mencari akses menuju lokasi titik pemetaan.


