Kebakaran yang terjadi berulang kali di rumah Fia warga Seyegan, Sleman, diduga berkaitan dengan gas metana. Dugaan itu menguat setelah pengukuran yang dilakukan tim geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan pihak kepolisian menunjukkan adanya peningkatan kandungan gas metana di lokasi munculnya api.
“Kalau yang selama ini sudah dilakukan oleh pihak kepolisian, pihak kepolisian sudah mengukur kandungan gas. Dari alat ukur kepolisian itu ternyata di tempat keluarnya api memang gas metananya naik. Jadi evidence-based yang paling kuat selama ini, api itu berindikasi dengan keluarnya gas metana,” kata Dosen sekaligus Asisten Profesor di Departemen Teknik Geologi UGM, Dr. Sarju Winardi, saat ditemui di rumah Fia, Sabtu (30/5/2026).
Sarju mengatakan, tim geologi UGM juga melakukan pengukuran suhu menggunakan kamera termal. Hasilnya menunjukkan titik-titik munculnya api berada di area dengan suhu yang relatif lebih tinggi.
“Kami hari ini mengukur suhu dengan kamera termal. Memang keluarnya api itu di tempat-tempat yang suhunya agak tinggi. Itu wajar karena ketika terbakar suhunya naik,” ujarnya.
Untuk memastikan penyebab fenomena tersebut, pihaknya berencana melakukan pengukuran ulang kandungan gas metana di situ pada pekan depan. Sampel air dari lokasi juga akan diperiksa. Sebab, sebelumnya api dilaporkan muncul di sekitar jalur pipa air hingga sumur warga.
“Nanti mungkin pekan depan kami akan membawa alat untuk mengukur kandungan gas yang ada di tempat itu dan juga sampel air. Karena beberapa waktu yang lalu keluarnya gas itu juga bersamaan dengan jalur pipa air dan sumur yang keluar api, maka kami juga akan mengukur sampel air apakah terkontaminasi metana atau tidak,” jelasnya.
Sarju menerangkan, secara teori, air yang terkontaminasi metana tidak serta merta terbakar saat masih berada di bawah permukaan tanah. Api muncul ketika air itu keluar ke permukaan dan gas metana yang terkandung di dalamnya terlepas ke udara.
“Terbakarnya adalah ketika air keluar di permukaan dan berinteraksi dengan oksigen, metananya lepas. Lepasnya metana dari air itulah yang membuat dia terbakar,” katanya.
Menurut Sarju, sifat gas metana mirip dengan LPG yang biasa digunakan di rumah tangga. Namun, metana memerlukan konsentrasi tertentu sebelum dapat terbakar.
“Gas metana itu sebenarnya seperti kalau kita punya kompor LPG di rumah. Cuma dia lebih low release, kalorinya rendah. Butuh kadar yang lebih tinggi supaya dia menyala,” ujarnya.
Karena itu, kata Sarju, gas metana yang keluar dari tanah diduga dapat terakumulasi pada benda-benda berpori di dalam rumah seperti pakaian, kain, hingga sofa.
“Kadang-kadang butuh waktu yang agak lama. Ngumpul di sofa, ngumpul di pakaian, di kain, itu dalam jumlah waktu yang cukup dia baru menyala,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, material berpori memiliki kemampuan menyimpan gas dalam jumlah tertentu. Jika akumulasinya cukup banyak, gas tersebut berpotensi memicu kebakaran.
“Yang punya pori seperti pakaian, sofa, itu dia akan menyimpan gas di situ. Nanti kalau jumlahnya cukup banyak, kena oksigen, menyala dia,” katanya.
Atas kondisi tersebut, Sarju menyarankan agar rumah memiliki sirkulasi udara yang baik. Warga juga diminta memasang kipas angin atau blower untuk mempercepat pergantian udara sehingga gas tidak terkumpul di dalam ruangan.
“Kami sarankan agar ruangan itu sirkulasinya diperbagus. Dipasang kipas angin atau blower sehingga tidak mudah terjadi penumpukan gas metana pada material seperti pakaian atau sofa,” jelasnya.
Meski demikian, Sarju menilai potensi penyebaran gas metana ke rumah-rumah tetangga relatif kecil. Sebab, gas metana cenderung bergerak ke atas dan bercampur dengan udara bebas sehingga kadarnya cepat menurun.
“Kalau sudah di luar dia bercampur dengan udara luar, kadarnya sangat menurun, jadi relatif aman. Makanya begitu sirkulasi dibuka, kadarnya berkurang dan potensi terbakar juga menurun,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, kebakaran berulang kali terjadi di rumah Mutfiana, warga Seyegan, Sleman, dalam sepekan ini. Tim Gegana telah melakukan pemeriksaan di lokasi. UGM juga menerjunkan sejumlah pakar untuk mengungkap penyebab teror api misterius itu.

Teror api itu terjadi sejak Sabtu (23/5) pekan lalu. hingga Kamis (28/5), api sudah muncul sebanyak 39 kali di rumah tersebut. Api itu membakar sebagian barang di dalam rumah, seperti kain, furnitur, dan benda-benda lain yang mudah terbakar.
“Total sudah 39 kali di 34 titik berbeda yang terbakar. Furniture, pakaian, tikar, barang-barang yang mudah terbakar. Tapi ya aneh, atasnya kebakar masa bawah tidak terbakar,” kata Mutfiana saat ditemui di rumahnya, Kamis (28/5/2026).
Mutfiana sudah melaporkan peristiwa aneh itu ke polisi. Kepolisian telah menerjunkan tim Gegana. Hasilnya, tim menyimpulkan ada kebocoran septic tank yang menyebabkan munculnya gas metana yang mudah terbakar.
Mutfiana segera memperbaiki saluran septic tank di rumahnya. Namun, api masih saja muncul secara tiba-tiba.
“Yang dianjurkan dari Gegana sudah kami lakukan. Terus baju-baju memang sudah diungsikan sebenarnya, tapi ya ada aja yang kebakaran gitu,” ujar dia.
Dia lantas kembali berkonsultasi ke polisi. Menurut informasi dari Tim Gegana, kejadian kebakaran masih ada karena sisa gas metana yang bocor belum sepenuhnya hilang.
“(Dari Gegana bilang) Cuma menghabiskan sisa-sisa gas, dari bawah tanah. Hilangnya metana bisa dalam mingguan atau bulanan,” ucapnya.
Kini Mutfiana bersama suami dan anaknya saat malam mengungsi untuk sementara waktu. Meski demikian, bangunan yang juga difungsikan sebagai rumah pemotongan ayam itu tetap dijaga setiap malam.
“Sementara ngungsi ke rumah sebelah, nggak berani jauh-jauh. Tapi tetap kita di samping rumah tetap jaga terus. Karena kalau telat sekian menit kalau nggak konangan (ketahuan), istilahnya, nanti semua kena,” kata dia.(Serly Putri Jumbadi – detikJogja)