Penulis : Akmal Kurniawan
(Sebuah Catatan Kegiatan)
Bulan Juli 2025, kami mahasiswa Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada terjun ke lapangan— kaveling area seluas 4 x 5 km persegi—yang merupakan bagian dari Zona Antiklinorium Rembang dan tersebar dari Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah, hingga Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur guna melaksanakan kegiatan Pemetaan Geologi. Saya dan empat teman saya, kami berlima tergabung dalam satu kelompok, mendapatkan kaveling pemetaan yang paling timur, di Kabupaten Tuban, yakni dari Kecamatan Singgahan hingga Soko. Daerah ini yang dicirikan dengan perbukitan terjal-landai di bagian tengah lalu bertransisi menjadi dataran di bagian utara dan selatan. Selama kegiatan pemetaan, kami bertempat di rumah warga yang biasa digunakan untuk kegiatan KKN, terletak di tengah-tengah dari lima kaveling kami.


Setiap kali berangkat menuju kaveling, kami disuguhi pemandangan area persawahan di dataran landai hingga kaki bukit, kemudian berlanjut menjadi area hutan dan ladang di lereng bukit. Daerah pemetaan mencakup puncak tertinggi Kabupaten Tuban, berdekatan dengan wisata Puncak Renggit, pada di ketinggian 425 meter dari permukaan laut, yang dari titik ini dapat terlihat seluruh area pemetaan hingga Kabupaten Bojonegoro di selatan. Di puncak-puncak dapat ditemukan batugamping yang telah sepenuhnya mengalami kristalisasi dan juga kristal kalsit yang melingkupi batuan. Di lereng-lereng kawasan perbukitan ditemukan pasir cokelat berkilau yang berserakan, hasil erosi batupasir kuarsa yang berada di antara batugamping. Di area ini seluruh batugamping telah mengalami diagenesis lanjut sehingga kerasnya menyaingi batuan beku, namun para petani di sini tak kehabisan akal, perladangan mereka menerjang curamnya lereng, dangkalnya tanah, dan bergelombangnya bentang alam. Di dekat kaki bukit-bukit dapat ditemukan sumber air, di antara batupasir kuarsa, menyumber untuk mengaliri sungai dan irigasi. Di beberapa tempat, dijadikan sebagai objek wisata, air panas keluar dari dalam bumi. Tak hanya agrikultur dan wisata, pertambangan juga dijumpai di sini, mengeruk pasir kuarsa, memecah dan menggerus batugamping, dari skala kecil hingga satu bukit utuh, ada yang digunakan untuk membangun rumah, membuat jalan dan talut, atau dikirim ke daerah lain. Bagi sebagian orang, mendengar adanya emas di daerah ini tentu membuat penasaran, mendapatkan bijih dan butiran berwarna kuning hingga kecokelatan diantara pasir kuarsa dan oksida besi, dapat dimaklumi bahwa orang-orang sering salah mengira mineral pirit sebagai emas, meskipun begitu tetaplah menjadi keseruan tersendiri untuk menyingkap apa-apa yang tersembunyi di bawah bumi. Pada transisi menuju dataran, sejauh mata memandang perladangan jagung terhampar, indah dari jauh, memusingkan dari dekat, dan tersesat di dalamnya. Di sini batugamping mulai mendominasi, mengakhiri perselingan litologi, dan di beberapa tempat khususnya sebelum benar-benar berganti menjadi dataran, deretan lereng terjal dapat terlihat, berbaris memanjang seakan menjadi tembok alam, namun juga memberikan ancaman longsor sehingga memengaruhi bagaimana perencanaan dan pembangunan yang dilakukan agar tetap aman, sebagai langkah mencapai sustainable city & community dan life on land. Dan di kawasan dataran, mencapai hingga 125 meter di atas permukaan laut, persawahan menjadi umum ditemukan, berdampingan dengan kawasan hutan milik Perhutani. Di sinilah alam hidup berdampingan dengan aktivitas manusia, sehingga dibutuhkan pengelolaan yang baik sebagai bentuk climate action dan transisi menuju affordable & clean energy.
Banyak potensi dan kesempatan pengembangan yang tersimpan di lokasi pemetaan yang dilakukan, identifikasi dan pengumpulan data geologi akan menjadi modal awal untuk merumuskan arah dan strategi pembangunan di wilayah pemetaan, sesuai dengan tujuan dari diadakannya pemetaan itu sendiri. Dengan begitu hal ini dapat dilanjutkan oleh pihak pembuat kebijakan dan pelaksana lapangan untuk menghasilkan manfaat bagi masyarakan setempat maupun untuk meraih decent work & economic growth.
Humas Departemen | September 2025