Bagi sebagian orang, Mandala Giri mungkin dikenal sebagai kawasan perbukitan dengan udara sejuk dan panorama pegunungan di Kabupaten Banjarnegara. Namun, di balik bentang alam tersebut tersimpan cerita geologi yang menarik. Melalui kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri 2026 di Desa Sembawa dan sekitarnya, salah satu fitur yang menjadi perhatian adalah keberadaan batuan intrusif yang di lapangan diinterpretasikan sebagai gabro di kawasan Mandala Giri, Desa Karanggondang. Kemunculan massa batuan yang besar dan masif di tengah vegetasi menjadikan kawasan ini tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memberikan gambaran mengenai proses geologi yang pernah berlangsung di wilayah tersebut.

Pemetaan dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap singkapan batuan, kondisi geomorfologi, serta hubungan antarunsur geologi di lapangan. Pada bagian puncak Mandala Giri, dijumpai batuan beku berwarna abu-abu gelap, masif, dan bertekstur kristalin yang berdasarkan pengamatan megaskopis diinterpretasikan sebagai gabro. Batuan tersebut muncul sebagai tonjolan besar yang kontras dengan vegetasi di sekitarnya. Karena analisis petrografi masih dalam proses, interpretasi ini untuk sementara dibatasi berdasarkan pengamatan lapangan dan belum digunakan untuk menjelaskan komposisi mineral maupun karakter mikroskopis secara lebih rinci.
Keberadaan batuan intrusif tersebut menjadi semakin menarik ketika dilihat dari bentang alam Mandala Giri. Bagian tubuh kawasan ini telah dimanfaatkan sebagai tempat wisata dan memiliki panorama luas ke perbukitan di sekitarnya, sementara bagian puncaknya masih relatif alami dengan vegetasi yang cukup rapat. Dari puncak, bentang pegunungan Banjarnegara dapat terlihat secara luas, memberikan nilai estetika sekaligus potensi edukasi geologi. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebuah bentang alam dapat memiliki nilai yang muncul dari perpaduan antara karakter batuan, bentuk lahan, dan panorama yang dihasilkan.
Pemetaan Geologi Mandiri tidak hanya menghasilkan data mengenai persebaran batuan, tetapi juga membantu mengenali karakter geologi yang menjadi bagian dari identitas suatu kawasan. Informasi mengenai keberadaan intrusi dan kondisi singkapan di Mandala Giri dapat menjadi dokumentasi awal untuk memahami potensi geologi lokal serta mendukung pemanfaatan kawasan secara lebih terarah. Apabila dikembangkan, potensi tersebut dapat diarahkan pada wisata berbasis bentang alam dan geologi dengan tetap mempertahankan kondisi alami kawasan dan menjaga singkapan batuan dari kerusakan.

Kegiatan ini juga menunjukkan keterkaitan antara geologi dan pembangunan berkelanjutan. Pemahaman terhadap karakter geologi suatu wilayah dapat mendukung pemanfaatan ruang dan pengembangan kawasan secara lebih bijak, sejalan dengan SDG 11: Sustainable Cities and Communities. Penting juga untuk menjaga bentang alam dan singkapan batuan yang masih alami demi mempertahankan nilai lingkungan dan geologi kawasan yang sejalan dengan SDG 15: Life on Land.
Pada akhirnya, Mandala Giri bukan hanya tentang pemandangan yang dapat dinikmati dari sebuah perbukitan. Di balik singkapan batuannya tersimpan jejak proses geologi yang berlangsung jauh sebelum kawasan tersebut dimanfaatkan manusia. Melalui pemetaan geologi, lanskap Mandala Giri dapat dipahami tidak hanya sebagai tempat wisata, tetapi juga sebagai ruang belajar yang memperlihatkan hubungan antara batuan, bentang alam, dan kehidupan manusia.
Penulis: Reza Rasendriya Himawan
Humas Departemen | Oktober 2026