Sadeng dan daerah sekitarnya mungkin terlihat seperti kawasan biasa di Kota Semarang. Namun, di balik perbukitan, sungai, dan permukimannya, terdapat bentang alam yang terbentuk melalui proses geologi dalam waktu yang sangat panjang. Melalui kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri, kondisi tersebut dapat dipelajari secara langsung sekaligus memperkenalkan potensi yang ada di lingkungan sekitar. Salah satu yang menarik adalah Curug Gribik, yang berada di dalam area pemetaan dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
SDG 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan
Kuliah Lapangan Geologi merupakan agenda wajib bagi mahasiswa Teknik Geologi pada akhir semester 4 sebagai sarana untuk menerapkan ilmu dan keterampilan geologi yang telah diperoleh selama perkuliahan. Kegiatan ini terdiri atas Kuliah Lapangan Bayat dan Kuliah Lapangan Mandiri. Pada kesempatan ini, pembahasan difokuskan pada Pemetaan Geologi Mandiri 2026 yang dilaksanakan di Desa Kaliwungu dan sekitarnya, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Pemetaan ini bertujuan untuk memperoleh informasi geologi daerah penelitian secara detail, meliputi litologi, struktur geologi, dan geomorfologi. Sebelum kegiatan lapangan dilakukan, tahap persiapan meliputi interpretasi data sekunder berupa citra Digital Elevation Model (DEM), peta geologi regional, dan citra Google Earth sebagai acuan awal untuk memahami kondisi daerah serta menentukan lokasi pengamatan, sehingga kegiatan pemetaan di lapangan dapat dilakukan secara lebih terarah dan sistematis.
Kulon Progo, sebuah kabupaten yang berada tepat di sisi barat Yogyakarta, kerap dikenali lewat keindahan Pegunungan Menoreh dan hamparan sawah asrinya. Kesan tenang sejuk ini ternyata menyimpan cerita jauh lebih tua dari yang terlihat di permukaan, sebab lapisan demi lapisan batuan di wilayah ini merekam perjalanan waktu sejak Kala Eosen hingga Miosen Akhir.
Di tanah ini, tahun kedua perkuliahan kami banyak mengukir cerita. Membekas di sudut hati kami, Kelompok A08. Di tanah ini pula, kami belajar cara membaca babak besar sejarah geologi yang tersusun rapi bagai lembaran buku yang saling menyambung. Secara fisiografis, wilayah kavling kami termasuk dalam Zona Serayu Selatan bagian timur. Tepatnya dikenal sebagai Oblong Dome atau Kubah Oblong Kulon Progo. Kubah ini terbentuk sebagai hasil pengangkatan tektonik yang menyingkap batuan berumur tua di bagian tengahnya, sehingga morfologinya melingkar. Pada kavling saya, tersingkap batuan berumur paling tua, yakni Formasi Nanggulan.
Transisi energi menjadi agenda global yang diusung oleh berbagai negara sebagai bagian dari upaya menekan emisi karbon dan mencapai kondisi net zero. Pelaksanaan agenda tersebut didukung oleh sejumlah landasan hukum, salah satunya Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 yang selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Keberhasilan transisi energi juga tidak terlepas dari ketersediaan sumber daya mineral dan bahan baku yang dibutuhkan dalam pengembangan industri energi.
Universitas Gadjah Mada dan Kedutaan Besar (Kedubes) Chile untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor-Leste, memperkuat komitmen kerja sama di bidang akademik dan riset, terutama riset mengenai antarktika dan perubahan iklim. Hal itu mengemuka dalam pertemuan Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM Dr. Danang Sri Hadmoko bersama Prof. Dr. Mirwan Ushada selaku Direktur Penelitian UGM, serta Ir. Nugroho Imam Setiawan, S.T., M.T., D.Sc., IPM selaku Direktur Tropical–Polar Interconnection Research Group (TPI-RG) dengan Duta Besar (H.E.) Mario Ignacio Artaza Kamis (18/6) lalu di Kampus UGM.
Fenomena kemunculan api secara misterius di rumah Agus Yani di Padukuhan Kasuran, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Sleman, masih masih menjadi perhatian publik. Sejumlah penelitian menyebut bahwa api tersebut berasal dari gas metana dari dalam tanah. Namun Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) memastikan bahwa api bukan berasal dari rembesan gas alam maupun fenomena pembakaran spontan yang terjadi secara alami.
Ketua Tim PKPE FT UGM Prof Ir Alva Edy Tontowi menjelaskan, bahwa berbagai metode ]digunakan dalam penelitian tersebut. Mulai dari pengukuran medan elektromagnetik, pemetaan bawah permukaan menggunakan georadar dan geolistrik, pengamatan termal menggunakan drone, hingga analisis residu kebakaran di laboratorium.
Pasca kemunculan puluhan titik api secara misterius di sebuah rumah warga di Dusun Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kecamatan Seyegan, Sleman (22/5) lalu, Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM (FT UGM) terus melakukan serangkaian investigasi untuk mengungkap penyebab fenomena tersebut.
Observasi awal dilakukan pada Sabtu (30/5) oleh tim PKPE FT UGM yang dipimpin Prof. Alva Edi Tontowi. Dalam kegiatan tersebut, tim memperoleh informasi dari pihak Gegana Polda DIY bahwa pada titik kemunculan api terdeteksi adanya gas metana (CH₄). Selain itu, tim juga melakukan pengukuran menggunakan kamera termal untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya anomali panas di lokasi kejadian.
Kepala Badan Meteorologi dan Klimatologi Geofisika (BMKG) RI periode 2017-2025, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., mengatakan ancaman gempa megathrust Jawa sama sekali bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, melainkan sebagai dasar vital guna merancang skenario mitigasi dan kesiapsiagaan yang terukur. Mengingat adanya seismic gap (zona kekosongan gempa besar) di titik kritis seperti Selat Sunda, Selatan Jawa, dan Mentawai yang telah menyimpan energi selama lebih dari 200 tahun. “Data keilmuan ini mutlak diperlukan sebagai acuan kesiapan struktural darurat,” kata Dwikorita dalam seminar mengenai penanggulangan kebencanaan dengan tajuk “20 Tahun Gempa Yogya 2006 dan Antisipasi Gempa Bumi Megathrust Jawa” pada Sabtu (31/5) di Ruang Multimedia, Gedung Pusat UGM.
Dua puluh tahun setelah gempa bumi besar mengguncang DIY pada 27 Mei 2006, muncul kekhawatiran baru yang yang justru tidak berasal dari pergerakan lempeng bumi. Saat ini ingatan masyarakat terhadap bencana tersebut sudah memudar.
“Ketika saya mengajar mahasiswa angkatan 2025, saya bertanya apakah mereka mengetahui gempa besar tahun 2006. Ternyata sebagian besar tidak memiliki ingatan kolektif tentang peristiwa itu karena mereka lahir setelah kejadian tersebut,” papar pakar kegempaan UGM, Gayatri Indah Marliyani dalam seminar sinergi UGM-Kagama “20 Tahun Gempa Yogyakarta 2006 dan Antisipasi Gempa Bumi Megathrust Jawa di UGM, Yogyakarta, Sabtu (30/6/2026).
Polemik proyek energi panas bumi atau geothermal di kawasan pegunungan kembali memicu perdebatan publik yang tajam. Di tengah meningkatnya penolakan dan beredarnya isu ancaman gempa bumi, letusan gunung api, pencemaran lingkungan, hingga kerusakan hutan di kawasan Gunung Gede Pangrango, Kabupaten Cianjur, pakar panas bumi dari Universitas Gadjah Mada membantah keras berbagai narasi yang dinilai tidak berpijak pada fakta ilmiah, data teknis, dan kajian akademik yang utuh.
Kepala Pusat Penelitian Panas Bumi Fakultas Teknik UGM, Pri Utami, yang juga pernah menjabat Vice President International Geothermal Association periode 2020–2023, menilai sebagian besar informasi yang beredar di masyarakat terkait geothermal kerap dipelintir tanpa penjelasan ilmiah yang lengkap dan tanpa memahami karakter sistem panas bumi di Indonesia.