Universitas Gadjah Mada dan Kedutaan Besar (Kedubes) Chile untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor-Leste, memperkuat komitmen kerja sama di bidang akademik dan riset, terutama riset mengenai antarktika dan perubahan iklim. Hal itu mengemuka dalam pertemuan Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM Dr. Danang Sri Hadmoko bersama Prof. Dr. Mirwan Ushada selaku Direktur Penelitian UGM, serta Ir. Nugroho Imam Setiawan, S.T., M.T., D.Sc., IPM selaku Direktur Tropical–Polar Interconnection Research Group (TPI-RG) dengan Duta Besar (H.E.) Mario Ignacio Artaza Kamis (18/6) lalu di Kampus UGM.
SDG 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan
Fenomena kemunculan api secara misterius di rumah Agus Yani di Padukuhan Kasuran, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Sleman, masih masih menjadi perhatian publik. Sejumlah penelitian menyebut bahwa api tersebut berasal dari gas metana dari dalam tanah. Namun Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) memastikan bahwa api bukan berasal dari rembesan gas alam maupun fenomena pembakaran spontan yang terjadi secara alami.
Ketua Tim PKPE FT UGM Prof Ir Alva Edy Tontowi menjelaskan, bahwa berbagai metode ]digunakan dalam penelitian tersebut. Mulai dari pengukuran medan elektromagnetik, pemetaan bawah permukaan menggunakan georadar dan geolistrik, pengamatan termal menggunakan drone, hingga analisis residu kebakaran di laboratorium.
Pasca kemunculan puluhan titik api secara misterius di sebuah rumah warga di Dusun Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kecamatan Seyegan, Sleman (22/5) lalu, Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM (FT UGM) terus melakukan serangkaian investigasi untuk mengungkap penyebab fenomena tersebut.
Observasi awal dilakukan pada Sabtu (30/5) oleh tim PKPE FT UGM yang dipimpin Prof. Alva Edi Tontowi. Dalam kegiatan tersebut, tim memperoleh informasi dari pihak Gegana Polda DIY bahwa pada titik kemunculan api terdeteksi adanya gas metana (CH₄). Selain itu, tim juga melakukan pengukuran menggunakan kamera termal untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya anomali panas di lokasi kejadian.
Kepala Badan Meteorologi dan Klimatologi Geofisika (BMKG) RI periode 2017-2025, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., mengatakan ancaman gempa megathrust Jawa sama sekali bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, melainkan sebagai dasar vital guna merancang skenario mitigasi dan kesiapsiagaan yang terukur. Mengingat adanya seismic gap (zona kekosongan gempa besar) di titik kritis seperti Selat Sunda, Selatan Jawa, dan Mentawai yang telah menyimpan energi selama lebih dari 200 tahun. “Data keilmuan ini mutlak diperlukan sebagai acuan kesiapan struktural darurat,” kata Dwikorita dalam seminar mengenai penanggulangan kebencanaan dengan tajuk “20 Tahun Gempa Yogya 2006 dan Antisipasi Gempa Bumi Megathrust Jawa” pada Sabtu (31/5) di Ruang Multimedia, Gedung Pusat UGM.
Dua puluh tahun setelah gempa bumi besar mengguncang DIY pada 27 Mei 2006, muncul kekhawatiran baru yang yang justru tidak berasal dari pergerakan lempeng bumi. Saat ini ingatan masyarakat terhadap bencana tersebut sudah memudar.
“Ketika saya mengajar mahasiswa angkatan 2025, saya bertanya apakah mereka mengetahui gempa besar tahun 2006. Ternyata sebagian besar tidak memiliki ingatan kolektif tentang peristiwa itu karena mereka lahir setelah kejadian tersebut,” papar pakar kegempaan UGM, Gayatri Indah Marliyani dalam seminar sinergi UGM-Kagama “20 Tahun Gempa Yogyakarta 2006 dan Antisipasi Gempa Bumi Megathrust Jawa di UGM, Yogyakarta, Sabtu (30/6/2026).
Polemik proyek energi panas bumi atau geothermal di kawasan pegunungan kembali memicu perdebatan publik yang tajam. Di tengah meningkatnya penolakan dan beredarnya isu ancaman gempa bumi, letusan gunung api, pencemaran lingkungan, hingga kerusakan hutan di kawasan Gunung Gede Pangrango, Kabupaten Cianjur, pakar panas bumi dari Universitas Gadjah Mada membantah keras berbagai narasi yang dinilai tidak berpijak pada fakta ilmiah, data teknis, dan kajian akademik yang utuh.
Kepala Pusat Penelitian Panas Bumi Fakultas Teknik UGM, Pri Utami, yang juga pernah menjabat Vice President International Geothermal Association periode 2020–2023, menilai sebagian besar informasi yang beredar di masyarakat terkait geothermal kerap dipelintir tanpa penjelasan ilmiah yang lengkap dan tanpa memahami karakter sistem panas bumi di Indonesia.

Sebagai tindak lanjut dari pembuatan dan pengajuan rencana induk Geopark Nasional Klaten pada tahun 2025, telah dilakukan kegiatan kunjungan lapangan ke sejumlah situs warisan geologi di wilayah Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan observasi langsung, pendokumentasian, dan verifikasi kondisi geologi pada beberapa lokasi yang memiliki potensi untuk ditetapkan sebagai kawasan cagar alam geologi.
Sebagai bagian dari perkembangan daerah Bayat, Klaten sebagai laboratorium yang sering dikunjungi oleh mahasiswa di Bidang kebumian, Teknik Geologi UGM mengambil peran sebagai pihak yang menjembatani pengetahuan dan potensi yang dimiliki oleh Bayat, Klaten ke berbagai macam pihak. Pada kegiatan ini diwakili oleh Dr. Eng. Ir. Didit Hadi Barianto, S.T., M.Si.,IPM dan Agus Hendratno, S.T., M.T ke beberapa Lokasi yang dikunjungi meliputi situs Lava Bantal di Desa Jarum, yang merupakan singkapan geologi langka dan bernilai ilmiah tinggi. Lokasi kedua adalah Batik Sarwidi sebagai representatif kebudayaan membatik diwilayah Bayat. Lokasi ketiga adalah sentra gerabah melikan yang dikenal dengan teknik putaran miring yang khas. Lokasi terakhir adalah Rowo Jombor, yang memiliki nilai historis dan geologis serta potensi untuk pengembangan edukasi geowisata. Kegiatan di lokasi terakhir ini adalah berupa rapat koordinator antar lembaga terutama dalam hal ini adalah Kementerian Bappenas dan juga Baperida Kabupaten Klaten sebagai pemangku kebijakan utama di Kabupaten Klaten.
Osaka Metropolitan University melakukan kunjungan ke Departemen Teknik Geologi UGM dalam rangka riset kolaboratif mengenai topik kebencaaan alam khususnya vulkanologi. Perwakilan Osaka Metropolitan University yaitu dosen dari Departemen Geosains, Daisuke MIURA dan Mitsuru OKUNO serta empat mahasiswa. Kunjungan tersebut diterima oleh Prof. Agung Harijoko dan Dr. Haryo Edi Wibowo, ditemani oleh asisten Afif Hilman Jovian dan Mradipta Lintang A Moktikanana.
Kegiatan dilakukan selama sepekan dari Selasa (2/3) hingga Minggu (8/10). Kunjungan diawali dengan sesi jamuan makan malam yang dihadiri oleh Prof. Wahyu Wilopo, selaku Ketua Departemen Teknik Geologi. Hal ini dapat memperkuat adanya kerja sama riset antara Osaka Metropolitan University dengan Universitas Gadjah Mada khususnya pada bidang kebencaaan alam.

Sekolah Alam Indonesia (SAI) Cibinong melakukan kunjungan edukatif ke Departemen Teknik Geologi UGM bersama 21 siswa kelas 4 dan 4 guru pendamping, yang diterima oleh Dr. Yan Restu Freski, ditemani asisten Bethari Amelia dan Dwiana Maulidya. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mengenalkan ilmu kebumian sejak dini serta menumbuhkan kepedulian terhadap bumi, sumber daya alam, dan potensi bahaya bencana.
Kunjungan diawali dengan sesi pengenalan ilmu kebumian yang disampaikan secara interaktif dan komunikatif di area Taman Batu Departemen Teknik Geologi UGM. Para siswa dikenalkan dengan berbagai macam batuan yang didatangkan dari berbagai penjuru lokasi di Indonesia maupun mancanegara. Mereka diajak memahami bumi sebagai sistem yang terus berubah yang dilihat dari siklus batuan, bagaimana manusia memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia dari proses geologi, serta mengapa penting bagi kita untuk memahami bencana alam.
Sumber berita: https://ugm.ac.id/id/berita/gempa-bumi-melanda-selatan-jawa-pakar-geologi-ugm-sebut-terjadi-akibat-pergeseran-lempeng/
Kejadian gempa bumi mengguncang sejumlah wilayah di selatan Pulau Jawa terjadi pada Selasa (27/1) kemarin. Gempa bermagnitudo 5,7 pada pukul 08.20 WIB dengan pusat gempa sekitar 24 kilometer arah tenggara Pacitan, Jawa Timur dengan kedalaman 122 kilometer. Beberapa jam setelahnya, tepatnya sekitar pukul 13.15 WIB, gempa bumi kembali terjadi dengan magnitudo 4,4 dengan pusat gempa berada di timur laut Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pusat gempa tersebut tergolong dangkal, sehingga getarannya dapat dirasakan secara jelas oleh masyarakat.