Tim PKPE FT UGM Ungkap Dugaan Penyebab Fenomena “Rumah Api” di Seyegan

Pasca kemunculan puluhan titik api secara misterius di sebuah rumah warga di Dusun Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kecamatan Seyegan, Sleman (22/5) lalu, Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM (FT UGM) terus melakukan serangkaian investigasi untuk mengungkap penyebab fenomena tersebut. 

Observasi awal dilakukan pada Sabtu (30/5) oleh tim PKPE FT UGM yang dipimpin Prof. Alva Edi Tontowi. Dalam kegiatan tersebut, tim memperoleh informasi dari pihak Gegana Polda DIY bahwa pada titik kemunculan api terdeteksi adanya gas metana (CH₄). Selain itu, tim juga melakukan pengukuran menggunakan kamera termal untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya anomali panas di lokasi kejadian.

Hasil pengukuran menunjukkan adanya anomali suhu di area munculnya api, tetapi nilainya tidak signifikan. Suhu tertinggi yang terdeteksi hanya berkisar 29°C, sehingga masih berada dalam rentang suhu lingkungan normal. Temuan ini mengindikasikan bahwa tidak terdapat sumber panas bersuhu tinggi yang tersembunyi di sekitar rumah maupun lingkungan sekitarnya.

Penyelidikan kemudian dilanjutkan pada Senin (1/6) oleh tim yang dipimpin Prof. Agung Harijoko dari Departemen Teknik Geologi FT UGM. Melalui pengukuran gas secara langsung di lokasi, tim menemukan adanya anomali gas hidrogen (H₂) dengan konsentrasi yang cukup tinggi. Pada area kamar mandi yang sebelumnya dilaporkan menjadi lokasi kemunculan api, konsentrasi gas hidrogen terukur mencapai 0,11.

Menariknya, saat proses pengukuran berlangsung, api kembali muncul di salah satu kamar rumah tersebut. Tim segera melakukan pengukuran di sekitar titik api dan mendapati konsentrasi gas hidrogen yang jauh lebih tinggi, yakni mencapai 0,40. Temuan ini memperkuat dugaan adanya hubungan erat antara kemunculan api dengan keberadaan gas hidrogen.

Untuk memastikan hasil tersebut, pengukuran lanjutan dilakukan pada Rabu (3/6) oleh tim berbeda yang dipimpin Prof. Sarto dan Prof. Chandra dari Departemen Teknik Kimia FT UGM menggunakan peralatan yang berbeda. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak ditemukan gas mudah terbakar lainnya selain gas hidrogen.

Berdasarkan berbagai hasil investigasi tersebut, tim PKPE FT UGM menyimpulkan sementara bahwa fenomena kemunculan api memiliki keterkaitan kuat dengan keberadaan gas hidrogen. Namun demikian, sumber utama gas tersebut masih terus ditelusuri. Saat ini terdapat dua kemungkinan sumber yang sedang diteliti, yaitu limbah cair organik dan gas yang berasal dari dalam tanah.

Untuk memverifikasi kedua hipotesis tersebut, tim melakukan serangkaian tindak lanjut. Pada Kamis (4/6), dilakukan penggalian dangkal di beberapa titik untuk mendeteksi keberadaan gas dalam tanah. Sementara itu, sampel limbah cair yang diduga menjadi salah satu sumber gas sedang menjalani proses analisis laboratorium.

 

 

 

Dari hasil kajian sementara, tim menduga gas hidrogen berasal dari proses fermentasi limbah organik hasil pemotongan ayam. Selain gas hidrogen, tim juga mempertimbangkan kemungkinan adanya gas fosfin (PH₃), yaitu gas yang dapat terbentuk dari material kaya fosfat seperti tulang dan bagian keras bulu ayam. Gas fosfin memiliki karakteristik sangat mudah terbakar pada suhu kamar, tetapi relatif sulit dideteksi karena akan segera habis terbakar ketika bereaksi dengan oksigen di udara.

Menurut tim PKPE, sangat mungkin gas fosfin berperan sebagai pemicu awal yang menyalakan gas hidrogen yang keluar secara bersamaan. Namun demikian, hipotesis ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memperoleh bukti ilmiah yang lebih kuat.

Melalui pendekatan multidisiplin, FT UGM terus berupaya mengungkap penyebab fenomena “Rumah Api” secara komprehensif. Hasil investigasi lanjutan diharapkan dapat memberikan kepastian ilmiah sekaligus menjadi dasar dalam penyusunan langkah mitigasi yang tepat bagi masyarakat sekitar.

Tim Peneliti:

  1. Prof. Ir. Alva Edy Tontowi, M.Sc., Ph.D., IPU, ASEAN Eng (Teknik Industri)
  2. Prof. Dr. Eng. Deendarlianto, S.T., M.Eng. (Teknik Mesin)
  3. Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D. (Teknik Geologi)
  4. Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU, ASEAN Eng. (Teknik Kimia)
  5. Prof Dr. Ir. Leni S Heliani, ST., M.Sc., D.Sc, IPU (Teknik Geodesi)
  6. Prof. Dr. Ir. Agung Harijoko, S.T., M.Eng., IPM. (Teknik Geologi)
  7. Prof. Dr. Ir. Sarto., IPU (Teknik Kimia)
  8. Prof. Ir. Chandra Wahyu Purnomo, S.T., M.Eng., D.Eng., IPM. (Teknik Kimia)
  9. Dr. Ir. Sarju Winardi, S.T., M.T. (Teknik Geologi)
  10. Ahmad Agus Setiawan, S.T., M.Sc., Ph.D. (Teknik Fisika)
  11. Ir. Ashar Saputra, S.T., M.T., Ph.D., IPM., ASEAN. Eng. (Teknik Sipil)
  12. Dr. Ir. Haryo Edi Wibowo, S.T., M.Sc., IPM. (Teknik Geologi)
  13. Dr. Ir. Yan Restu Freski, S.T., M.Eng., IPM. (Teknik Geologi)
  14. Dr. Akmal Irfan Majid, S.T., M.Eng. (Teknik Mesin)
  15. Dr. Ir. Iswandi (Teknik Elektro)

Sumber: Press release PKPE, 3 Juni 2026

https://ft.ugm.ac.id/tim-pkpe-ft-ugm-ungkap-dugaan-penyebab-fenomena-rumah-api-di-seyegan/