Menelusuri Jejak Geologi Sempor: Membaca Batuan dan Bentang Alam dari Lapangan

Kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri di Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, menjadi kesempatan untuk memahami kondisi geologi secara langsung melalui pengamatan di lapangan. Kavling pemetaan yang mencakup wilayah Desa Somagede dan Kenteng memiliki luas sekitar 4 × 5 km dengan kondisi morfologi yang didominasi oleh perbukitan. Dalam pemetaan ini, dilakukan berbagai kegiatan seperti pengamatan dan deskripsi singkapan, pengukuran struktur geologi, pengambilan sampel, serta pencatatan kondisi lapangan pada 106 stasiun pengamatan (STA). Dari hasil pengamatan, diidentifikasi enam satuan batuan, yaitu lempung hitam Kompleks Lok Ulo, batulempung Formasi Karangsambung, breksi fragmen batupasir dan batulemoung Formasi Totogan, batupasir Formasi Waturanda, breksi andesit Formasi Waturanda, intrusi diabas atau mikrogabro, serta beberapa variasi litologi yang menyusun masing-masing satuan tersebut. Persebaran batuan dan hubungan antar satuan tersebut memberikan gambaran mengenai perkembangan geologi daerah Sempor yang berlangsung melalui proses sedimentasi, deformasi, hingga aktivitas magmatik.

Salah satu fitur geologi yang menarik ditemukan pada sungai utama yang mengalir dari wilayah Kenteng menuju Somagede. Sungai ini tidak hanya menjadi bagian penting dari bentang alam daerah pemetaan, tetapi juga masih dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat untuk aktivitas sehari-hari, seperti mencuci dan mandi. Pada beberapa bagian sungai yang tersusun oleh perlapisan batupasir Formasi Waturanda, ditemukan struktur geologi dan tiga struktur slump yang menunjukkan adanya deformasi pada sedimen. Struktur slump ini menarik karena pada pengamatan awal bentuk perlapisannya dapat terlihat menyerupai lipatan. Namun, karena deformasinya bersifat lokal dan ditemukan lebih dari satu struktur, sementara arah kemiringan lapisan utama masih dapat diamati, struktur tersebut kemudian diinterpretasikan sebagai slump. Keberadaan slump menunjukkan bahwa proses deformasi pada batuan tidak selalu berkaitan dengan struktur tektonik berskala regional, tetapi juga dapat terbentuk secara lokal pada saat sedimen mengalami pergerakan atau deformasi sebelum menjadi batuan sepenuhnya.

Hasil pemetaan di daerah ini dapat menjadi data dasar untuk memahami persebaran batuan, struktur geologi, serta perkembangan sejarah geologi wilayah Sempor. Informasi tersebut juga dapat membantu mengenali hubungan antara kondisi geologi dengan bentang alam dan keberadaan sungai yang dimanfaatkan masyarakat. Dengan mengetahui kondisi geologi dan karakteristik batuan di sekitar aliran sungai, potensi permasalahan seperti pencemaran maupun perubahan kondisi lingkungan dapat lebih mudah dipahami dan menjadi pertimbangan dalam pengelolaan lingkungan setempat. Hal ini secara tidak langsung berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6: Clean Water and Sanitation, melalui upaya pemahaman dan pengelolaan sumber daya air, serta SDG 15: Life on Land, melalui peningkatan pemahaman terhadap kondisi geologi dan lingkungan darat. Dengan demikian, pemetaan geologi tidak hanya menjadi kegiatan untuk menghasilkan peta, tetapi juga dapat menjadi langkah awal dalam memahami dan menjaga hubungan antara kondisi geologi, lingkungan, dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Penulis: Arinal Orthopa Wibowo

 

Humas Departemen | Oktober 2026