
Desa Kaligending dan sekitarnya (Pencil dan Langse) merupakan bagian dari Antiklinorium Karangsambung pada Zona Fisiografi Pegunungan Serayu Selatan yang menyimpan rekaman sejarah bumi yang kompleks. Melalui Pemetaan Geologi Mandiri 2026, kami berkesempatan menelusuri langsung kondisi geologi di wilayah tersebut. Kegiatan lapangan ini menghadirkan tantangan fisik yang cukup berat; kelerengan curam akibat litologi breksi yang resisten memaksa kami melakukan trekking sepenuhnya, menembus vegetasi lebat dan berduri di sepanjang lintasan pemetaan demi mendapatkan data geologi yang akurat.
Secara geologis, wilayah Kaligending tersusun atas batuan yang bervariasi. Kami menjumpai perselingan batupasir dan batulanau karbonatan (Formasi Penosogan), batulempung (Formasi Karangsambung), breksi (Formasi Waturanda), hingga endapan aluvial, serta struktur lipatan berupa sinklin di bagian selatan. Di area utara kavling, terdapat fitur geologi unik berupa dua bukit yang terbentuk dari bongkah olisostrom raksasa dengan litologi batugamping terumbu. Pada bukit ini terdapat gua, namun sayangnya saat itu aksesnya sedang ditutup sehingga bagian dalamnya tidak dapat kami amati. Selain gua, fitur lain yang paling menonjol adalah tambang andesit skala kecil yang dikelola warga. Tambang pada satuan breksi ini menyingkapkan tebing setinggi 15 hingga 20 meter dengan perlapisan batupasir kerikilan dan breksi berfragmen andesit yang masih segar. Menariknya, singkapan tambang ini tidak hanya mengundang perhatian kami. Di lokasi ini, kami kebetulan bertemu dengan mahasiswa geologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Pattimura (Unpatti), menghasilkan kesempatan untuk melakukan diskusi dadakan dan pengamatan singkapan bersama.


Tambang ini menjadi bagian penting dari ekonomi masyarakat setempat, terlihat dari keberadaan sejumlah warung warga di sekitar area penambangan. Meskipun memberikan manfaat, kondisi bentang alam Kaligending juga menyimpan risiko. Lereng tambang yang curam dengan singkapan breksi menyimpan potensi bencana longsor dan jatuhan batuan (rockfall). Selain itu, area elevasi rendah di sekitar Kali Gending rawan terhadap banjir luapan.
Tujuan utama dari pemetaan ini adalah untuk mengumpulkan data persebaran litologi, sejarah geologi, morfologi daerah, serta struktur geologi yang ada. Data-data ini kemudian diharapkan dapat mendukung warga sekitar dalam berbagai aspek, salah satunya penentuan tata guna lahan. Sebagai contoh, area batuan karbonat yang kaya kalsium terbukti ideal untuk budidaya pohon jati, sedangkan morfologi datar dari batulempung dan sedimen karbonatan cocok untuk permukiman dan pertanian. Lebih dari itu, pemahaman karakteristik litologi dapat membantu warga dalam manajemen potensi air bersih berupa akuifer, sementara data struktur geologi berguna sebagai basis penting mitigasi bencana di kawasan tersebut.
Kegiatan pemetaan ini tak sekadar aktivitas akademis, melainkan wujud nyata dukungan geologi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs). Analisis litologi untuk manajemen ketersediaan air tanah sejalan dengan SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak. Selain itu, rekomendasi tata guna lahan yang berkelanjutan dan mitigasi bencana sangat mendukung tercapainya SDG 15: Ekosistem Daratan. Melalui pemetaan geologi, pengelolaan lingkungan yang seimbang dapat terus diupayakan bagi masyarakat Kaligending.
Penulis: Devan Aurelio Aristawan
Humas Departemen | Oktober 2026