Antara Yogyakarta dan Kutub: Menaklukkan Jarak Lewat Penelitian Lintas Disiplin

Februari 2026 lalu, Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bekerja sama membentuk Tropical-Polar Interconnection Research Group. Salah satu dosen Departemen Teknik Geologi, Dr. Nugroho Imam Setiawan (Geo-00), ahli batuan metamorf di Teknik Geologi UGM, menjadi salah satu peneliti yang ikut serta dalam proyek ini. Sepuluh tahun yang lalu, Pak Nugroho mengikuti ekspedisi ke Antartika, pengalaman yang menjadikannya dipercaya menjadi ketua
kelompok penelitian ini.

Pak Nugroho menyampaikan bahwa kelompok penelitian ini dibentuk sebagai langkah awal partisipasi aktif UGM dalam mewakili Indonesia sebagai negara tropis untuk menghadapi perubahan iklim global. Sebelumnya, peneliti UGM sudah beberapa kali melakukan penelitian mengenai kutub. Tropical-Polar Interconnection Research Group kemudian dibentuk sebagai wadah untuk mengakomodasi penelitian multidisipliner mengenai kutub. Penelitian yang dilakukan tidak lagi menjadi effort individu dan memberikan kesempatan luas untuk menjawab tantangan perubahan iklim.

Pembentukan kelompok penelitian ini merupakan bentuk kekhawatiran Universitas Gadjah Mada terhadap isu perubahan iklim yang mulai dirasakan di negara-negara tropis. Para peneliti Universitas Gadjah Mada menyadari bahwa apa yang saat ini terjadi di kutub berdampak pada keadaan iklim negara tropis. Pak Nugroho mengungkapkan bahwa Bumi merupakan satu kesatuan utuh, sehingga apa yang terjadi di satu belahan Bumi akan memberikan dampak ke belahan Bumi lainnya. Dampak pemanasan global memang paling jelas terlihat di daerah kutub, tetapi pemanasan global juga menimbulkan berbagai kompleksitas bagi negara tropis, termasuk Indonesia, mulai dari fenomena alam hingga fenomena ekonomi dan politik.

Posisi Indonesia yang membentang di garis khatulistiwa selama ini telah melindungi Indonesia dari serangan badai. Namun, bencana hidrometeorologi akibat badai tropis yang tahun lalu terjadi di Sumatera bagian utara telah mengisyaratkan bahwa Indonesia sebagai negara khatulistiwa juga telah terdampak oleh perubahan iklim. Badai tropis di langit Sumatera terbentuk akibat perubahan tekanan udara di laut tropis Sumatera. Hal ini terjadi akibat peningkatan suhu lautan di daerah ekuator oleh fenomena La Nina dan pemanasan global. Selain itu, peneliti UGM menemukan fenomena anomali oseanografi, di mana biota laut yang seharusnya hidup di kutub mulai ditemukan di perairan tropis. Peristiwa ini mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh tinggal diam dan menjadi penonton saja, tetapi harus mulai berkontribusi aktif dalam mendalami isu perubahan iklim. Kontribusi ini juga dapat dilakukan dengan meneliti fenomena-fenomena di Indonesia yang berhubungan dengan kutub, tidak harus selalu melakukan penelitian langsung di kutub.

Perbedaan kondisi geografis dan jauhnya jarak antara kutub ke Indonesia menjadi sebagian dari tantangan besar pada penelitian ini. Namun, Pak Nugroho mengungkapkan bahwa kesempatan ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk belajar dan memperdalam keilmuan mengenai kondisi kutub dan Indonesia saat ini. Dari ekspedisi yang lalu, Pak Nugroho menyebutkan bahwa Benua Antartika dengan batuan metamorfnya merupakan objek penelitian yang sangat baik sekaligus sebagai objek pembanding dengan batuan metamorf di Indonesia. Indonesia adalah busur kepulauan yang relatif muda dan sebagian besar merupakan zona subduksi. Namun, beberapa bagian dari wilayah Indonesia pernah menjadi satu kesatuan dengan wilayah kutub, menandakan bahwa tropicalpolar connection itu benar-benar ada. Menurut Beliau, rekam jejak para peneliti Indonesia di kutub serta banyaknya Diaspora yang tinggal di negara dingin telah membuktikan bahwa peneliti dari Indonesia mampu untuk beradaptasi dengan kondisi geografis di kutub setelah melalui rangkaian
pelatihan khusus.

Sumber: Humas UGM
Pak Nugroho saat kunjungan ke Punta Arenas, Chile – salah satu pintu gerbang menuju Antartika

Saat ini, para peneliti Tropical-Polar Interconnection Research Group sedang fokus membangun kemitraan dengan berbagai pihak. Kemitraan ini dibangun untuk mendapatkan dukungan terhadap kelompok penelitian ini. Selain itu, para peneliti sedang menyusun sebuah buku yang merangkum pengalaman mereka melakukan penelitian mengenai kutub. Bersamaan dengan itu, Tropical-Polar Interconnection Research Group diharapkan bisa memperoleh sumber pendanaan yang sustain sehingga bisa terus berkembang dalam jangka waktu yang panjang. Harapannya melalui kelompok penelitian ini, Universitas Gadjah Mada dapat menjadi wadah bagi publik untuk mendalami tropical-polar interconnection.

Penulis: Zalfa (Geo-24), Jeta (Geo-25), Avi (Geo-07), Esti (Geo-02)

Sumber: https://geologi.ugm.ac.id/edisi-juli-agustus-2026-exploring-frontiers-of-geology/