
Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada menggelar guest lecture bertajuk “Water Security from Volcanic Aquifers: A Groundwater Ridge to Reef Approach” pada Rabu (21/1/2026). Acara yang berlangsung di Meeting Room 2.1, Lantai 2 Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM ini digelar secara hybrid, memadukan kehadiran langsung dan partisipasi daring melalui Zoom. Acara ini menghadirkan Alix Toulier, Ph.D. dari Hydrosciences Laboratory, University of Montpellier, Prancis, sebagai pembicara utama. Kegiatan diikuti oleh 30 peserta onsite dan 58 peserta melalui Zoom, mencerminkan antusiasme yang tinggi terhadap topik ketahanan air di wilayah akuifer vulkanik.
Peserta berasal dari berbagai latar belakang, termasuk instansi pemerintah dan lembaga penelitian seperti Pusat Air Tanah dan Geologi Lingkungan (PATGTL), BRIN, Kementerian PUPR, ESDM Provinsi Jawa Tengah, dan BKAT (Balai Konservasi Air Tanah). Selain itu, hadir pula perwakilan PAAI (Perhimpunan Ahli Air Tanah Indonesia), NGO Jagasemesta, akademisi dari ITB, UNDIP, UB dan UNPAD, sektor industri AQUA Danone, serta dosen, mahasiswa S1, S2, dan S3 Departemen Teknik Geologi UGM.
Dalam paparannya, Alix Toulier membagikan pengalaman riset air tanah di berbagai wilayah vulkanik di dunia, seperti Hawai, kawasan Bromo–Tengger, dan Pulau La Réunion. Ia menjelaskan karakteristik unik akuifer vulkanik, mulai dari heterogenitas litologi, peran rekahan dan lava flow, hingga keterkaitan antara sistem air tanah di daerah hulu dan wilayah pesisir melalui pendekatan “groundwater ridge to reef”.

Diskusi berlangsung sangat interaktif. Peserta aktif mengajukan pertanyaan yang mencakup berbagai aspek hidrologi dan hidrogeologi, antara lain terkait ketersediaan dan kualitas data curah hujan, pengaruh peristiwa siklon (cyclone) terhadap imbuhan air tanah, serta bagaimana variabilitas iklim ekstrem memengaruhi sistem akuifer vulkanik. Beberapa peserta juga menanyakan bagaimana data curah hujan dikombinasikan dengan observasi lapangan untuk membedakan kontribusi hujan langsung dan proses imbuhan lainnya.
Topik yang paling banyak mendapat perhatian adalah Cloud Water Interception (CWI). Peserta mendiskusikan bagaimana CWI dapat diukur, seberapa besar kontribusinya dibandingkan hujan, serta tantangan dalam mengintegrasikan proses CWI ke dalam pemahaman proses hidrologi secara menyeluruh. Pertanyaan juga muncul mengenai hubungan antara tutupan vegetasi, ketinggian, dan dinamika kabut terhadap besarnya kontribusi CWI pada pengisian air tanah.
Selain itu, diskusi berkembang ke arah pemodelan numerik (numerical model). Peserta menanyakan bagaimana proses CWI, curah hujan, dan aliran air tanah direpresentasikan dalam model, termasuk keterbatasan data dan asumsi yang digunakan. Isu lain yang dibahas meliputi ketebalan akuifer, kontrol geologi terhadap penyimpanan dan aliran air tanah, serta implikasinya terhadap kualitas air, baik dari sisi interaksi batuan air maupun kerentanan terhadap pencemaran.
Alix menekankan bahwa pemahaman terpadu antara iklim, vegetasi, proses hidrologi, dan sistem akuifer sangat penting untuk mendukung ketahanan air (water security) di wilayah vulkanik, terutama di tengah tantangan perubahan iklim. Guest lecture ini dinilai memberikan wawasan yang sangat relevan dan aplikatif, serta membuka ruang diskusi lanjutan antara akademisi, peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan.

Menutup kegiatan tersebut, Prof. Heru Hendrayana menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh narasumber serta peserta yang hadir, baik secara luring maupun daring. Ia menilai antusiasme dan diskusi yang berlangsung menunjukkan pentingnya isu imbuhan air tanah dalam mendukung ketahanan air, khususnya di wilayah akuifer vulkanik. Menurutnya, riset mengenai Cloud Water Interception (CWI) yang dipaparkan menjadi kajian yang menarik karena masih relatif jarang dibahas, padahal CWI merupakan salah satu komponen penting dalam proses pengisian air tanah. Prof. Heru juga menyoroti bahwa pendekatan groundwater ridge to reef belum banyak diterapkan dalam studi air tanah di Indonesia, sehingga ke depan diharapkan dapat membuka pemahaman baru mengenai keterkaitan sistem air tanah dari daerah hulu hingga pesisir, serta mengungkap potensi sumber-sumber air di wilayah pantai yang selama ini belum banyak dieksplorasi.
Penulis : Narulita Santi dan Faridha Aprillia
Humas Departemen | Januari 2026