Pelaksanaan GeoFirst 2026 pada Sabtu, 22 Agustus 2026 menjadi salah satu momen yang tidak hanya memperkenalkan mahasiswa Teknik Geologi Angkatan 2026 kepada lingkungan Departemen Teknik Geologi FT UGM, tetapi juga memberikan pelajaran berharga bagi seluruh panitia tentang arti koordinasi, kesiapan, dan kemampuan beradaptasi. Dengan mengusung tema “Passing the Geological Legacy: Building Character, Creating Impact”, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi Angkatan 2026 untuk mengenal lebih dekat dunia Teknik Geologi sekaligus HMTG FT UGM.
Di daerah Sipedang dan sekitarnya, batuan menjadi saksi dari proses geologi yang berlangsung jauh sebelum wilayah ini dikenal seperti sekarang. Hasil pemetaan Geologi Mandiri 2026 menunjukkan adanya berbagai singkapan dengan orientasi yang beragam. Beberapa singkapan memperlihatkan kenampakan yang menyerupai lipatan, sementara pada singkapan lainnya dijumpai patahan. Ditemukan juga batuan dengan kenampakan yang unik seperti coklat. Keragaman kenampakan tersebut menjadi bagian dari karakter geologi yang dapat diamati di daerah pemetaan.

Di kesempatan tahun 2026 ini, Zona Serayu Utara menjadi target utama untuk aktivitas mapping mandiri untuk Mahasiswa Teknik Geologi UGM angkatan tahun 2024 di akhir semester 4 ini. Kali ini menyusuri daerah yang cukup bisa dibilang lumayan jauh dari aktivitas magmatisme yakni di zona Kendal. Secara umum, daerah Kendal dipenuhi dengan lapisan sedimen yang terlipat yang sudah terbentuk di kala tersier. Proses perlipatan diikuti dengan aktivitas vulkanisme oleh Gunung Ungaran purba dan Gunung Sindoro di kala kuarter.
Kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri 2026 di Kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen, menjadi pengalaman bagi saya untuk menerapkan ilmu geologi secara langsung di lapangan. Selama pemetaan, saya mengamati singkapan batuan, mengidentifikasi litologi, mengukur struktur geologi, serta memahami kondisi geomorfologi dan hubungan antar satuan batuan. Beragam struktur geologi seperti kekar, sesar, dan variasi kedudukan lapisan menjadi hal menarik yang saya temukan selama kegiatan.

Bagi saya, pemetaan ini bukan hanya tentang mengumpulkan data, tetapi juga memahami kondisi geologi yang ada di sekitar masyarakat. Data yang saya peroleh dapat memberikan gambaran mengenai karakteristik batuan, struktur geologi, dan kondisi geomorfologi di wilayah Sruweng. Dari kegiatan ini, saya belajar bahwa informasi geologi dapat menjadi salah satu dasar dalam memahami potensi maupun permasalahan lingkungan di suatu wilayah.
Lokasi: Kecamatan Karangkobar dan Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah
Kegiatan pemetaan geologi merupakan salah satu tahapan penting dalam memahami kondisi permukaan dan bawah permukaan (menggunakan sayatan geologi) suatu wilayah, baik untuk kepentingan akademik, mitigasi bencana, maupun perencanaan pembangunan. Pada kesempatan ini, kegiatan pemetaan geologi dilakukan di kavling saya yang berada di wilayah Kecamatan Karangkobar, Kecamatan Wanayasa, dan sekitarnya, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Aktivitas pemetaan meliputi pengamatan singkapan batuan, pengukuran kedudukan lapisan batuan (strike/dip), pengamatan struktur geologi, identifikasi jenis litologi, serta pencatatan kondisi morfologi di sepanjang lintasan pemetaan. Data lapangan tersebut kemudian diolah menjadi peta geologi yang menggambarkan sebaran satuan batuan, pola struktur, dan bentang alam pada kavling.
Wadasmalang merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Kebumen yang menyimpan keragaman geologi dan bentang alam yang menarik. Kawasan perbukitan, lembah, sungai, serta singkapan batuan yang dijumpai di sepanjang perjalanan bukan hanya menjadi bagian dari pemandangan, tetapi juga menyimpan cerita mengenai proses geologi yang telah berlangsung selama jutaan tahun. Hal tersebut menjadi salah satu hal yang menarik untuk dipahami melalui kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri 2026 di daerah Wadasmalang dan sekitarnya.
Sebagai anak yang tumbuh di Jakarta, kehidupan saya sebelumnya cukup jauh dari kata “lapangan”. Pergi ke mall, berjalan di tempat ber-AC, dan jarang terkena matahari mungkin lebih menggambarkan zona nyaman saya. Masuk hutan, berjalan di bawah terik matahari, duduk di tanah, terkena gatal-gatal karena tanaman, atau melewati medan terjal bukanlah aktivitas yang pernah saya bayangkan akan menjadi bagian dari kehidupan saya. Bahkan membayangkan diri melakukan hal-hal tersebut saja tidak pernah terpikirkan. Namun, masuk Teknik Geologi ternyata membawa saya ke tempat yang sangat jauh dari kebiasaan itu. Kuliah Lapangan di Kebumen menjadi salah satu pengalaman yang paling membuat saya sadar bahwa ternyata saya bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.
Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (HMTG FT UGM) melaksanakan kegiatan HMTG Bertamu pada 22–24 Agustus 2026 dengan mengunjungi Institut Teknologi Bandung (ITB). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Divisi Jaringan Bidang Eksternal ini menjadi wadah bagi pengurus HMTG FT UGM untuk mempererat silaturahmi sekaligus membangun jejaring dengan Himpunan Mahasiswa Teknik Minyak “PATRA” ITB. Sebanyak 70 delegasi HMTG FT UGM turut berpartisipasi dalam kegiatan yang menggabungkan unsur organisasi, akademik, dan kebersamaan tersebut.
Yogyakarta, 20 Agustus 2026 — Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM) menerima kunjungan benchmarking dari Politeknik Energi dan Pertambangan (PEP) Bandung pada Kamis, 20 Agustus 2026. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya PEP Bandung untuk meningkatkan kualitas tata kelola penyelenggaraan pendidikan, khususnya dalam pengelolaan administrasi akademik dan laboratorium.
Kunjungan benchmarking menjadi sarana bagi PEP Bandung untuk memperoleh wawasan, referensi praktik baik (best practices), serta bertukar informasi dan pengalaman mengenai tata kelola administrasi akademik dan pengelolaan layanan laboratorium. Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus referensi dalam pengembangan layanan pendidikan di PEP Bandung.
Sadeng dan daerah sekitarnya mungkin terlihat seperti kawasan biasa di Kota Semarang. Namun, di balik perbukitan, sungai, dan permukimannya, terdapat bentang alam yang terbentuk melalui proses geologi dalam waktu yang sangat panjang. Melalui kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri, kondisi tersebut dapat dipelajari secara langsung sekaligus memperkenalkan potensi yang ada di lingkungan sekitar. Salah satu yang menarik adalah Curug Gribik, yang berada di dalam area pemetaan dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.