Kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri (PGM) 2026 membawa penulis melakukan pemetaan geologi di Desa Gunung Condong, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Area pemetaan berada di sekitar batas antara Formasi Halang dan Formasi Peniron. Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas mandiri mahasiswa Teknik Geologi yang bertujuan melatih kemampuan observasi lapangan, pengukuran data struktur geologi, serta interpretasi hubungan stratigrafi antarsatuan batuan
Aktivitas Pemetaan di Kavling
Selama kegiatan pemetaan, pengamatan difokuskan pada karakteristik litologi dan hubungan stratigrafi yang tersingkap di lapangan. Aktivitas yang dilakukan meliputi pengukuran arah jurus dan kemiringan (strike-dip) perlapisan batuan, deskripsi litologi secara sistematis, serta pengamatan megaskopis pada bidang kontak antarsatuan batuan. Data tersebut digunakan untuk memahami hubungan genetik antarsatuan sekaligus merekonstruksi sejarah pengendapan dan proses geologi yang membentuk area pemetaan.
Fitur Geologi Lokal: Vulkanisme Purba di Curug Kyai Kate
Salah satu fitur geologi paling menonjol dalam kavling pemetaan dijumpai di sekitar Curug Kyai Kate. Sekuen litologi di lokasi ini diawali oleh perlapisan batupasir tuf sebagai satuan yang lebih tua, kemudian diikuti oleh aliran lava yang menunjukkan struktur lava bantal (pillow lava). Rongga di antara bantal-bantal lava (interpillow) terisi oleh rijang jenis jasper dan disertai indikasi mineralisasi sulfida yang telah mengalami oksidasi hingga membentuk gossan.
Bukti yang paling kuat untuk menunjukkan adanya aktivitas vulkanik purba ditemukan pada bidang kontak antara batupasir tuf dan lava. Pada bidang tersebut berkembang marjin terbakar (baked margin), yang ditandai oleh perubahan warna batuan menjadi lebih gelap akibat pengaruh panas. Kondisi ini mengindikasikan bahwa lava mengalir di atas sedimen yang belum sepenuhnya mengalami litifikasi. Hubungan tersebut dapat disebut sebagai kontak sin-vulkanik dan menjadi indikasi bahwa aktivitas vulkanisme berlangsung secara in-situ, bukan sebagai hasil rombakan material vulkanik dari lokasi lain.
Selain itu, pada beberapa titik pengamatan ditemukan variasi arah jurus dan kemiringan yang tidak konsisten. Variasi tersebut diinterpretasikan sebagai hasil deformasi sin-sedimenter berupa slumping. Kondisi ini diduga berkaitan dengan posisi lokasi yang relatif dekat dengan pusat erupsi purba, yang diperkirakan berada di bagian selatan area penelitian.
Keberadaan jasper dan gossan pada rongga lava bantal mengindikasikan bahwa lokasi ini kemungkinan pernah menjadi bagian dari sistem hidrotermal eksalatif bertemperatur rendah yang berasosiasi dengan aktivitas vulkanisme bawah laut. Lingkungan pengendapan diinterpretasikan sebagai lingkungan laut dalam, khususnya batial atas, pada cekungan busur vulkanik (back-arc/intra-arc). Interpretasi tersebut sejalan dengan karakter regional Formasi Halang.
Kontribusi Kegiatan Pemetaan terhadap Kondisi Lokal
Temuan singkapan lava bantal, baked margin, jasper, dan gossan di Curug Kyai Kate memberikan informasi penting untuk memahami kondisi geologi lokal di Gunung Condong serta menambah data stratigrafi regional Jawa Tengah bagian selatan. Dokumentasi yang lebih rinci terhadap fitur-fitur tersebut dapat menjadi dasar bagi penelitian lanjutan, antara lain melalui analisis petrografi dan geokimia untuk memperkuat interpretasi mengenai genesis vulkanisme di daerah tersebut.
Selain memiliki nilai ilmiah, keberadaan fitur vulkanik purba yang relatif jelas di Curug Kyai Kate juga membuka peluang untuk pengembangan kawasan sebagai situs edukasi geologi maupun lokasi geowisata. Dengan pengelolaan yang tepat, potensi tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, baik dalam bidang edukasi kebumian maupun melalui peluang ekonomi dari pengembangan pariwisata berbasis geologi.
Kaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs)
Kegiatan pemetaan dan dokumentasi fitur geologi di Curug Kyai Kate turut mendukung beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain:
- SDG 4 (Pendidikan Berkualitas): melalui penyediaan data dan materi edukasi kebumian yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan kalangan akademisi.
- SDG 15 (Ekosistem Daratan): melalui dokumentasi, pengenalan, dan potensi konservasi situs geologi unik seperti Curug Kyai Kate.
- SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi): melalui peluang pengembangan lokasi sebagai destinasi geowisata yang dapat mendorong aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.
- SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur): melalui kegiatan riset berbasis observasi lapangan dan interpretasi ilmiah yang dapat menjadi landasan bagi kajian lebih lanjut.
Penutup
Singkapan lava bantal, baked margin, jasper, dan gossan di Curug Kyai Kate menjadi salah satu indikasi penting keberadaan aktivitas vulkanisme purba yang terekam dalam kavling pemetaan Desa Gunung Condong. Temuan tersebut tidak hanya memperkaya pemahaman mengenai kondisi geologi regional, tetapi juga menunjukkan potensi pengembangan kawasan sebagai sarana edukasi geologi dan geowisata. Dengan pengelolaan yang tepat, potensi tersebut dapat mendukung upaya pembangunan berkelanjutan di wilayah sekitar.
Penulis: Muhammad Rafii Hawali Asril
Humas Departemen | Oktober 2026