Jejak Waktu Di Tanah The Jewel Of Java: Perjalanan Menyingkap Sejarah Geologi Kulon Progo Dari Eosen Hingga Miosen

Kulon Progo, sebuah kabupaten yang berada tepat di sisi barat Yogyakarta, kerap dikenali lewat keindahan Pegunungan Menoreh dan hamparan sawah asrinya. Kesan tenang sejuk ini ternyata menyimpan cerita jauh lebih tua dari yang terlihat di permukaan, sebab lapisan demi lapisan batuan di wilayah ini merekam perjalanan waktu sejak Kala Eosen hingga Miosen Akhir.

Di tanah ini, tahun kedua perkuliahan kami banyak mengukir cerita. Membekas di sudut hati kami, Kelompok A08. Di tanah ini pula, kami belajar cara membaca babak besar sejarah geologi yang tersusun rapi bagai lembaran buku yang saling menyambung. Secara fisiografis, wilayah kavling kami termasuk dalam Zona Serayu Selatan bagian timur. Tepatnya dikenal sebagai Oblong Dome atau Kubah Oblong Kulon Progo. Kubah ini terbentuk sebagai hasil pengangkatan tektonik yang menyingkap batuan berumur tua di bagian tengahnya, sehingga morfologinya melingkar. Pada kavling saya, tersingkap batuan berumur paling tua, yakni Formasi Nanggulan.

Formasi Nanggulan menjadi lembar pertama, lapisan tipis coal dan lempung hitam sering terlihat pada setiap singkapannya. Dari semua perjalanan susur sungai, seolah-olah saya kembali ke 54 juta tahun yang lalu. Formasi ini dapat saya ceritakan sebagai daerah transisi yang menyimpan jejak dari rawa-rawa purba. Batupasir yang memiliki lensa mineral kuarsa juga dapat menceritakan bahwa dulunya, daerah ini merupakan zona transisi dengan energi pengendapan kuat, kemungkinan berupa delta.

 

Beranjak ke lembar selanjutnya, Formasi Andesit Tua menyapa dengan wajah yang jauh berbeda, dipenuhi lapilli tuff dan breksi andesit menjadi saksi letusan gunung api purba. Kalisonggo menjadi napak tilas saya untuk melihat kekar tiang, sedangkan di arah selatannya tersingkap Gunung Mujil, bagai tonjolan tumor yang menyembul di antara topografi landai sekitarnya. Kontak antara tuf, batupasir tufan dengan konglomerat dari Formasi Jonggrangan yang saya temui menandai berakhirnya fase vulkanisme dan dimulainya babak baru pengendapan laut. Formasi Jonggrangan banyak dijumpai pada puncak perbukitan, tersusun oleh batugamping kristalin dan kalkarenit yang mencerminkan lingkungan terumbu dangkal, berkembang di atas tubuh vulkanik yang telah terangkat.

Struktur yang saya temui kebanyakan menunjukkan struktur patahan atau sesar, baik sesar turun dan naik di beberapa singkapan Formasi Andesit Tua serta sheeting joint dan kekar. Hal ini seolah-olah dapat bercerita, bahwa dahulu Kulon Progo banyak mengalami proses tektonik.

Di sela-sela kegiatan pemetaan yang menuntut ketelitian dan tenaga ekstra menaklukkan perbukitan Kulon Progo, ada cerita yang tak kalah berharga untuk dikenang. Ditemani adik porter, yang kerap saya panggil “Rifqi”, perjalanan menyusuri kavling terasa jauh lebih ringan. Motor Rifqi yang sesekali kewalahan menghadapi turunan curam hingga sempat tak sanggup menanjak, dan setiap perjalanan pulang yang dipenuhi oleh pemandangan anak-anak kecil bermain layangan di antara ladang, semuanya menjadi bumbu perjalanan mencari sejarah geologi di Perbukitan Kulon Progo ini. Tak lupa keluarga kecil kami di pondokan, kehangatan lain turut tumbuh, sarapan dan makan malam yang tanpa absen kami lakukan bersama, cerita lucu dari kavling kami masing-masing dibagikan setiap hari, menjadikan kuliah lapangan ini bukan sekadar “ngelapang”, melainkan juga kenangan kami yang mungkin akan selalu dapat diingat ketika bersua.

 

 

 

Selain itu, setiap sudut kavling yang kami telusuri menjadi ruang perjumpaan dengan warga sekitar, tak jarang menghampiri dengan rasa penasaran, menanyakan apa yang sedang kami cari di antara bebatuan. Momen sederhana itu kami manfaatkan untuk berbagi sedikit pengetahuan, mengenalkan potensi apa saja yang ada di dalam batuannya, menjelaskan risiko gerakan tanah yang mengintai di lereng-lereng curam, hingga cara sederhana yang kami ceritakan kepada Pak Dukuh agar menghindari bahaya sinkhole di daerah dominan Formasi Jonggrangan. Hal yang kami ceritakan ini sejalan dengan semangat SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 11 mengenai permukiman yang berkelanjutan serta tangguh bencana.

Dan pada akhirnya, di balik setiap jalan sungai yang saya seberangi, setiap jalan setapak yang saya lalui, ada sesuatu perlahan tumbuh tanpa saya sadari, sebuah pemahaman bahwa ilmu yang sesungguhnya tidak pernah berhenti di catatan lapangan. Kulon Progo Juli lalu mengajarkan saya untuk melihat lebih jauh dari sekadar tekstur batuan dan arah jurus lapisan. Saya pulang tidak sekadar membawa peta dan sampel batuan yang berat, saya pulang dengan segenggam kenangan dan rasa syukur karena pernah menjadi bagian dari cerita kecil di tanah itu. Kelak akan menjadi bekal yang saya bawa ke setiap langkah selanjutnya dalam perjalanan menjadi seorang geologist.

Penulis: Dita Ayu Fitriyasari

 

Humas Departemen | Agustus 2026