Desa Kalikarung dan sekitarnya, yang berada di Kecamatan Kalibawang dan menjadi bagian dari kavling pemetaan Serayu Selatan yang membentang di Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Melalui kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri, kondisi geologi wilayah ini dapat dipelajari secara langsung sekaligus membuka wawasan tentang potensi yang tersembunyi di lingkungan sekitar. Salah satu temuan paling menarik dari kegiatan pemetaan ini berada sedikit di luar batas administratif Kalibawang, tepatnya di Curug Muncar, Dusun Kalibang, Desa Kaliwungu, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, sebuah air terjun yang sekaligus menjadi jendela untuk membaca sejarah geologi kawasan Bruno dan sekitarnya.
Curug Muncar dikenal luas sebagai destinasi wisata alam di wilayah utara Purworejo, dengan tebing batuan yang cukup tinggi dan aliran air yang jatuh deras di antara vegetasi hijau perbukitan Bruno. Namun di balik keindahannya, tebing curug ini menyimpan informasi stratigrafi yang penting, singkapannya memperlihatkan batas kontak antara dua formasi batuan yang berbeda umur dan karakter litologi.
Bagian bawah tebing tersusun oleh Formasi Halang, berupa perselingan batupasir dan batulanau yang mencerminkan lingkungan pengendapan laut dalam bersistem turbidit pada kala Miosen Akhir hingga Pliosen Awal. Di atasnya, secara selaras, diendapkan Formasi Peniron yang didominasi oleh breksi andesit berumur Pliosen. Hubungan selaras antara kedua formasi ini menunjukkan bahwa perubahan dari lingkungan pengendapan laut yang relatif tenang menuju lingkungan yang lebih dipengaruhi aktivitas gunung api darat–laut dangkal menerus tanpa jeda pengendapan yang berarti.
Tidak hanya menyimpan rekaman stratigrafi, tebing Curug Muncar juga terpotong oleh sebuah sesar geser dekstral yang jejaknya tampak jelas memotong bidang tebing dengan arah relatif kuadran IV. Kehadiran struktur sesar ini sejalan dengan pola tektonik regional Pegunungan Serayu Selatan, di mana Formasi Halang dan Formasi Peniron di sekitar Bruno–Kutoarjo memang dikenal dipotong oleh sistem sesar mendatar berarah relatif utara–selatan hingga baratlaut–tenggara yang terbentuk pasca-Pliosen, sebagai respons dari tektonik kompresi yang membentuk perlipatan dan sesar naik di kawasan ini. Sesar dekstral pada tebing Curug Muncar menjadi bukti lapangan bahwa air terjun ini tidak hanya terbentuk oleh proses erosi biasa, tetapi juga dikontrol oleh bidang lemah struktur geologi, yang umum terjadi pada air terjun-air terjun di sepanjang Formasi Halang–Peniron di kawasan Serayu Selatan.
Sampai saat ini, Curug Muncar telah dikembangkan menjadi tempat wisata alam yang cukup dikenal oleh masyarakat Purworejo maupun wisatawan dari luar daerah, dengan akses jalan yang sudah relatif mudah dijangkau. Keberadaan singkapan batuan pada tebingnya sebenarnya dapat menjadi nilai tambah edukatif, bukan sekadar latar pemandangan. Wisatawan maupun pelajar yang berkunjung berpotensi diajak mengenal proses pembentukan lanskap, mulai dari perlapisan batupasir-batulanau Formasi Halang, breksi andesit Formasi Peniron, hingga jejak sesar yang membuktikan bahwa kawasan ini pernah mengalami deformasi tektonik aktif.
Di sisi lain, keberadaan sesar dan litologi breksi yang relatif getas pada Formasi Peniron juga mengandung catatan penting terkait potensi risiko. Bidang sesar dan bidang perlapisan yang terpotong dapat menjadi bidang lemah yang rentan terhadap longsoran maupun runtuhan batuan, terutama pada tebing curam seperti di Curug Muncar. Hasil pemetaan geologi di kawasan Bruno secara umum juga mencatat bahwa wilayah dengan litologi serupa memiliki kerawanan terhadap gerakan tanah, sehingga pemahaman terhadap struktur dan litologi setempat menjadi penting sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan kawasan wisata ke depan, misalnya dalam penentuan jalur wisatawan yang aman dan zona yang perlu dipantau kestabilannya.
Kegiatan pemetaan di kavling Kalikarung, Kalibawang, dan sekitarnya termasuk temuan di Curug Muncar menunjukkan bahwa pemetaan geologi bukan sekadar kegiatan akademik untuk menyusun peta dan mengenali jenis batuan. Pemahaman terhadap fitur geologi lokal ini sejalan dengan SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), khususnya melalui identifikasi potensi bahaya geologi seperti longsoran pada tebing bersesar, sehingga pengembangan kawasan wisata dapat berjalan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan. Selain itu, temuan ini juga terkait dengan SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui upaya mengenali dan menjaga bentang alam serta vegetasi di sekitar air terjun agar tetap lestari, serta SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) karena singkapan geologi di Curug Muncar berpotensi dikembangkan sebagai sarana edukasi kebumian bagi masyarakat maupun wisatawan.
Mengenali kontak dua formasi, jejak sesar dekstral, sekaligus nilai wisata dan risikonya, hasil pemetaan di kawasan Kalikarung, Kalibawang, dan Curug Muncar diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mendorong pengelolaan kawasan yang lebih berkelanjutan, tempat di mana keindahan alam, nilai edukasi, dan keselamatan masyarakat dapat berjalan beriringan.
Penulis: Aryaguna Faisha Maheswara
Humas Departemen | Oktober 2026