Memahami Aktivitas Gunung Api Indonesia: Keterkaitan Erupsi, Pengaruh Gempa, dan Pentingnya Kesiapsiagaan

Fenomena meningkatnya aktivitas beberapa gunung api di Indonesia dalam waktu yang berdekatan kerap menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. Apakah erupsi yang terjadi bersamaan memiliki keterkaitan? Apakah gempa bumi dapat memicu erupsi? Seberapa jauh dampak abu vulkanik dapat dirasakan masyarakat?

Berbagai pertanyaan tersebut dibahas dalam program Bincang Geologi yang menghadirkan Prof. Agung Harijoko dan Dr. Haryo Edi Wibowo, ahli vulkanologi dari Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM). Diskusi membahas sistem magma gunung api, fenomena erupsi yang terjadi dalam waktu berdekatan, hubungan gempa bumi dengan aktivitas vulkanik, bahaya abu vulkanik, hingga pentingnya pemantauan dan kesiapsiagaan masyarakat.

Erupsi Berdekatan Tidak Selalu Berarti Saling Berkaitan

Prof. Agung menjelaskan bahwa pada dasarnya setiap gunung api memiliki sistem magma masing-masing. Gunung api yang lokasinya berjauhan, terlebih berada di pulau yang berbeda, umumnya memiliki sistem magma yang terpisah. Oleh karena itu, erupsi yang berlangsung dalam waktu berdekatan tidak dapat secara langsung dianggap memiliki hubungan sebab-akibat.

Erupsi terjadi ketika tekanan magma di bawah permukaan telah cukup besar untuk mengatasi tekanan batuan di atasnya. Proses peningkatan tekanan atau pressure build-up pada setiap dapur magma dapat berlangsung dengan karakter dan waktu yang berbeda.

Dengan kondisi tersebut, beberapa gunung api dapat mengalami erupsi pada periode yang sama sebagai bagian dari proses alamiah masing-masing, tanpa harus berasal dari satu sumber magma yang sama.

Meski demikian, Dr. Haryo menjelaskan bahwa interkoneksi sistem magma dapat terjadi pada gunung api yang lokasinya berdekatan. Sejumlah penelitian menunjukkan kemungkinan adanya keterkaitan sistem magma antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, serta Gunung Batur dan Gunung Agung. Keterkaitan semacam ini secara spasial lebih memungkinkan untuk dikaji dibandingkan menghubungkan gunung api yang berjarak sangat jauh, seperti Gunung Krakatau dan Gunung Merapi.

Aktivitas Gunung Api Dapat Berlangsung dalam Waktu Panjang

Fenomena beberapa gunung api yang tampak aktif secara bersamaan juga perlu dilihat dari karakter aktivitas vulkanik yang dapat berlangsung dalam jangka panjang. Berbeda dengan gempa bumi yang umumnya berlangsung dalam waktu relatif singkat, aktivitas gunung api dapat berkembang selama bertahun-tahun. Dalam diskusi tersebut, Merapi menjadi salah satu contoh. Aktivitas erupsi Gunung Merapi disebut telah berlangsung sejak 2018, antara lain ditandai dengan pertumbuhan kubah lava yang kemudian dapat mengalami keruntuhan dan menghasilkan awan panas.

Durasi aktivitas yang panjang tersebut menyebabkan periode aktivitas sejumlah gunung api dapat saling beririsan. Kondisi ini dapat memberikan kesan bahwa gunung-gunung api tersebut mengalami erupsi secara bersamaan, meskipun masing-masing tetap memiliki sistem magmanya sendiri.

Gempa Bumi Tidak Otomatis Memicu Erupsi

Hubungan antara gempa bumi dan erupsi gunung api juga menjadi salah satu pembahasan penting. Prof. Agung menegaskan bahwa secara geologi, proses tektonik dan vulkanisme memang memiliki keterkaitan dalam pembentukan magma dan sistem gunung api. Namun, terjadinya gempa bumi tidak secara otomatis berarti sebuah gunung api akan segera mengalami erupsi. Erupsi tetap bergantung pada kondisi sistem magma, terutama tekanan yang berkembang di dalam dapur magma.

Dr. Haryo menambahkan bahwa berdasarkan penelitian yang ada, gempa berpotensi memberikan pengaruh apabila terjadi cukup dekat secara spasial dengan gunung api aktif. Guncangan dapat mengganggu kestabilan sistem magma dan berpotensi memengaruhi kondisi tekanan di dalamnya. Namun, dugaan adanya hubungan tersebut perlu dikaji berdasarkan data pemantauan, antara lain perubahan kegempaan vulkanik, deformasi tubuh gunung api, dan emisi gas.

Dengan demikian, hubungan antara gempa dan erupsi tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan urutan waktu antara kedua peristiwa tersebut.

Monitoring Menjadi Kunci Memahami Perubahan Aktivitas

Pemantauan aktivitas gunung api secara terus-menerus menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi bencana. Dr. Haryo menjelaskan bahwa gunung api yang akan mengalami erupsi umumnya menunjukkan tanda-tanda pendahulu atau precursor.

Meskipun waktu terjadinya erupsi belum selalu dapat diprediksi secara tepat, perubahan aktivitas gunung api dapat diamati melalui berbagai parameter hasil pemantauan. Di Indonesia, pemantauan dilakukan secara real-time oleh lembaga terkait, khususnya Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi.

Data kegempaan, deformasi, emisi gas, serta parameter lainnya menjadi bagian dari informasi yang digunakan untuk memahami perkembangan aktivitas gunung api dan mendukung penyampaian peringatan kepada masyarakat.

Abu Vulkanik Dapat Menjangkau Wilayah yang Luas

Dampak erupsi gunung api tidak hanya dirasakan masyarakat yang tinggal di sekitar gunung. Salah satu bahaya yang dapat menjangkau wilayah lebih luas adalah abu vulkanik.

Arah dan jangkauan sebaran abu sangat dipengaruhi oleh arah dan kecepatan angin pada berbagai ketinggian. Dalam kondisi tertentu, abu dapat terbawa hingga ratusan kilometer dari sumber erupsi.

Abu vulkanik juga memiliki dampak terhadap berbagai sektor. Dalam penerbangan, keberadaan abu di atmosfer dapat membahayakan mesin pesawat dan menyebabkan gangguan operasional hingga penutupan bandara. Bagi kesehatan masyarakat, paparan abu dapat berdampak pada sistem pernapasan, kulit, dan mata. Sementara itu, sebaran abu dalam skala luas juga dapat mengganggu berbagai aktivitas masyarakat.

Erupsi eksplosif dengan kolom erupsi yang tinggi memiliki potensi menghasilkan sebaran abu yang lebih luas. Erupsi Gunung Kelud pada 2014 menjadi salah satu contoh yang dibahas, ketika distribusi abu sangat dipengaruhi oleh kondisi angin pada berbagai ketinggian.

Gunung Api di Laut dan Ancaman Tsunami

Gunung api yang berada di laut atau dekat wilayah pantai memiliki potensi bahaya tambahan berupa tsunami. Prof. Agung menjelaskan bahwa peristiwa Krakatau pada 1883 dan Anak Krakatau pada 2018 menunjukkan mekanisme pembentukan tsunami yang berbeda.

Pada 1883, tsunami berkaitan dengan erupsi yang sangat eksplosif. Sementara itu, tsunami pada 2018 dipicu oleh longsoran tubuh Gunung Anak Krakatau.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa pemantauan gunung api di wilayah pesisir maupun laut tidak cukup hanya memperhatikan tanda-tanda erupsi. Kondisi kestabilan tubuh gunung api dan kemungkinan terjadinya longsoran juga perlu menjadi bagian dari perhatian dalam memahami potensi bahaya.

Memahami Peta Kawasan Rawan Bencana

Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api, pemahaman terhadap Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Api menjadi hal penting. Peta KRB memberikan informasi mengenai wilayah yang berpotensi terdampak berbagai bahaya vulkanik, seperti awan panas, aliran lava atau lahar, lontaran material atau balistik, serta hujan abu.

Peta tersebut dapat menjadi salah satu acuan dalam perencanaan pemanfaatan ruang dan pembangunan di kawasan sekitar gunung api. Namun, peta KRB bukanlah dokumen yang bersifat statis. Apabila terjadi erupsi dengan karakter atau jangkauan bahaya yang melampaui kondisi yang sebelumnya dipetakan, evaluasi dan pembaruan peta dapat dilakukan berdasarkan perkembangan data dan kondisi lapangan.

Mengikuti Informasi dari Sumber Resmi

Di tengah cepatnya penyebaran informasi melalui media sosial, masyarakat juga perlu memiliki kemampuan untuk memverifikasi informasi mengenai aktivitas gunung api.

Berbagai kejadian kebumian yang berlangsung dalam waktu berdekatan dapat dengan mudah dihubungkan sebagai suatu rangkaian sebab-akibat, meskipun hubungan tersebut belum tentu didukung oleh data ilmiah.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk mengacu pada informasi dari lembaga resmi dan sumber yang kredibel. Untuk informasi mengenai aktivitas gunung api, masyarakat dapat mengikuti informasi yang disampaikan PVMBG/Badan Geologi, sedangkan informasi mengenai gempa bumi dapat diperoleh melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kesiapsiagaan Dimulai dari Pemahaman Masyarakat

Pada akhirnya, pemahaman terhadap karakter gunung api perlu berjalan beriringan dengan kesiapsiagaan masyarakat. Masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana perlu mengetahui posisi tempat tinggalnya terhadap kawasan KRB, memahami potensi bahaya yang mungkin terjadi, serta mengetahui jalur dan prosedur keselamatan yang berlaku.

Masyarakat juga perlu mematuhi rekomendasi dan batas aman yang ditetapkan oleh pihak berwenang ketika aktivitas gunung api meningkat.

Dalam diskusi tersebut, Komunitas Siaga Merapi (KSM) menjadi salah satu contoh inisiatif masyarakat di kawasan lereng Merapi. Kesiapsiagaan dibangun melalui pengamatan lingkungan, komunikasi antarmasyarakat, serta koordinasi dengan lembaga terkait.

Pemahaman ilmiah, sistem pemantauan yang berkelanjutan, informasi yang terpercaya, serta kesiapsiagaan masyarakat menjadi bagian yang saling melengkapi dalam menghadapi risiko aktivitas gunung api. Melalui pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami fenomena vulkanik, tetapi juga mampu mengambil langkah yang tepat berdasarkan informasi dan arahan resmi ketika terjadi peningkatan aktivitas gunung api.

Sumber:
Podcast Bincang Geologi # Vulkanologi_2
Youtube Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM https://www.youtube.com/watch?v=-lO0-Hh-gUc&t=3s

 

Humas Departemen | September 2026