Menyingkap Geologi melalui Pemetaan
Pemetaan geologi mandiri membawa kami menyusuri wilayah Kedungwringin, Semali, Borosari, Jatinegara, Banjiruyung, Pekunceb, Kedungjati, hingga Pohkumbang. Sepanjang perjalanan, kami menemukan berbagai singkapan batuan dan bentang alam yang membantu menggambarkan kondisi geologi daerah.
Salah satu temuan yang menarik adalah breksi piroklastik Formasi Waturanda, yang dalam kolom stratigrafi daerah memiliki ketebalan lebih dari 600 meter dan merekam aktivitas vulkanik pada masa lalu. Di area kavling yang sama, kami juga menemukan Curug Pejaten, yang menjadi salah satu fitur geologi lokal. Keberadaan curug menunjukkan interaksi antara aliran air, batuan, dan proses erosi dalam membentuk bentang alam.

Melalui pemetaan, temuan tersebut tidak hanya menjadi data di dalam peta, tetapi juga membantu kami mengenali karakter serta potensi geologi lokal. Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk pembelajaran langsung di lapangan yang mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) serta meningkatkan pemahaman mengenai kondisi dan potensi lingkungan lokal sebagai bagian dari SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan).
Cerita di Balik Pemetaan
Di balik kegiatan lapangan yang melelahkan, ada kebersamaan yang membuat perjalanan terasa lebih ringan. Setelah seharian berjalan dan mengumpulkan data, rumah tinggal menjadi tempat untuk memasak Bersama dan berbagi cerita tentang kejadian selama mapping. Hampir setiap malam, ada satu hal yang seolah menjadi menu wajib: pisang goreng.
Hal-hal sederhana seperti inilah yang membuat kegiatan pemetaan terasa lebih dari sekadar mencari data. Dari singkapan dan curug yang kami temukan hingga tawa dan cerita di rumah tinggal, pemetaan meninggalkan dua jenis cerita: cerita bumi yang tersimpan dalam batuan dan bentang alam, serta cerita kebersamaan yang terbentuk selama kami berusaha membacanya.
Penulis: Khaira Nashwa Harahap
Humas Departemen | Oktober 2026