Menelusuri Jejak Batuan dan Cerita di Pati–Grobogan: Catatan Kuliah Lapangan Mandiri 2025

Penulis: Mitsalina Almas Salsabila

 

Bagi mahasiswa Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, kuliah lapangan merupakan mata kuliah wajib yang diambil pada akhir semester genap. Kuliah lapangan menjadi momen penting untuk keluar dari ruang kuliah dan menerapkan teori yang telah dipelajari dikelas ke dalam praktek lapangan. Kegiatan kuliah lapangan dibagi menjadi 2 bagian, yaitu Kuliah Lapangan Bayat dan Kuliah Lapangan Mandiri.

Gambar 1. Kegiatan Reconnaissance bersama Bu Esti Handini

Kuliah Lapangan Bayat berlangsung selama 10 hari yang berlokasi di Kampus Lapangan Geologi Bayat, Klaten. Kuliah Lapangan Bayat lebih menekankan pada teknik pengumpulan data geologi yang dibantu oleh asisten serta dosen. Teknik pengumpulan data geologi diantaranya seperti pengukuran strikedip, pengamatan batuan, pengamatan geomorfologi, hingga pada pembuatan poster geologi. Sedangkan Kuliah Lapangan Mandiri merupakan penerapan secara mandiri dari apa yang telah didapat pada saat perkuliahan serta pada saat Kuliah Lapangan di Bayat.

Kuliah Lapangan Mandiri dilaksanakan kurang lebih satu bulan, dengan penulis sebagai salah satu mahasiswa yang melaksanakan Kuliah Lapangan Mandiri pada Kavling 101, Kabupaten Grobogan dan Pati. Pada minggu pertama, penulis beserta teman sekelompoknya melakukan orientasi lapangan (Reconnaissance) bersama dosen pembimbing untuk mengetahui medan serta kasaran kavling. Pada minggu kedua penulis melakukan pemetaan secara mandiri, berupa mencari serta mengukur struktur, mengenali litologi, mencatat stratigrafi, serta mengambil sampel batuan yang nantinya akan diolah menjadi data paleontologi serta petrogragfi. Pada minggu ketiga dilakukan pengecekan (checking) oleh dosen pembimbing yang bertujuan untuk memvalidasi data dilapangan. Dan dilanjutkan melengkapi data – data geologi yang dirasa kurang.

Hasil pemetaan penulis menunjukkan bahwa Kavling 101 didominasi oleh batugamping pada Formasi Bulu dan Ngrayong, dengan tekstur batuan yang bervariasi. Pada beberapa titik STA terdapat kontak antara batugamping dengan batulempung serta batupasir. Struktur geologi seperti sesar dan kekar banyak terbentuk pada wilayah ini yang mengakibatkan terbentuknya morfologi perbukitan. Selain itu, aktivitas tambang yang dilakukan oleh warga sekitar merupakan contoh pemanfaatan potensi geologi pada bidang industri.

Gambar 2. Singkapan Batupasir Karbonatan Formasi Ngrayong yang dimanfaatkan sebagai tambang

Melalui kegiatan pemetaan ini, Kavling 101 tidak hanya memberikan gambaran geologi secara ilmiah, tetapi juga menunjukkan keterkaitannya dengan beberapa Sustainable Development Goals (SDG). Potensi sumber daya batu kapur, pasir, dan lempung yang dimanfaatkan warga melalui aktivitas penambangan berkaitan erat dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, karena dapat membuka lapangan kerja serta meningkatkan pendapatan masyarakat lokal. Data geologi yang dihasilkan juga mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dengan menyediakan informasi yang dapat digunakan untuk pengembangan industri berbasis sumber daya mineral. Selain itu, pemahaman tentang kondisi geologi dan pengelolaan kawasan karst secara bijak berkontribusi pada SDG 15: Ekosistem Daratan, dengan mendorong keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya dan pelestarian lingkungan.

Dari kegiatan Kuliah Lapangan Mandiri di Kavling 101 ini, ada banyak pengalaman dan kesan yang terasa hangat. Bukan hanya soal mengukur batuan atau mencatat data, tapi juga belajar memahami budaya di tiap desa, mencoba hal-hal baru, dan mensyukuri keindahan alam yang tersaji di Pati dan Grobogan. Meski Kuliah Lapangan ini sudah berakhir, setiap langkah di jalur pemetaan, setiap singkapan yang diamati, dan setiap cerita yang dibagi bersama akan selalu menjadi kenangan berharga yang menyimpan kisah indah untuk dikenang kembali.

 

Terimakasih, Pati – Grobogan!

Gambar 3. Kelompok Pos Penadah Mobil

 

Humas Departemen | Oktober 2025