Kecamatan Sumpiuh, sebuah kecamatan di Kabupaten Banyumas, mungkin bagi banyak orang hanya terlihat sebagai daerah perbukitan biasa dengan sungai kecil dan permukiman warga yang tenang. Namun bagi penulis yang sedang melakukan pemetaan geologi mandiri di sana, daerah ini menyimpan cerita panjang tentang aktivitas gunung api purba yang pernah mengubah bentang alam kawasan Serayu Selatan jutaan tahun lalu.

Di bagian selatan area pemetaan, penulis menjumpai lokasi tambang nonaktif yang menyingkapkan breksi andesit dengan masa dasar batupasir tufan dan sisipan batulanau berlaminasi. Tidak jauh dari lokasi tambang, kami juga menjumpai kontak antara breksi andesit dan batulanau tepat di tepi sungai bagian selatan, yang kemungkinan menandai bidang perubahan energi pengendapan dari lingkungan yang lebih dekat sumber vulkanik menuju lingkungan yang lebih tenang. Menyusuri sungai lebih ke selatan, kami menemukan perselingan batulanau dan batulanau karbonatan dengan sisipan batupasir tufan.
Beranjak ke utara, breksi andesit kembali mendominasi hampir seluruh singkapan yang kami temui, memperkuat gambaran bahwa daerah ini pernah berada dekat dengan pusat kegiatan vulkanik purba. Namun yang cukup menarik perhatian kami adalah temuan lava basalt berwarna hitam pekat di sungai bagian timur laut kavling pemetaan. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Banyumas, keberadaan lava basalt memang tercatat sebagai bagian dari Formasi Halang yang tersusun atas litologi vulkanik seperti lava basalt dan breksi (Asikin dkk., 1992). Di lokasi yang sama, kami menjumpai perlapisan dengan arah kemiringan atau dip ke selatan, serta batulanau karbonatan yang tersingkap tidak jauh dari perlapisan tersebut. Tidak jauh dari sana, kami juga mencatat adanya sesar turun minor dengan arah strike yang berada pada kuadran empat.

Temuan yang tidak kalah menarik ada di bagian selatan kavling, yaitu batulanau silisiklastik dengan sisipan mineral gypsum yang tampak berkilau di bagian tengah lapisan. Cerita di balik singkapan ini juga tidak lepas dari peran warga setempat. Singkapan batulanau bersisipan gypsum tadi kami temukan tepat di belakang rumah warga, dan justru bapak pemilik rumah sendiri yang menunjukkan lokasinya kepada kami. Sambil mengamati batuan, kami pun ditawari kelapa muda oleh bapak pemilik rumah tersebut, sembari bertukar cerita, momen ini mengingatkan bahwa kegiatan pemetaan geologi tidak pernah benar benar lepas dari interaksi dengan masyarakat sekitar. Justru dari obrolan santai semacam itu, kami mendapatkan banyak informasi lapangan yang tidak selalu bisa ditemukan hanya dengan membaca peta topografi.
Pada akhirnya, pemetaan di daerah Sumpiuh mengajarkan bahwa memahami batuan tidak bisa dipisahkan dari memahami kondisi masyarakat yang hidup di atasnya. Keberadaan tambang rakyat menunjukkan nilai ekonomi dari sumber daya geologi setempat, sementara temuan sesar minor dan perlapisan yang kompleks menjadi pengingat pentingnya kajian kestabilan lahan sebelum wilayah ini berkembang lebih jauh. Hal ini sejalan dengan semangat SDG 11 tentang permukiman yang berkelanjutan melalui pemahaman risiko kebencanaan geologi, serta SDG 15 tentang ekosistem daratan melalui pendokumentasian kekayaan geologi lokal agar tetap dikenali dan dijaga. Tidak lupa, keterlibatan warga dalam menunjukkan singkapan dan berbagi cerita lapangan turut mendukung semangat SDG 4 mengenai pendidikan berkualitas melalui pembelajaran langsung berbasis pengalaman lapangan.
Penulis: Muhammad Raihanul Islam
Humas Departemen | Oktober 2026