Rekaman Bumi dari Miosen hingga Holosen: Sejarah Geologi dan Potensi Sumber Daya Kawasan Singorojo, Kabupaten Kendal

Kendal mungkin lebih sering dikenal melalui hamparan sawah, perbukitan, dan jalan-jalan yang menghubungkan bagian utara hingga selatan Jawa Tengah. Namun, di balik bentang alam yang terlihat sederhana tersebut, tersimpan perjalanan geologi yang berlangsung selama jutaan tahun. Setiap perbukitan, lembah, dan singkapan batuan menjadi bagian dari cerita panjang yang membentuk wilayah ini hingga seperti sekarang.  Secara fisiografis, daerah pemetaan saya berada di Zona Serayu Utara. Wilayah Sukodadi dan sekitarnya sendiri memiliki bentang alam yang cukup beragam, mulai dari perbukitan hingga daerah dengan kemiringan lereng yang cukup terjal. Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang paling terasa selama perjalanan pemetaan. Naik turun lereng, menyusuri jalan kecil, hingga mengikuti alur sungai membuat saya perlahan memahami bahwa bentuk permukaan bumi yang saya lihat ternyata memiliki hubungan erat dengan kondisi batuan dan struktur geologi di bawahnya. Penelitian di daerah ini menunjukkan adanya morfologi vulkanik dan fluvial dengan pola pengaliran subdendritik, yang memperlihatkan bagaimana proses geologi dan erosi bersama-sama membentuk bentang alam daerah ini.

Formasi Kerek ini berumur Miosen Tengah dan tersusun atas perselingan batulempung dengan batulanau, batupasir gampingan, batupasir tufan, serta breksi vulkanik. Kehadiran susunan batuan tersebut menunjukkan bahwa pada masa lalu daerah ini memiliki lingkungan pengendapan yang sangat berbeda dengan kondisi darat yang kita lihat sekarang. Proses turbidit menjadi salah satu mekanisme penting dalam pembentukan Formasi Kerek, ketika material sedimen bergerak dan diendapkan melalui aliran gravitasi di lingkungan laut. Formasi Kerek sendiri diketahui tersebar di beberapa wilayah Kendal, termasuk Kecamatan Singorojo.

Menyusuri lebih jauh, cerita geologi di daerah ini tidak berhenti pada batuan sedimen. Aktivitas vulkanisme kemudian ikut mengambil bagian dalam membentuk wajah Kendal. Formasi Kaligetas berumur Plio-Plistosen hadir dengan karakter batuan yang berbeda, berupa breksi dan endapan lahar serta tuf. Keberadaan batuan vulkanik tersebut menunjukkan bahwa aktivitas gunung api pernah menjadi bagian penting dari perkembangan wilayah ini. Di beberapa tempat, batuan yang telah mengalami pelapukan juga memperlihatkan bagaimana proses eksogen terus bekerja hingga sekarang. Hujan, aliran sungai, pelapukan, dan erosi perlahan mengubah batuan menjadi bagian dari tanah dan sedimen yang kemudian kembali dipindahkan oleh air.

Selain batuan dan bentang alam, struktur geologi juga menjadi bagian penting dari cerita daerah ini. Kekar dan antiklin minor yang ditemukan di sekitar kavling saya menjadi petunjuk bahwa wilayah ini tidak pernah benar-benar diam secara tektonik. Struktur tersebut mungkin tidak selalu terlihat secara langsung oleh masyarakat yang tinggal di sekitarnya, tetapi jejaknya dapat tercermin melalui perubahan bentuk lereng, pola sungai, maupun perbedaan kondisi batuan. Daerah dengan lereng yang cukup curam dan batuan yang telah mengalami pelapukan dapat memiliki kerentanan terhadap gerakan tanah. Penelitian khusus di Sukodadi bahkan menjadikan potensi gerakan massa batuan sebagai salah satu fokus utama, karena kondisi geomorfologi dan struktur geologi di wilayah tersebut dapat berpengaruh terhadap kestabilan lereng. Hal tersebut membuat setiap singkapan yang saya temui tidak lagi sekadar menjadi tempat untuk mengambil data, tetapi juga menjadi pengingat bahwa apa yang saya pelajari di lapangan memiliki hubungan langsung dengan kondisi lingkungan dan masyarakat.

Pemahaman mengenai kondisi geologi, potensi sumber daya, serta risiko gerakan tanah membuat kami menyadari bahwa ilmu yang dipelajari di lapangan juga memiliki kaitan dengan kehidupan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. Hal tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui upaya mengenali kondisi wilayah dan potensi bencana, serta SDG 15 tentang Ekosistem Daratan melalui pemahaman dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan. Pada akhirnya, pemetaan di Kavling 132 bukan hanya menjadi bagian dari proses belajar kami sebagai mahasiswa geologi, tetapi juga menjadi langkah kecil untuk memahami bagaimana kondisi alam dapat dimanfaatkan dengan tetap memperhatikan keberlanjutan dan keselamatan masyarakat di dalamnya.

Sukodadi dan sekitarnya menjadi salah satu ruang kecil tempat saya belajar sejarah bumi yang begitu panjang. Dari Formasi Kerek yang menyimpan cerita pengendapan laut hingga batuan vulkanik yang menjadi jejak aktivitas gunung api, semuanya menjadi potongan cerita yang perlahan saya susun selama berada di lapangan. Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika saya kembali melihat sebuah perbukitan atau singkapan batuan di tempat lain, pengalaman dari kavling 132 akan menjadi salah satu cerita yang kembali saya ingat dan menjadi bekal bekal perjalanan saya mengenal bumi lebih jauh.

Penulis: Yoshefa M.O. Situmorang

 

Humas Departemen | Oktober 2026