Kawasan Trowulan yang terletak sekitar 10 km di barat daya Kota Mojokerto, Jawa Timur, dipercaya sebagai pusat Kerajaan Majapahit pada abad ke-13 hingga 15 Masehi. Banyaknya temuan artefak dan struktur bangunan yang berada dalam kondisi rusak dan terkubur, memunculkan dugaan bahwa bencana geologi memiliki peran dalam kemunduran dan penguburan kota ini. Oleh karena itu, Putra dkk. (2024) melakukan penelitian untuk mengidentifikasi jenis bencana geologi yang terjadi di masa lalu di kawasan Trowulan berdasarkan data stratigrafi dan granulometri dari lapisan pengubur di beberapa situs utama, seperti Kumitir, Kedaton, dan Minakjinggo. Studi ini juga mencoba menentukan periode terjadinya bencana melalui korelasi antara data geologi dan catatan tertulis masa Majapahit.
SDG 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan
Departemen Teknik Geologi, melalui Lembaga Kerjasama Fakultas Teknik (LKFT UGM), mendapatkan kepercayaan untuk dapat bekerja sama dengan Badan Geologi dalam program mitigasi di Kawasan Gunungapi Merapi. Prof. Dr. Ir. Agung Harijoko, S.T., M.Eng., IPM., dosen profesor di bidang vulkanologi, menjadi team leader dalam kerja sama ini. Beliau juga dibantu oleh beberapa dosen beserta 2 mahasiswa dalam pelaksanaan kegiatan tersebut sebagai vulcanologist, remote sensing geologist, dan junior geologist.
Kegiatan kerjasama ini dilakukan dalam rangka pembuatan rekomendasi area relokasi bagi masyarakat yang bermukim di area rawan bencana Gunungapi Merapi. Gunung Merapi, yang dikenal dengan salah satu gunungapi yang sangat aktif di Indonesia, menjadi salah satu kawasan gunungapi yang menjadi fokus utama bagi Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) untuk penyusunan evaluasi geologi lingkungan untuk pengembangan wilayah di lokasi kawasan rawan bencana gunungapi sangat aktif. Letusan Merapi terakhir terjadi pada Oktober 2010 dengan letusan mencapai VEI 4, menjadi letusan erupsi terbesar dalam 80 tahun terakhir. Erupsi ini menimbulkan banyak korban dan kerusakan infrastruktur yang sangat parah. Hal ini menjadi latar belakang dan urgensi dalam pelaksanaan upaya mitigasi bencana letusan Gunungapi Merapi serta penyusunan pedoman teknis evaluasi geologi lingkungan di kawasan rawan bencana Gunungapi Merapi.
Indonesia terletak di wilayah yang sangat rentan terhadap aktivitas seismik karena posisinya di pertemuan empat lempeng tektonik utama: Eurasia, Indo-Australia, Pasifik, dan Laut Filipina. Aktivitas seismik ini menghasilkan gempa bumi yang sering terjadi, termasuk gempa yang mematikan seperti Gempa Bantul pada tahun 2006 yang menyebabkan ribuan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur signifikan di Yogyakarta dan sekitarnya. Salah satu fenomena yang menyertai gempa bumi adalah likuefaksi, yaitu kondisi di mana tanah jenuh kehilangan kekuatannya akibat getaran seismik, yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada infrastruktur. Kabupaten Sleman, yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta, merupakan salah satu wilayah rawan gempa karena kedekatannya dengan Sesar Opak, sesar aktif yang bergerak sekitar 5 mm per tahun. Pembangunan infrastruktur, khususnya jalan tol, menghadapi tantangan besar dalam memastikan keamanan konstruksi terhadap potensi likuefaksi. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi mendalam mengenai potensi likuefaksi dan dampaknya terhadap infrastruktur di wilayah ini.
Banjir adalah salah satu bencana alam yang sering terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Dampaknya yang besar, baik secara ekonomi maupun sosial, menjadikan banjir sebagai isu kritis yang memerlukan perhatian serius. Setiap tahun, banjir melanda Luwu Utara, menyebabkan kerusakan pada infrastruktur, lahan pertanian, dan pemukiman, serta mengancam keselamatan jiwa masyarakat setempat. Wilayah Luwu Utara mencakup tiga daerah aliran sungai (DAS) utama, yaitu Rongkong, Balease, dan Amas Sang An. Dengan karakteristik geografis dan hidrologis yang beragam, penyebab banjir di wilayah ini bersifat kompleks dan multidimensional. Faktor-faktor seperti intensitas curah hujan, penggunaan lahan, kemiringan lereng, jenis tanah, dan kerapatan drainase saling berinteraksi menjadi penyebab banjir. Penelitian mengenai banjir di Luwu Utara dilakukan oleh Hendrayana dkk. (2024) dengan tujuan untuk mengidentifikasi parameter-parameter utama penyebab banjir di Luwu Utara dengan menggunakan pendekatan multiparameter.
Pembangunan infrastruktur jalan tol di Indonesia, seperti Jalan Tol Trans-Jawa, merupakan salah satu proyek strategis nasional yang bertujuan memperkuat konektivitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Jalan tol ini menghubungkan berbagai kota besar di Pulau Jawa, termasuk Semarang dan Yogyakarta, yang memiliki peran penting dalam sektor pariwisata dan perdagangan. Namun, konstruksi jalan tol di wilayah ini menghadapi tantangan geoteknik yang signifikan, terutama terkait potensi likuefaksi akibat aktivitas seismik. Kecamatan Seyegan, yang terletak di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, menjadi salah satu wilayah yang rawan likuefaksi. Wilayah ini dipengaruhi oleh keberadaan Sesar Opak, yang tercatat menyebabkan gempa bumi besar pada tahun 2006 dengan magnitudo 6,3 Mw. Kejadian ini mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan fenomena likuefaksi di beberapa lokasi. Likuefaksi terjadi ketika tanah berbutir halus dan jenuh kehilangan kekuatan akibat gempa bumi, yang dapat mengakibatkan deformasi tanah, penurunan vertikal, serta kerusakan pada struktur di atasnya. Untuk mencegah hal tersebut maka dilakukan penelitian mengenai potensi likuefaksi untuk mencegal kegagalan konstruksi yang dilakukan oleh Setiadi dkk. (2024).
Kecamatan Gunungpati, yang terletak di bagian selatan Kota Semarang, merupakan kawasan strategis yang berperan sebagai daerah penyangga untuk menjaga keseimbangan ekosistem perkotaan. Namun, pesatnya urbanisasi di Semarang telah memengaruhi kondisi lingkungan di Gunungpati. Kebijakan ekspansi kota ke wilayah selatan menyebabkan berkurangnya ruang terbuka hijau, meningkatnya zona kedap air, dan menurunnya area resapan air. Dampaknya adalah meningkatnya risiko banjir, dengan tiga kejadian banjir tercatat di Gunungpati antara tahun 2018 hingga 2022. Proses infiltrasi tanah, yang mencerminkan kemampuan tanah untuk menyerap air, menjadi faktor kunci dalam mitigasi banjir. Laju infiltrasi tanah dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti penggunaan lahan dan kemiringan tanah. Perubahan pola penggunaan lahan, termasuk meningkatnya area permukiman dan aktivitas pertanian, serta variasi topografi, dapat mengurangi efektivitas infiltrasi.
Air tanah merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat penting untuk menunjang kebutuhan air bersih masyarakat. Di wilayah Kecamatan Limboto Barat dan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Indonesia, air tanah dangkal menjadi sumber utama untuk memenuhi kebutuhan domestik dan pertanian. Namun, aktivitas manusia seperti peningkatan penggunaan pupuk di sektor pertanian, pertumbuhan populasi, dan pengembangan wilayah pemukiman telah meningkatkan ancaman pencemaran air tanah. Dalam kondisi ini, pencemaran air tanah dapat terjadi akibat infiltrasi polutan seperti nitrat yang berasal dari limbah domestik dan penggunaan pupuk berlebihan. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi tingkat kerentanan air tanah terhadap pencemaran sebagai langkah awal dalam upaya mitigasi risiko dan perencanaan pengelolaan sumber daya air tanah. Konsep kerentanan air tanah menjelaskan sejauh mana kondisi bawah permukaan tanah mampu melindungi akuifer dari pencemaran. Identifikasi kerentanan air tanah juga memberikan informasi penting untuk penentuan lokasi pembangunan kawasan industri, tempat pembuangan akhir, serta sebagai dasar pemantauan kualitas air tanah.
Likuefaksi tanah merupakan salah satu bahaya sekunder yang terjadi akibat gempa sehingga menyebabkan lapisan tanah kehilangan kapasitas dukungnya. Hal tersebut akan memengaruhi stabilitas struktur bangunan. Likuefaksi tanah dapat menyebabkan kerusakan berat pada fondasi bangunan, termasuk penurunan kapasitas dukung, penurunan tanah yang berlebihan, dan perpindahan lateral. Di Indonesia, ancaman likuefaksi menjadi perhatian serius karena wilayah ini berada di jalur cincin api dengan aktivitas seismik yang tinggi. Fenomena ini dapat menyebabkan kerusakan signifikan pada struktur bangunan, termasuk fondasi bore pile yang biasa digunakan pada proyek infrastruktur seperti jembatan dan jalan layang. Untuk memastikan keamanan struktur yang direncanakan, diperlukan analisis menyeluruh mengenai dampak likuefaksi terhadap kapasitas dukung fondasi bore pile.
Indonesia merupakan salah satu negara yang rentan terhadap bencana gempa bumi karena posisinya berada di wilayah Cincin Api Pasifik. Hal ini menyebabkan desain infrastruktur seperti jembatan harus mempertimbangkan standar ketahanan gempa untuk meminimalisir dampak kerusakan. Salah satu fenomena yang sering terjadi akibat gempa bumi adalah likuefaksi, yaitu kondisi di mana tanah kehilangan kekuatan geser dan sifat tanah berubah menjadi lebih cair ketika dikenai tekanan berulang atau getaran gempa. Fenomena ini dapat menyebabkan kerusakan besar pada struktur infrastruktur, terutama infrastruktur yang berdiri di atas tanah aluvial dengan permukaan air tanah yang dangkal. Penelitian mengenai Likuefaksi dan pengaruhnya terhadap infrastruktur dilakukan di Jembatan Sei Wampu. Area Jembatan Sei Wampu ini juga berada di zona rawan gempa akibat aktivitas Sesar Semangko, yang membentang sepanjang Pulau Sumatra. Oleh karena itu, evaluasi potensi likuefaksi di lokasi ini sangat penting untuk memastikan keamanan dan keberlanjutan jembatan.
Penulis: Alviana Machyuniatul Khusna
Halo semuanya! Perkenalkan aku Alviana Machyuniatul Khusna dari Teknik Geologi UGM angkatan 2022, artikel ini berisi cerita singkatku tentang bagaimana aku menjalani KL Bayat hingga KL Mandiri di Sragen-Grobogan, sekaligus merupakan tugas penutup KL ku :D. Kuliah Lapangan ini merupakan mata kuliah wajib, dimulai dari Kuliah Lapangan Bayat, di Klaten hingga Kuliah Lapangan Mandiri, di daerah kavling masing-masing. Kegiatan ini mencakup daerah Zona Kendeng dan memanjang dari Semarang hingga Lamongan.