Susukan, sebuah kecamatan di bagian selatan Kabupaten Banjarnegara, mungkin tampak seperti wilayah pedesaan yang tenang dengan hamparan sawah dan perbukitan. Namun, di balik lanskap yang terlihat sederhana itu, tersimpan cerita geologi yang telah berlangsung selama jutaan tahun. Selama kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri 2026, saya berkesempatan mengenal lebih dekat wilayah Gumelem Kulon, Gumelem Wetan, hingga Sampang, bukan hanya sebagai lokasi pemetaan, tetapi juga sebagai ruang belajar yang penuh cerita. Setiap singkapan yang dijumpai selama pemetaan menjadi petunjuk untuk memahami kondisi geologi daerah ini. Melalui pengamatan litologi dan hubungan antar batuan di lapangan, perlahan mulai terlihat bagaimana bentang alam Susukan terbentuk serta proses-proses geologi yang memengaruhinya. Selain litologi, salah satu kenampakan menarik yang dijumpai adalah lembah antiklin di daerah Sampang yang menunjukkan adanya proses tektonik berupa pelipatan batuan akibat gaya kompresi.
SDG 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan
Kawasan perbukitan perbatasan antara Kecamatan Girimulyo (Kulon Progo, D.I. Yogyakarta) dan Kecamatan Kaligesing (Purworejo, Jawa Tengah) merekam evolusi tektonik dan lingkungan pengendapan di masa Tersier. Pada 9 hingga 22 Juli 2026, Azka Ananta Abdillah, mahasiswa Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2024, melakukan rangkaian pemetaan geologi mandiri di kavling 011 Pemetaan Geologi Mandiri 2026 seluas 20 km² (4 × 5 km). Kegiatan lapangan berskala 1:25.000 di bawah bimbingan Dr.Eng. Ir. Wawan Budianta, S.T., M.Sc., IPM. ini mengintegrasikan data dari 121 stasiun titik amat (STA) untuk menyingkap tatanan stratigrafi, deformasi struktur, hingga yang paling unik adalah adanya indikasi mineralisasi hidrotermal lokal.
Pada 8 hingga 23 Juli 2026, saya dan teman-teman Teknik Geologi Angkatan 2024 melaksanakan Kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri 2026 di Zona Serayu Selatan. Pemetaan saya berada di Kavling 70 yang mencakup Desa Lancar, Wadasmalang, dan Sadang di perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Selama pemetaan, kami menyusuri keseluruhan bagian kavling yang menjadi tanggung jawab kami mulai dari jalan desa, jalan sawah, sungai, hutan pinus, hingga jurang sekalipun. Pekerjaan yang dilakukan cukup dasar bagi seorang geolog yaitu pengukuran strike and dip batuan hingga struktur yang dijumpai, pengambilan sampel batuan untuk keperluan analisis petrologi, petrografi, dan paleontologi, serta pengamatan morfologi yakni perbukitan di Kavling 70.
Kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri 2026 di Kecamatan Pagentan, Wanayasa, dan sekitarnya dilakukan untuk memahami kondisi geologi daerah pemetaan melalui pengamatan langsung di lapangan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi persebaran litologi, kondisi geomorfologi, struktur geologi, serta berbagai fenomena geologi yang berkembang pada area pemetaan. Aktivitas pemetaan dilakukan melalui pengamatan singkapan batuan, deskripsi litologi, pengukuran struktur geologi, serta pengambilan sampel batuan. Data yang diperoleh kemudian digunakan untuk menyusun interpretasi mengenai kondisi geologi dan hubungan antara litologi, struktur, serta geomorfologi di daerah Pagentan, Wanayasa, dan sekitarnya. Berdasarkan hasil pengamatan, litologi yang dijumpai cukup beragam, meliputi serpih, breksi, hingga batuan beku berupa intrusi diorit. Keberagaman litologi tersebut menunjukkan adanya kompleksitas kondisi geologi yang berkembang di daerah pemetaan dan menjadi dasar penting dalam memahami sejarah geologi maupun bentang alam yang terbentuk saat ini.
Karangsambung merupakan salah satu daerah yang memiliki kondisi geologi yang sangat menarik untuk dipelajari. Daerah ini berada di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, dan dikenal memiliki keragaman batuan serta struktur geologi yang kompleks. Salah satu karakteristik yang paling menonjol adalah keberadaan Kompleks Mélange Luk Ulo yang tersusun atas berbagai jenis batuan, seperti batuan beku, sedimen, dan metamorf yang bercampur dalam massa dasar lempung hitam. Kondisi tersebut menjadikan Karangsambung sebagai daerah yang penting dalam pembelajaran ilmu geologi. Sebagai mahasiswa Teknik Geologi, kegiatan pemetaan di daerah ini memberikan kesempatan untuk memahami kondisi geologi secara langsung sekaligus menerapkan teori yang telah dipelajari selama perkuliahan.
Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, merupakan salah satu wilayah yang memiliki keragaman kondisi geologi terbentuk akibat interaksi berbagai proses geologi, baik proses endogen maupun eksogen. Aktivitas vulkanisme menghasilkan material vulkanik yang kemudian mengalami proses pelapukan, transportasi, dan pengendapan, sedangkan proses eksogen berupa erosi dan pelapukan terus memodifikasi permukaan wilayah hingga menghasilkan bentang alam yang dapat diamati saat ini. Interaksi proses tersebut menghasilkan variasi jenis batuan, mulai dari batuan vulkanik hingga batuan sedimen. Perbedaan sifat fisik dan tingkat resistensi batuan terhadap pelapukan dan erosi juga dapat mengontrol perkembangan relief, punggungan, lembah, dan pola aliran permukaan.
Desa Kalikarung dan sekitarnya, yang berada di Kecamatan Kalibawang dan menjadi bagian dari kavling pemetaan Serayu Selatan yang membentang di Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Melalui kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri, kondisi geologi wilayah ini dapat dipelajari secara langsung sekaligus membuka wawasan tentang potensi yang tersembunyi di lingkungan sekitar. Salah satu temuan paling menarik dari kegiatan pemetaan ini berada sedikit di luar batas administratif Kalibawang, tepatnya di Curug Muncar, Dusun Kalibang, Desa Kaliwungu, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, sebuah air terjun yang sekaligus menjadi jendela untuk membaca sejarah geologi kawasan Bruno dan sekitarnya.
“Bagaimana kondisi geologi suatu wilayah dapat menentukan potensi sumber daya sekaligus memengaruhi kerentanan terhadap bencana geologi?’’
Pertanyaan tersebut menjadi relevan di Kavling 55, Kabupaten Purworejo, yang secara administratif mencakup Kecamatan Pituruh dan sebagian Kecamatan Kemiri. Pemetaan geologi dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap singkapan batuan, identifikasi litologi, pengukuran struktur geologi, serta pengamatan kondisi geomorfologi dan lingkungan sekitar. Berdasarkan hasil pengamatan di Kavling 55, batuan penyusun wilayah didominasi oleh batuan sedimen dengan salah satu litologi yang cukup menonjol berupa batupasir kompak.
Setiap bentang alam punya ceritanya sendiri. Perbukitan, aliran sungai, sampai batuan yang muncul di permukaan merupakan hasil dari proses yang berlangsung sangat lama dan terus berubah hingga sekarang. Hal ini juga dapat diamati di Kavling 32, Kemiri, Purworejo, Jawa Tengah. Daerah ini memiliki bentuk permukaan yang cukup beragam, mulai dari punggungan hingga kawasan yang lebih landai, dengan sungai yang mengalir di antaranya. Kondisi tersebut membuat kegiatan pemetaan di Kavling 32 menjadi cukup menarik karena dari bentuk lahan dan singkapan yang dijumpai, dapat terlihat sedikit gambaran mengenai proses yang membentuk daerah ini.
Kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri 2026 saya laksanakan di dua kecamatan yang bertetangga di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, yaitu Kecamatan Kaliwiro dan Kecamatan Kalibawang. Berdasarkan peta geologi regional Lembar Banjarnegara-Pekalongan dan Lembar Kebumen, kavling pemetaan saya berada pada zona Pegunungan Serayu Selatan, sebuah jalur perbukitan yang menyimpan rekaman panjang sejarah sedimentasi laut dalam hingga aktivitas gunung api darat.
Selama kegiatan lapangan, saya melakukan penelusuran jalur sepanjang sungai dan lereng bukit, pengukuran kedudukan lapisan batuan berupa jurus dan kemiringan, pemerian litologi pada setiap singkapan, serta pengambilan data untuk menyusun peta lintasan dan kolom stratigrafi.