Pada 8 hingga 23 Juli 2026, saya dan teman-teman Teknik Geologi Angkatan 2024 melaksanakan Kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri 2026 di Zona Serayu Selatan. Pemetaan saya berada di Kavling 70 yang mencakup Desa Lancar, Wadasmalang, dan Sadang di perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Selama pemetaan, kami menyusuri keseluruhan bagian kavling yang menjadi tanggung jawab kami mulai dari jalan desa, jalan sawah, sungai, hutan pinus, hingga jurang sekalipun. Pekerjaan yang dilakukan cukup dasar bagi seorang geolog yaitu pengukuran strike and dip batuan hingga struktur yang dijumpai, pengambilan sampel batuan untuk keperluan analisis petrologi, petrografi, dan paleontologi, serta pengamatan morfologi yakni perbukitan di Kavling 70.

Secara geomorfologi, Kavling 70 didominasi oleh morfologi kuesta yang menerus dari lipatan karangsambung yang diisi oleh Batupasir Vulkanik dan Breksi Andesit Formasi Waturanda.. Morfologi ini terbagi menjadi zona lereng perlapisan kuesta yang landai (dipslope) di bagian selatan, gawir kuesta yang curam (scarpslope) di bagian tengah menghadap, serta dataran denudasional di bagian utara kavling. Dari sisi litologi, bagian utara hingga timur laut disusun oleh perselingan napal tufan dan tuf serta perselingan batupasir tufan dan tuf, sementara bagian barat daya hingga selatan yang lebih luas, termasuk sekitar Desa Lancar, didominasi oleh perselingan batupasir vulkanik dan breksi andesit dari Formasi Waturanda dengan sisipan tubuh andesit, serta litologi lempung kerakalan dan lempung bersisik di beberapa titik. Variasi litologi ini menunjukkan perubahan lingkungan pengendapan dari fasies laut yang lebih dalam ke fasies vulkaniklastik yang lebih proksimal.
Meski secara umum daerah ini tidak banyak menampilkan struktur geologi yang mencolok, saya menemukan 1 singkapan yang cukup istimewa, yaitu kompleks sesar domino serta struktur horst dan graben yang relatif kompleks pada satuan perselingan batupasir vulkanik dan breksi andesit Formasi Waturanda. Kehadiran struktur ini mengindikasikan pernah berlangsungnya rezim tektonik ekstensional lokal pada masa pembentukan satuan tersebut. Fitur geologi lain yang paling menonjol adalah Desa Lancar yang menjadi salah satu sentra penghasil bahan galian golongan C di kavling ini, dengan banyak tambang rakyat yang secara masif mengusahakan batupasir vulkanik berwarna hitam dari Formasi Waturanda sebagai bahan galian utama, sementara mata air maupun sungai berukuran besar relatif jarang dijumpai di kawasan ini.

Data yang diambil dari pemetaan ini memiliki beberapa potensi manfaat bagi masyarakat setempat, khususnya warga Desa Lancar yang menggantungkan sebagian aktivitas ekonominya pada penambangan batupasir vulkanik. Pertama, peta sebaran dan karakteristik batupasir vulkanik Formasi Waturanda ini dapat menjadi acuan bagi warga maupun pemerintah desa dalam mengelola kegiatan penambangan galian C secara lebih terarah dan berkelanjutan, termasuk menentukan zona yang aman dan prospektif untuk terus ditambang. Kedua, karakter hasil pelapukan batuan di kavling ini, misalnya tanah dari pelapukan napal tufan maupun batupasir vulkanik, dapat menjadi dasar kajian kesesuaian lahan untuk jenis tanaman tertentu, sehingga mendukung produktivitas pertanian atau perkebunan warga. Ketiga, dan tidak kalah penting, identifikasi zona-zona rawan longsor dan jatuhan batuan (rockfall), terutama di sekitar gawir kuesta, zona sesar, maupun area bekas tambang, dapat membantu warga maupun aparat desa mengenali titik-titik vital yang perlu dihindari atau diperkuat dengan struktur penahan, sebagai langkah mitigasi bencana geologi sejak dini.
Bila dikaitkan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), kegiatan pemetaan ini relevan dengan sedikitnya tiga tujuan utama. Data sebaran dan kualitas sumber daya batupasir vulkanik dari Desa Lancar mendukung SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), khususnya dalam mendorong praktik penambangan galian C yang lebih terukur dan bertanggung jawab. Identifikasi zona rawan longsor dan rockfall berkontribusi pada SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), khususnya poin ketahanan masyarakat terhadap bencana. Sementara itu, kajian kesesuaian lahan berbasis karakter pelapukan batuan turut mendukung SDG 15 (Ekosistem Daratan), dalam upaya pengelolaan lahan yang lebih tepat guna dan berkelanjutan.
Kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri 2026 ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana pembelajaran lapangan bagi kami, tetapi juga menghasilkan data geologi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar, khususnya Desa Lancar sebagai salah satu penghasil bahan galian C, baik untuk pengelolaan sumber daya, perencanaan tata guna lahan, maupun mitigasi bencana geologi di masa mendatang.
Penulis: Vincent Conary
Humas Departemen | Oktober 2026