Setiap bentang alam punya ceritanya sendiri. Perbukitan, aliran sungai, sampai batuan yang muncul di permukaan merupakan hasil dari proses yang berlangsung sangat lama dan terus berubah hingga sekarang. Hal ini juga dapat diamati di Kavling 32, Kemiri, Purworejo, Jawa Tengah. Daerah ini memiliki bentuk permukaan yang cukup beragam, mulai dari punggungan hingga kawasan yang lebih landai, dengan sungai yang mengalir di antaranya. Kondisi tersebut membuat kegiatan pemetaan di Kavling 32 menjadi cukup menarik karena dari bentuk lahan dan singkapan yang dijumpai, dapat terlihat sedikit gambaran mengenai proses yang membentuk daerah ini.

Secara geomorfologi, Kavling 32 tersusun oleh beberapa punggungan yang didominasi breksi dan batupasir. Di antara punggungan tersebut terdapat daerah yang lebih rendah dan relatif landai, yang sebagian tersusun oleh endapan aluvium. Perbedaan ini membuat bentuk permukaan di Kavling 32 cukup bervariasi. Batuan yang menyusun punggungan memberikan relief yang berbeda dengan kawasan landai yang terbentuk dari material hasil transportasi sungai. Dari sini, sungai menjadi salah satu unsur yang cukup penting karena selain menjadi bagian dari bentang alam, alirannya juga ikut memengaruhi bentuk permukaan dan kondisi batuan di sekitarnya.
Salah satu lokasi yang menarik untuk diamati adalah Dung Wadas. Di tempat ini, aliran sungai secara perlahan mengikis material di sepanjang jalurnya hingga membuka batuan dasar pada lantai sungai. Singkapan tersebut membuat batuan penyusun dapat terlihat secara langsung dan memberikan gambaran mengenai proses yang terjadi di sekitar sungai. Pada bagian utara Dung Wadas, proses ini menghasilkan air terjun mini pada permukaan batuan yang disebabkan oleh perbedaan tingkat resistensi batuan terhadap erosi. Ketika bagian batuan yang lebih mudah terkikis mengalami pengikisan lebih cepat, bagian yang lebih resisten akan lebih memepertahankan bentuknya.

Menariknya, di daerah sekitarnya juga dapat dijumpai beberapa pertemuan litologi yang berbeda. Perbedaan karakter batuan ikut memengaruhi bentuk lantai sungai dan bagaimana aliran air mengikis permukaannya. Perpaduan antara singkapan batuan, aliran sungai, air terjun mini, dan lanskap di sekitarnya membuat Dung Wadas memiliki potensi sebagai geosite lokal. Dung Wadas dapat menjadi tempat untuk melihat secara langsung hubungan antara batuan dan proses geomorfologi, terutama bagaimana aliran air secara perlahan membentuk permukaan yang kita lihat sekarang. Dari kegiatan pemetaan di Kavling 32, keberadaan fitur tersebut dapat didokumentasikan dan menjadi langkah awal untuk mengenalkan sekaligus menjaga potensi geologi lokal yang ada di Dung Wadas. Hal ini juga berkaitan dengan beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), seperti SDG 4 melalui pemanfaatan lingkungan sebagai sarana pembelajaran, SDG 8 dalam mendukung peluang ekonomi masyarakat lokal, serta SDG 11 dan SDG 15 melalui upaya pemanfaatan sekaligus pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Penulis: Luthfiah Aulia Paramitha
Humas Departemen | Oktober 2026