Penulis: Keisya Nailah Bilbina Suprapto
Empat semester persiapan teori dan praktik akhirnya mengantarkan saya pada tantangan besar: Pemetaan Geologi Mandiri. Selama hampir dua tahun, kegiatan belajar di kelas berpadu dengan praktik lapangan, ternyata rasa percaya diri belum sepenuhnya terbentuk.
Semester ini, saya memulai perjalanan lapangan di Bayat, Klaten sebagai bagian dari kuliah lapangan awal. Di sanalah saya pertama kali merasakan beratnya tekanan akademik di lapangan: berjalan kiloan meter di bawah terik matahari, membawa peralatan lengkap, mencatat data geologi, dan belajar menjaga kedisiplinan waktu, kewaspadaan terhadap lingkungan, serta kerja sama tim. Semua itu menjadi bekal penting sebelum turun ke lokasi pemetaan mandiri.
Tugas pemetaan mandiri menempatkan saya di kavling nomor 100 di Desa Nglobo, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora. Desa ini terkenal akan cadangan minyak bumi dan hutan jatinya yang lebat. Setiap hari, saya berangkat bersama seorang adik tingkat sekitar pukul 09.00 WIB, beristirahat siang di tengah hutan, lalu melanjutkan pengambilan data.
Menjelang tiga hari sebelum pengecekan dosen pembimbing, saya sempat kehilangan motivasi karena belum menemukan struktur geologi yang signifikan. Namun, bantuan rekan kelompok membawa kami menemukan sungai tersembunyi tanpa akses jalan. Di sana, kami mendapati tebing setinggi ±8 meter yang menunjukkan bidang sesar geser sinistral, sesuai dengan pola kelurusan dari peta DEM. Temuan ini menjadi momen paling berkesan, meski harus segera meninggalkan lokasi setelah mendengar tiga kali suara auman hewan liar yang cukup dekat.
Kavling pemetaan saya di Nglobo menyimpan keunikan geologi yang menonjol. Salah satunya adalah keberadaan travertin yang hampir selalu dijumpai di setiap STA dengan litologi batu gamping di sepanjang sungai. Travertin ini memiliki bentuk liukan berlapis berwarna cokelat yang terbentuk dari proses pengendapan kalsium karbonat pada aliran air kaya mineral. Keindahan bentuk dan teksturnya menjadi daya tarik visual sekaligus bukti aktivitas geokimia di kawasan tersebut.

Selain itu, di sekitar kavling juga terdapat mata air panas Nglobo yang berasal dari proses ekstraksi minyak dan gas bumi pada sumur-sumur tua. Air panas ini dimanfaatkan masyarakat sebagai pemandian air hangat yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan meningkatkan stamina. Fenomena alam ini bukan hanya bernilai ilmiah, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi wisata kesehatan dan geowisata yang terintegrasi dengan kekayaan geologi lokal.
Selain mengumpulkan data akademik, pemetaan di Nglobo menjadi sarana memperkenalkan potensi geologi lokal kepada warga, mulai dari fenomena travertin hingga peluang pengembangan geowisata berbasis mata air panas. Interaksi sosial juga memperkuat kedekatan kami dengan masyarakat, baik melalui karnaval desa, pengajian, maupun percakapan sederhana di ladang.
Bagi saya, pemetaan geologi cukup dikenang, namun tidak untuk diulang
Humas Departemen | September 2025