Penulis : Naufal Mahendra Putra Baskoro
Kegiatan Pemetaan Geologi (PG) Zona Rembang 2025 dilaksanakan dalam kurun waktu satu bulan dimana tujuan dari dilakukannya kegiatan ini antara lain sebagai pembekalan mahasiswa teknik geologi UGM dalam melakukan kerja lapangan serta memahami kondisi lapangan dengan baik sehingga mahasiswa dapat melakukan pemetaan geologi dengan hasil peta geologi yang baik, teliti, dan obyektif. Dalam pelaksanaan PG Zona Rembang 2025, tiap mahasiswa ditempatkan pada kavling pemetaan di sepanjang antiklinorium rembang, pembagian tersebut dilakukan untuk membagi area kavling secara menyeluruh.
Daerah pemetaan kavling 111 terletak pada Desa Ngiono, Kecamatan Japah, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah. Luas total area pengamatan sebesar 4 x 5 km yaitu sekitar 20 km2, secara geografi kavling 111 di sebelah utara berupa bentang alam rendahan yaitu sumbu sinklin bulu, di sebelah timur dan selatan berupa rendahan yaitu sumbu antiklin Ngiyono yang telah terdenudasi, di sebelah selatan berupa tinggian yaitu perbukitan sayap antiklin Ngiono. Kondisi topografi kavling 111 bervariasi dari 62,5 hingga 250 mdpl, menunjukan bahwa area berupa rendahan dan tinggian (perbukitan).
Berdasarkan peta geologi lembar Rembang (Darwin Kandar & Sudijon, 1993) daerah pemetaan kavling 111 dibagi atas 5 formasi yaitu formasi tawun, ngrayong, bulu, ledok, dan mundu. Dari kenampakan Digital Elevation Model, diketahui bahwa formasi bulu, ledok, dan mundu mengalami peristiwa denudasi sehingga menyingkap formasi tawun dan ngrayong dibawahnya, ditandai dengan terdapatnya lembah terjal di sebelah selatan. Berdasarkan hasil pengamatan kegiatan PG 2025, didapatkan data bahwa area tersebut tersusun atas beragam satuan litologi, dapat dijumpai satuan batulanau dan batupasir karbonatan, batugamping, serta batulempung. Litologi yang dijumpai pada formasi tawun yaitu batugamping floatstone, pada formasi ngrayong yaitu perselingan batupasir-batulempung, pada formasi bulu berupa batugamping grainstone, pada formasi ledok berupa batupasir karbonatan, dan pada formasi mundu berupa batu lanau karbonatan/napal. Dapat dijupai juga struktur geologi berupa sumbu antiklin ngiyono, sesar geser dekstral yang memiliki arah barat daya-timur laut dan tenggara-barat laut.
Aktivitas pemetaan dimulai dengan melakukan orientasi medan, pengamatan singkapan batuan di lapangan, pengukuran orientasi struktur geologi hinga pengambilan sampel. Jika ditinjau berdasarkan aspek mobilitas di sekitar kavling, sebagian besar jalur aksesnya berupa jalan setapak yang beralaskan tanah dan kerikil, cukup memadai untuk dilalui pejalan kaki namun kurang cocok untuk kendaraan bermotor. Selain itu, kondisi Kavling 111 yang sebagian besar didominasi oleh ladang dan hutan serta keberadaan sungai yang minim cukup menyulitkan dalam melakukan pencarian struktur geologi serta penentuan kontak antar satuan litologi.
Pada area kavling 111 tepatnya pada sumbu antiklin ngiono terdapat sebuah area penambangan minyak bumi tradisional yang dikelola oleh masyarakat setempat. Kegiatan penambangan ini dilakukan secara tradisional dengan peralatan sederhana memanfaatkan sumur-sumur peninggalan kolonial belanda yang mengikuti jalur lipatan antiklin. Aktivitas tersebut menjadi sumber mata pencaharian bagi warga sekitar selain bertani. Menurut Samin (2006) setiap kegiatan pembangunan dibidang pertambangan pasti menimbulkan dampak positif maupun dampak negatif, dampak tersebut meliputi dampak sosial, ekonomi dan ekosisitem. Pengelolaan sumur minyak tersebut berpotensi membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal. Masyarakat yang bekerja sebagai petani dengan pendapatan terbatas dapat beralih ke mata pencaharian baru yang mampu meningkatkan pendapatan dibandingkan penghasilan sebelumnya. Kegiatan penambangan minyak pada lokasi tersebut dapat menjadi sumber pekerjaan layak bagi masyarakat lokal sehingga menciptakan pertumbuhan ekonomi inklusif, dengan poin tersebbut dapat dipenuhi maka permasalahan kemiskinan dan kelaparan pada desa desa Japah, Bulu, Ngiono, Sendangmulyo, dan sekitarnya dapat teratasi.
Diharapkan dengan dilakukannya pemetaan geologi pada area tersebut dapat bermanfaat bagi pengembangan potensi-potensi sumberdaya alam pada area tersebut seperti penemuan reservoir minyak pada sumbu lipatan antiklin selain pada lokasi yang sudah dilakukan pengeboran. Kegiatan ini juga dapat memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar seputar bebatuan yang berada pada area tersebut, sehingga masyarakat dapat mengetahui jenis lapukan batuan yang paling baik dan subur sebagai media dalam mereka bertani.
Humas Departemen | September 2025