
Sekolah Alam Indonesia (SAI) Cibinong melakukan kunjungan edukatif ke Departemen Teknik Geologi UGM bersama 21 siswa kelas 4 dan 4 guru pendamping, yang diterima oleh Dr. Yan Restu Freski, ditemani asisten Bethari Amelia dan Dwiana Maulidya. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mengenalkan ilmu kebumian sejak dini serta menumbuhkan kepedulian terhadap bumi, sumber daya alam, dan potensi bahaya bencana.
Kunjungan diawali dengan sesi pengenalan ilmu kebumian yang disampaikan secara interaktif dan komunikatif di area Taman Batu Departemen Teknik Geologi UGM. Para siswa dikenalkan dengan berbagai macam batuan yang didatangkan dari berbagai penjuru lokasi di Indonesia maupun mancanegara. Mereka diajak memahami bumi sebagai sistem yang terus berubah yang dilihat dari siklus batuan, bagaimana manusia memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia dari proses geologi, serta mengapa penting bagi kita untuk memahami bencana alam.
Antusiasme siswa terlihat jelas sejak saat diskusi asyik di Taman Batu. Mereka kemudian berkunjung ke Laboratorium Bahan Galian di dalam gedung Departemen. Di laboratorium, para siswa tidak hanya melihat, tetapi juga berkesempatan memegang langsung berbagai contoh batuan dan mineral. Pengalaman belajar langsung ini membuat suasana diskusi menjadi hidup dan penuh rasa ingin tahu. Diskusi pun menjadi lebih bermakna ketika para siswa bisa mengaitkan dengan pengalaman mereka sehari-hari.
Salah satu siswa, Huga, mengaku sangat senang karena dapat melihat kristal ametis secara langsung, mineral yang selama ini hanya ia kenal dari buku dan internet. Sementara itu, Yumna menunjukkan kegembiraannya saat diperkenalkan pada batuan tertua di bumi yang dibawa oleh Dr. Nugroho Imam Setiawan dari ekspedisi Antartika dan kini dipajang di Laboratorium Bahan Galian.
Diskusi berlangsung santai dan penuh canda khas anak-anak, namun tetap sarat makna. Beragam pertanyaan polos namun logis muncul sepanjang kegiatan. Dr. Yan dengan penuh antusias menjawab setiap pertanyaan menggunakan bahasa sederhana dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Menyenangkan, karena kita ditantang menjelaskan hal-hal yang biasanya rumit menjadi sangat sederhana, tanpa keluar dari konteks ilmiahnya,” ujar Dr. Yan.
Setelah kegiatan di kampus, rombongan melanjutkan kunjungan lapangan ke Tebing Breksi dan Lava Bantal Berbah, dua geosite penting dalam kawasan Geopark Jogja. Para siswa diperkenalkan pada fenomena geologi unik yang dapat diamati langsung di lapangan.
Pertanyaan spontan pun kembali muncul, seperti, “Lava bantal ini berarti dulunya di dasar laut ya? Kok sekarang ada di sini?” Diskusi lapangan semacam ini menjadi ruang belajar yang alami, sekaligus menumbuhkan rasa kagum terhadap proses geologi yang membentuk bumi.
Kegiatan kunjungan ini sangat baik karena mengajarkan ilmu kebumian sejak dini. Hal ini sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran kontekstual sejak dini, SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) melalui pengenalan warisan geologi, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dengan menanamkan kesadaran lingkungan dan kebencanaan.
Melalui kegiatan ini, Departemen Teknik Geologi UGM berharap dapat terus berkontribusi dalam penguatan literasi kebumian bagi generasi muda dan belia, sekaligus menghadirkan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang edukatif, menyenangkan, dan bermakna. (YRF)
Humas Departemen | Februari 2026