Potensi Sumber Daya Geologi pada Endapan Vulkanik Kuarter Daerah Sapuran, Kabupaten Wonosobo dan Sekitarnya

Bayangkan berjalan menyusuri perbukitan daerah Sapuran, Kabupaten Wonosobo, dengan hamparan hutan pinus yang sejuk dan tanah merah vulkanik yang subur di bawah kaki. Di balik pemandangan hijau tersebut, tersimpan jejak aktivitas gunung api masa lalu yang membentuk karakter geologi wilayah ini hingga sekarang. Perjalanan kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri 2026, daerah Sapuran dan sekitarnya tidak hanya memperlihatkan keindahan bentang alam, tetapi juga menyimpan potensi sumber daya geologi yang berperan penting dalam mendukung sektor pertanian, perkebunan, dan wisata alam masyarakat setempat.

Secara geologi, daerah pemetaan berada pada dua satuan batuan utama, yaitu Formasi Peniron dan Anggota Breksi Formasi Ligung. Pada area kavling pemetaan, batuan vulkanik endapan Kuarter tampak mendominasi wilayah pemetaan. Jejak material vulkanik tersebut dapat dilihat dari keberadaan batuan breksi dan material hasil rombakan gunung api yang telah mengalami pelapukan. Singkapan batuan di wilayah pemetaan yang dijumpai dapat memperlihatkan variasi tingkat pelapukan. Di beberapa lokasi banyak dijumpai lapukan batuan andesit yang memiliki kenampakan menyerupai lapili tuf, sementara pada lokasi lain masih ditemukan lava andesit yang relatif segar. Keberadaan batuan-batuan tersebut menunjukkan adanya proses vulkanisme dan pelapukan yang berlangsung secara bertahap, sekaligus memperkaya informasi mengenai sejarah geologi daerah Sapuran.

Dalam kurun waktu yang panjang, material tersebut berubah menjadi tanah berwarna merah yang menjadi bahan induk bagi pertumbuhan berbagai tanaman. Kesuburan tanah membuat kawasan ini banyak dimanfaatkan untuk pertanian dan perkebunan. Di sepanjang perjalanan pemetaan, tanaman cengkeh, teh, pinus, serta berbagai tanaman lainnya mudah dijumpai. Keberadaan tanaman-tanaman tersebut menunjukkan bahwa endapan vulkanik Kuarter tidak hanya penting untuk dikaji secara ilmiah, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Kawasan pinus menjadi salah satu pemandangan yang paling menonjol di daerah pemetaan. Hampir tiga perempat bagian kavling didominasi oleh hutan pinus yang tidak hanya berfungsi sebagai kawasan kehutanan, tetapi juga memiliki nilai ekologis dan wisata. Kawasan tersebut juga biasa dimanfaatkan untuk kegiatan luar ruangan, seperti motor trail, dan memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai wisata alam berbasis hutan dan geologi. Tidak hanya sampai itu, Batuan vulkanik di daerah Sapuran juga berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan bangunan lokal. Breksi dan material vulkanik lainnya dapat digunakan untuk keperluan konstruksi atau pengerasan jalan, selama memenuhi persyaratan teknis.

Pada akhirnya, pemetaan geologi di daerah Sapuran dan sekitarnya bukan hanya tentang mengenali jenis batuan dan proses vulkanik yang membentuk wilayah tersebut. Pemetaan ini juga menjadi cara untuk memahami hubungan antara alam dan kehidupan masyarakat. Di sisi lain, kemiringan lereng dan kondisi batuan yang telah mengalami pelapukan perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan risiko erosi dan longsor. Hal ini sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG Nomor 8 yaitu pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan pertanian, perkebunan, serta wisata alam, SDG Nomor 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan melalui pengurangan risiko bencana seperti erosi dan longsor dan saling berhubungan dengan SDG Nomor 15 tentang ekosistem daratan melalui perlindungan hutan pinus dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.Dengan mengenali potensi serta risiko geologinya, hasil pemetaan dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan Sapuran secara berkelanjutan agar tetap memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian alam.

Penulis: Adityo Ardiansyah (Geo-24)

 

Humas Departemen | September 2026