Kawasan perbukitan perbatasan antara Kecamatan Girimulyo (Kulon Progo, D.I. Yogyakarta) dan Kecamatan Kaligesing (Purworejo, Jawa Tengah) merekam evolusi tektonik dan lingkungan pengendapan di masa Tersier. Pada 9 hingga 22 Juli 2026, Azka Ananta Abdillah, mahasiswa Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2024, melakukan rangkaian pemetaan geologi mandiri di kavling 011 Pemetaan Geologi Mandiri 2026 seluas 20 km² (4 × 5 km). Kegiatan lapangan berskala 1:25.000 di bawah bimbingan Dr.Eng. Ir. Wawan Budianta, S.T., M.Sc., IPM. ini mengintegrasikan data dari 121 stasiun titik amat (STA) untuk menyingkap tatanan stratigrafi, deformasi struktur, hingga yang paling unik adalah adanya indikasi mineralisasi hidrotermal lokal.
Hasil analisis litostratigrafi mengonfirmasi bahwa batuan karbonat Formasi Jonggrangan terendapkan secara tidak selaras (unconformity) menumpang di atas batuan vulkanik Formasi Andesit Tua (Old Andesite Formation / OAF). Variasi litologi di daerah pemetaan terbagi ke dalam lima satuan utama:
- Satuan Andesit (OAF): Menyusun morfologi lereng-lereng terjal di sisi tenggara, barat laut, barat, utara, hingga timur laut kavling sebagai representasi intrusi dan kubah lava purba.
- Satuan Lapili Tuf (OAF): Tersingkap di antara tubuh andesit pada sektor tenggara sebagai produk endapan piroklastik primer berjenis pyroclastic density current (PDC).
- Satuan Batugamping Framestone (Formasi Jonggrangan): Membentuk tinggian perbukitan di bagian tengah dataran tinggi Jonggrangan yang mencirikan fasies inti terumbu (reef core).
- Satuan Batugamping Packstone (Formasi Jonggrangan): Merupakan satuan paling dominan di kavling menyebar mengelilingi framestone sebagai fasies lereng terumbu (reef flank).
- Satuan Batugamping Wackestone (Formasi Jonggrangan): Terdistribusi di tepian barat daya dataran tinggi Jonggrangan yang mencerminkan lingkungan laut dangkal berenergi tenang menuju laguna.

Dari aspek struktur geologi, pengukuran kedudukan perlapisan (strike/dip) batugamping Formasi Jonggrangan menunjukkan arah kemiringan lapisan yang dominan mengarah ke kuadran IV. Wilayah pemetaan ini tidak memperlihatkan keberadaan sesar regional utama yang menerus, hanya didominasi oleh populasi sesar normal minor dengan orientasi jurus (strike) pada kuadran III dan kemiringan (dip) pada kuadran IV. Pola sesar ekstensional lokal ini terbentuk sebagai penyesuaian terhadap pembebanan sedimen yang tebal di atas tubuh batuan vulkanik formasi Andesit Tua serta fase relaksasi tektonik regional.
Terdapat temuan unik pada stasiun pengamatan kontak di batas barat kavling (di kawasan Kaligesing), yang memperlihatkan bidang batas langsung antara batugamping Formasi Jonggrangan di sisi utara dan andesit OAF di sisi selatan. Pada zona kontak ini, berkembang urat kalsit dan siderit dengan tekstur pengisian kristal khas berupa comb, colloform, crustiform, hingga drusy cavities. Kehadiran tekstur-tekstur tersebut mengindikasikan adanya sirkulasi fluida hidrotermal pada sistem epitermal sulfidasi rendah (low-sulfidation epithermal) yang memanfaatkan zona permeabel di sepanjang bidang batas kedua formasi.

Di luar hal akademis, data geologi dari 121 STA yang didapatkan ini beririsan langsung dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya dalam pemanfaatan ilmu kebumian untuk ketahanan wilayah dan masyarakat:
- SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan (Target 11.5 : Pengurangan Risiko Bencana)
Informasi persebaran batuan lapuk di lereng terjal andesit serta rekahan sesar ekstensional menjadi basis data spasial krusial bagi pemetaan zona kerentanan gerakan tanah (longsor) di perbatasan Kulon Progo (Girimulyo) – Purworejo (Kaligesing).
- SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Target 8.9 : Pariwisata Berkelanjutan)
Keunikan singkapan geologi seperti inti terumbu berupa framestone dan urat hidrotermal di Kaligesing berpotensi dikembangkan sebagai rute geowisata (geotourism) berbasis komunitas lokal.
- SDG 4: Pendidikan Berkualitas (Target 4.7 : Literasi Sains dan Riset Kebumian)
Pemetaan mandiri ini menjadi sarana penerapan pendidikan berbasis riset (experiential field-based learning), sekaligus menyediakan data primer terbuka bagi penelitian geologi regional lanjutan di masa depan.
Penulis: Azka Ananta Abdillah
Humas Departemen | Oktober 2026