Cakrawala Geologi – Dr. Pri Utami, Kolaborasi Sebagai Kunci: Ekosistem Riset Lintas Sektor

Inovasi tidak lahir dalam ruang hampa. Melalui Geothremal Research Centre (GRC), UGM terus menggembangkan riset dan inovasi di bidang panas bumi. Kepala GRC sekaligus dosen panas bumi Departemen Teknik Geologi FT UGM, Bu Pri (Geo-85) menegaskan bahwa kunci keberhasilan dari setiap riset dan inovasi adalah ekosistem riset yang kolaboratif. Ekosistem ini menghubungkan akademisi, industri, dan masyarakat dalam suatu jaringan yang saling menopang sehingga hasil penelitian dapat berkembang menjadi solusi yang memberikan manfaat nyata.

Salah satu inovasi yang dihasilkan GRC adalah pengembangan produk pupuk/booster nanosilika yang memanfaatkan endapan mineral dari brine panas bumi, yang sebelumnya dipandang sebagai limbah. Hingga kini, GRC telah mengembangkan dua produk yang diberi nama Sulasih-Sulandjana dan Katrili.

Momen panen perdana tanaman kentang yang menggunakan
pupuk/booster nano-silika “Sulasih-Sulandjana” di Dieng
Kegiatan belajar bersama di co-working space Geothermal Research Centre

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sulasih-Sulandjana dikembangkan bersama PT Geo Dipa Energi (Persero) dengan memanfaatkan endapan mineral dari brine Lapangan Panas Bumi Dieng, sedangkan Katrili merupakan hasil kolaborasi dengan PT Pertamina Geothermal Energi (Tbk) yang memanfaatkan endapan mineral dari brine Lapangan Panas Bumi Lahendong.

Menurut Bu Pri, pengembangan pupuk/ booster tersebut terus berlanjut, baik melalui peningkatan kapasitas produksi dan strategi komersialisasi maupun perluasan pengembangannya dengan melibatkan lapangan lapangan panas bumi lainnya. Produk ini telah diaplikasikan pada berbagai komoditas, seperti padi di Purworejo dan Yogyakarta; kopi dan buah buahan di Magelang; dan kacang tanah dan tomat di Minahasa. Bahkan, delegasi kerja sama Indonesia-Afrika menyatakan ketertarikannya untuk uji coba booster Katrili pada perkebunan mawar di Kenya.

Untuk memperkuat hilirisasi, GRC juga tengah menjalin kerja sama dengan mitra industri pupuk yang memiliki pengalaman dalam produksi dan pemasaran, yaitu PT Agrotekno Estetika Laboratories (AEL). Melalui kolaborasi ini, hasil riset diharapkan dapat menjangkau lebih banyak pengguna dan memberi manfaat yang luas bagi masyarakat.

Selain menghasilkan inovasi produk, GRC juga memperkuat budaya kolaborasi melalui pembuatan co-working space yang diresmikan pada tanggal 12 Mei 2026. Fasilitas yang dibangun dengan dukungan PT Geo Dipa Energi (Persero) ini dirancang sebagai ruang yang mempertemukan dosen, mahasiswa, peneliti, serta para praktisi dalam satu forum yang egaliter dan multidisiplin. Berbagai persoalan teknis di lapangan dapat didiskusikan secara langsung dengan para akademisi sehingga mempercepat proses penerjemahan hasil riset menjadi solusi yang diterapkan di industri.

Bagi mahasiswa, kesempatan berdiskusi di coworking space ini membuka akses langsung terhadap model pembelajaran yang menjembatani teori dan praktik sekaligus membekali mahasiswa dengan pengalaman berkolaborasi dalam menyelesaikan persoalan riil di sektor panas bumi.

MELAMPAUI BATAS KONVENSIONAL: MASA DEPAN PANAS BUMI DI INDONESIA

Potret versi cetak buku The Future of Geothermal in Indonesia:
An Abundant New Era of Cooling, Clean Industry, and Power

Indonesia dikenal sebagai “Raja Panas Bumi” dunia, menyimpan lebih dari 40% cadangan geothermal global. Namun, paradoks nyata: pemanfaatannya masih sangat terbatas dibanding potensinya. Inilah konteks di balik keterlibatan Indonesia dalam Project InnerSpace, sebuah inisiatif global yang berdasar filantropi yang mendokumentasikan dalam bentuk buku mengenai tantangan sekaligus kisah sukses pengembangan panas bumi dari berbagai negara.

Buku tersebut berjudul “The Future of Geothermal in Indonesia: An Abundant New Era of Cooling, Clean Industry, and Power”. Dalam buku tersebut, tiga peneliti dari GRC, yaitu Bu Pri (Geo-85), Bu Avi (Geo-07), dan Pak Yan (Geo-10) mendapat kepercayaan untuk menulis salah satu chapter yang berisi tentang tatanan geologi dan berbagai jenis sistem panas bumi yang ada di Indonesia.

Buku yang dihasilkan dari proyek ini tidak hanya menjadi arsip strategis, tetapi juga alat advokasi untuk meyakinkan berbagai kalangan, seperti akademisi, konsultan, dan masyarakat luas, bahwa hambatan pengembangan geothermal dapat diatasi dengan strategi yang tepat.

 

 

 

 

Eksplorasi Non-Konvensional: Melampaui Sistem Hidrotermal Vulkanik

Bu Pri menegaskan bahwa potensi panas bumi di Indonesia tidak hanya terbatas pada sistem hidrotermal vulkanik. Terdapat prospek-prospek non-konvensional yang dapat dikembangkan di masa depan, meliputi:

  • Potensi panas bumi pada cekungan sedimenter. Pengembangan dapat dilakukan dengan memanfaatkan ladang minyak tua yang sudah tidak produktif, sehingga mendukung transisi energi migas menuju energi terbarukan.
  • Potensi panas bumi non-vulkanik lainnya, meliputi sistem panas bumi pada batuan metamorf dan batuan radiogenik.
  • Potensi panas bumi supercritical yang berada di bawah sistem vulkanik hidrotermal konvensional.
  • Potensi panas bumi yang berasosiasi dengan
    gunung-gunung api bawah laut.

Diversifikasi Pemanfaatan: Panas Bumi Tidak Harus Jadi Listrik

Salah satu pesan strategis terkuat dari Bu Pri adalah diversifikasi pemanfaatan selain untuk pembangkit listrik, yaitu direct use. Di kawasan Dieng misalnya, panas bumi berpotensi digunakan sebagai penghangat tanah dan greenhouse untuk melindungi tanaman dari suhu ekstrim. Di daerah bersuhu dingin, akuakultur berbasis pertukaran suhu dengan fluida geothermal membuka peluang budidaya ikan.

Panas bumi juga dapat dimanfaatkan sebagai penghangat ruangan di rumah-rumah, hotel, dan gedung-gedung lainnya, serta menyediakan panas bagi proses industri.

PESAN UNTUK FUTURE GEOLOGISTS

Di penghujung pembicaraan, Bu Pri menyampaikan pesan kepada para calon ahli geologi agar:

  1. Memiliki pikiran terbuka, terutama dalam menghadapi tantangan pengembangan di masa depan termasuk pengembangan panas bumi non konvensional dan perkembangan teknologi, termasuk menguasai teknologi AI untuk mendukung pengembangan panas bumi.
  2. Menguasai komunikasi publik. Ahli geologi harus mampu mengedukasi masyarakat awam guna menjembatani kesenjangan komunikasi yang sering memicu penolakan sosial terhadap proyek panas bumi.
  3. Menerapkan prinsip kemanusiaan, etika lingkungan, dan keberlanjutan dalam menerapkan pengembangan panas bumi.
Sesi penjelasan Bu Pri (Geo-85) mengenai produk pupuk/booster nano-silika dari brine panas bumi

Panas bumi merupakan energi bersih dan andal. Namun, manfaat teknis tersebut hanya optimal jika dikelola oleh tenaga-tenaga ahli yang kompeten secara keilmuan, serta memiliki jiwa kemanusiaan dan etika lingkungan. Inilah tanggung jawab besar bagi generasi geologist Indonesia masa depan.

Penulis: Quna (Geo-23), Rivaldo (Geo-25), Avi (Geo-07), Esti (Geo-02)

Sumber: https://geologi.ugm.ac.id/edisi-juni-2026-geothermal-everywhere/