Dari Singkapan hingga Peta: Pengalaman Pemetaan Geologi di Gunung Lanang, Wadaslintang

Kegiatan pemetaan geologi di daerah Wadaslintang, khususnya di sekitar Gunung Lanang, menjadi salah satu pengalaman yang memberikan pemahaman baru bagi saya mengenai bagaimana kondisi geologi suatu daerah dapat dipelajari secara langsung di lapangan. Selama ini, konsep mengenai litologi, struktur geologi, dan geomorfologi banyak saya pelajari melalui teori dan gambar di dalam kelas. Namun, ketika berada langsung di lapangan, saya dapat melihat bagaimana setiap unsur tersebut saling berhubungan dan membentuk suatu bentang alam.

Selama melakukan pemetaan di kavling yang telah ditentukan, kegiatan penulis diawali dengan mencari dan mengamati singkapan batuan yang dapat dijumpai di sepanjang lintasan. Setiap singkapan yang ditemukan kemudian penulis deskripsikan berdasarkan karakteristik fisiknya, seperti warna, tekstur, ukuran butir, struktur, komposisi, serta tingkat pelapukannya. Penulis juga melakukan pengukuran koordinat dan kedudukan lapisan batuan berupa strike dan dip.

Kegiatan tersebut tidak selalu mudah karena kondisi medan di daerah Gunung Lanang memiliki morfologi yang cukup bervariasi. Saya harus berpindah dari satu titik pengamatan ke titik lainnya untuk mendapatkan data yang dapat mewakili kondisi geologi kavling. Dari kegiatan tersebut, penulis menyadari bahwa pemetaan geologi tidak hanya membutuhkan kemampuan mengenali batuan, tetapi juga ketelitian dalam mencatat posisi, hubungan antar-singkapan, serta kondisi medan di sekitarnya.

Salah satu hal yang menarik selama pemetaan adalah keberagaman fitur geologi yang dapat diamati secara langsung. Litologi yang penulis temukan di daerah kavling berupa breksi dengan matriks batupasir tufan serta batupasir tufan. Keberadaan litologi tersebut menunjukkan adanya material batuan yang memiliki karakteristik berbeda dan mengalami proses geologi yang berbeda pula. Dalam pemetaan tersebut, penulis juga menemukan bahwa daerah penelitian berkaitan dengan dua formasi geologi, yaitu Formasi Peniron dan Formasi Penosogan. Keberadaan kedua formasi tersebut membantu penulis memahami bahwa batuan yang saya jumpai di lapangan tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari susunan geologi yang lebih luas. Pada singkapan batupasir, penulis melakukan pengukuran kedudukan lapisan dan mendapatkan kecenderungan arah dip menuju tenggara. Data tersebut menjadi salah satu hal yang menarik bagi penulis karena arah kemiringan lapisan dapat membantu dalam memahami orientasi batuan dan hubungan stratigrafi di daerah pemetaan. Pengukuran strike dan dip yang sebelumnya penulis pahami sebagai data angka di dalam pembelajaran ternyata memiliki arti yang lebih jelas ketika dikaitkan dengan kondisi singkapan yang penulis lihat secara langsung.

Selain litologi, ditemukan juga indikasi adanya struktur geologi. Struktur yang berkembang di daerah tersebut diinterpretasikan berupa sesar turun pada daerah kaldera. Ditemukan juga indikasi sesar geser, salah satunya berdasarkan kenampakan yang menunjukkan adanya breksi sesar. Keberadaan breksi sesar tersebut menjadi salah satu bukti yang menarik karena menunjukkan bahwa batuan telah mengalami deformasi dan proses penghancuran akibat aktivitas sesar. Dari sisi geomorfologi, keberadaan kaldera menjadi fitur yang cukup menonjol. Morfologi tersebut memberikan gambaran bahwa daerah Gunung Lanang pernah mengalami aktivitas vulkanik yang cukup besar pada masa lalu. Melalui pengamatan tersebut, penulis memahami bahwa bentuk permukaan yang terlihat saat ini sebenarnya merupakan hasil dari proses geologi yang berlangsung dalam waktu yang sangat panjang. Hubungan antara aktivitas vulkanik, litologi, struktur geologi, dan proses erosi kemudian membentuk bentang alam yang saya temui selama pemetaan.

Setelah melakukan pemetaan, penulis menyadari bahwa kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran atau menghasilkan peta geologi. Data yang diperoleh dari lapangan sebenarnya dapat memberikan informasi mengenai kondisi lokal di daerah Wadaslintang. Persebaran litologi, arah kemiringan lapisan, keberadaan sesar, serta kondisi morfologi dapat digunakan untuk memahami karakteristik wilayah dengan lebih baik. Misalnya, keberadaan struktur seperti sesar dan rekahan dapat menjadi bidang lemah pada batuan yang berpotensi memengaruhi proses pelapukan, erosi, maupun kestabilan lereng. Hal tersebut menjadi penting karena daerah Wadaslintang memiliki kondisi morfologi berbukit dengan beberapa lereng yang cukup terjal.

Salah satu kontribusi penting dari pemetaan ini adalah tersedianya informasi awal mengenai kondisi geologi suatu wilayah. Informasi tersebut dapat membantu dalam mempertimbangkan penggunaan lahan, pembangunan infrastruktur, pengelolaan lingkungan, serta upaya mitigasi bencana geologi seperti longsor dan gerakan tanah. Meskipun data yang saya peroleh masih terbatas pada kavling pemetaan, data tersebut dapat menjadi bagian dari informasi geologi yang lebih luas apabila digabungkan dengan hasil pemetaan dari wilayah di sekitarnya. Kegiatan ini juga membuat penulis menyadari bahwa seorang geolog tidak hanya bertugas mengetahui jenis batuan yang terdapat di suatu daerah. Seorang geolog juga perlu memahami bagaimana kondisi batuan dan struktur geologi tersebut dapat berhubungan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.

Pengalaman pemetaan di Gunung Lanang juga dapat dikaitkan dengan konsep Sustainable Development Goals (SDGs). Salah satu tujuan yang paling berkaitan adalah SDG 11: Sustainable Cities and Communities, yaitu menciptakan wilayah yang aman, tangguh, dan berkelanjutan. Data hasil pemetaan dapat menjadi informasi awal dalam memahami kondisi geologi dan potensi bahaya suatu wilayah sehingga dapat mendukung perencanaan dan pengelolaan wilayah yang lebih sesuai dengan kondisi alamnya. Pemetaan juga memiliki hubungan dengan SDG 13: Climate Action. Kondisi geologi dan geomorfologi dapat membantu dalam memahami kerentanan suatu daerah terhadap proses seperti erosi dan longsor yang dapat menjadi lebih intensif akibat perubahan pola hujan. Dengan mengetahui kondisi lereng, litologi, dan struktur geologi, potensi kerawanan tersebut dapat lebih mudah dikenali sehingga upaya mitigasi dapat dilakukan.

Selain itu, kegiatan ini berkaitan dengan SDG 15: Life on Land, terutama dalam menjaga lingkungan daratan. Pemahaman mengenai kondisi geologi dan geomorfologi dapat membantu menentukan bagaimana suatu wilayah sebaiknya dimanfaatkan tanpa meningkatkan risiko degradasi lingkungan. Pemetaan juga dapat memberikan gambaran mengenai area yang perlu mendapat perhatian dalam pengelolaan lahan. Dari sisi pendidikan, pengalaman ini juga berkaitan dengan SDG 4: Quality Education. Bagi saya, kegiatan pemetaan memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran di kelas. Saya tidak hanya belajar mengenali batuan, tetapi juga belajar mengumpulkan data, menghadapi kondisi medan, melakukan interpretasi, dan menghubungkan teori dengan kondisi nyata di lapangan. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk kemampuan saya sebagai mahasiswa geologi.

Penulis: Muhammad Rafif Wistara

 

Humas Departemen | Oktober 2026