Membaca Wadaslintang dari Singkapan: Pemetaan Geologi untuk Memahami Potensi dan Kerentanan Wilayah

Pengukuran strike dan dip batuan pada salah satu singkapan di daerah pemetaan

Kegiatan kuliah lapangan pemetaan geologi mandiri di Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo, menjadi kesempatan untuk memahami kondisi geologi suatu wilayah secara langsung melalui observasi lapangan. Dalam kegiatan ini, pemetaan dilakukan pada kavling yang telah ditentukan dengan mengintegrasikan pengamatan singkapan batuan, pengukuran kedudukan batuan, identifikasi struktur geologi, pengamatan geomorfologi, serta pencatatan kondisi lingkungan di sekitar lokasi. Setiap singkapan yang ditemukan tidak hanya dicatat sebagai data geologi, tetapi juga digunakan untuk memahami hubungan antara litologi, bentuk lahan, dan proses geologi yang berkembang di wilayah tersebut. Melalui kegiatan tersebut, data lapangan kemudian diolah menjadi peta geologi yang menggambarkan persebaran satuan batuan dan struktur geologi pada daerah kavling.

 

Singkapan satuan batuan berupa perselingan
batupasir dan batulanau pada daerah pemetaan

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kondisi geologi Wadaslintang memiliki keterkaitan yang erat dengan perkembangan bentang alam dan proses permukaan yang berlangsung hingga saat ini. Pada daerah pemetaan dijumpai batupasir tufan karboanatan, breksi andesite dan breksi polimik dengan karakteristik yang berbeda-beda. Perbedaan ketahanan batuan terhadap pelapukan dan erosi turut mengontrol variasi morfologi, pola lembah, serta kemunculan singkapan di daerah pemetaan. Selain itu, keberadaan struktur sesar geser di sepanjang Sungai menjadi fitur penting karena dapat memengaruhi kondisi kestabilan lereng maupun pola aliran air permukaan. Dengan demikian, pemetaan geologi tidak hanya menghasilkan gambaran mengenai jenis dan persebaran batuan, tetapi juga membantu menjelaskan proses yang membentuk kondisi fisik geologi wilayah Wadaslintang.

Kenampakan perlapisan batuan yang tidak teratur pada lereng di daerah pemetaan, yang diduga berkaitan dengan pengaruh struktur sesar geser

Data hasil pemetaan tersebut memiliki manfaat yang lebih luas bagi pemahaman kondisi lokal. Informasi mengenai persebaran litologi, struktur geologi, geomorfologi, dan kondisi lereng dapat menjadi data dasar untuk mengidentifikasi wilayah yang memiliki potensi tertentu maupun kerentanan terhadap proses geologi, seperti erosi dan gerakan tanah. Informasi geologi juga dapat mendukung pemahaman mengenai kondisi tata air, pemanfaatan lahan, serta perencanaan pembangunan pada skala lokal. Oleh karena itu, kegiatan pemetaan mahasiswa tidak berhenti pada pembuatan peta sebagai produk akademik, tetapi turut memberikan gambaran awal mengenai karakter geologi wilayah yang dapat dikembangkan melalui penelitian dan pemetaan yang lebih detail.

Dari perspektif pembangunan berkelanjutan, kegiatan pemetaan geologi di Wadaslintang memiliki keterkaitan terutama dengan Sustainable Development Goal (SDG) 11: Sustainable Cities and Communities dan SDG 13: Climate Action. Informasi geologi yang diperoleh dapat mendukung upaya membangun wilayah yang lebih aman dan tangguh melalui pemahaman terhadap potensi bahaya geologi serta kondisi lingkungan setempat. Pemetaan juga dapat menjadi salah satu dasar dalam pengelolaan ruang dan sumber daya alam secara lebih bijaksana, khususnya ketika kondisi geologi dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan pembangunan. Dengan demikian, kegiatan kuliah lapangan bukan sekadar latihan membaca singkapan dan membuat peta, tetapi merupakan proses untuk memahami bagaimana pengetahuan geologi dapat diterapkan dalam mendukung masyarakat dan pembangunan wilayah yang lebih berkelanjutan.

Penulis: Hafiz Syahriar Baraniq (Geo-24).

 

Humas Departemen | September 2026