Menelusuri Jejak Geologi di Pemandian Air Panas Krakal

Sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran, mahasiswa tahun kedua Teknik Geologi UGM melakukan pemetaan geologi yang memberikan kesempatan untuk mengenal kondisi geologi secara langsung melalui singkapan batuan, bentang alam, serta berbagai fenomena geologi yang dijumpai. Salah satu fenomena yang menarik adalah keberadaan Pemandian Air Panas (PAP) Krakal. PAP Krakal merupakan salah satu geosite yang berada di kawasan Geopark Karangsambung, Kebumen. Pemandian ini terletak di Desa Krakal, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, sekitar 11 kilometer di sebelah timur laut pusat kota. Perjalanan menuju lokasi akan melewati jalan yang berkelok dan naik turun, mengikuti morfologi perbukitan yang menjadi ciri khas kawasan Krakal. Keberadaan mata air panas Krakal telah dikenal masyarakat sejak dahulu. Berdasarkan cerita yang berkembang, sumber air panas ini ditemukan oleh Ki Ageng Sabdo Guno, seorang kerabat Keraton Surakarta. Di sekitar sumber tersebut banyak ditemukan batu berukuran kerakal, sehingga daerah ini kemudian dikenal dengan nama Krakal. Pada tahun 1905, sumber air panas tersebut kemudian dibangun menjadi pemandian oleh pemerintah Hindia Belanda.

Dari sisi geologi, PAP Krakal menjadi menarik karena berada di tengah bentang alam perbukitan yang berkaitan dengan struktur geologi berupa antiklin dan sinklin. Bentuk antiklin dan sinklin merupakan hasil deformasi batuan yang berlangsung dalam waktu geologi yang panjang dan membentuk bentang alam perbukitan di kawasan ini. Kemunculan mata air panas Krakal juga diduga berkaitan dengan kondisi geologi bawah permukaan. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa mata air panas ini diduga bukan merupakan manifestasi vulkanik. Salah satu indikasinya dapat dilihat dari kandungan sulfur yang relatif rendah pada airnya, sehingga kemunculan air panas ini justru menarik untuk dikaitkan dengan kondisi geologi dan struktur bawah permukaan daerah Krakal. Hubungan pasti antara struktur geologi dan kemunculan air panas di Krakal masih memerlukan kajian lebih lanjut, tetapi fenomena ini menunjukkan bahwa proses geologi yang berlangsung jauh di bawah permukaan dapat memberikan pengaruh hingga ke permukaan bumi. Keberadaan PAP Krakal pada akhirnya tidak hanya menjadikannya sebagai tempat untuk menikmati air panas, tetapi juga sebagai salah satu bukti nyata bahwa bentang alam dan fenomena yang kita jumpai sehari-hari merupakan hasil dari proses geologi yang panjang.

Keberadaan PAP Krakal juga menunjukkan bahwa geosite tidak hanya bernilai dari sisi geologi, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat. Pemanfaatan sumber air panas ini sebagai destinasi wisata dapat mendukung perekonomian masyarakat jika dilakukan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan karakter geosite. Hal ini sejalan dengan SDGs 8 (Decent Work and Economic Growth), serta SDGs 11 (Sustainable Cities and Communities)   dan SDGs 12 (Responsible Consumption and Production)

Penulis: Hedia Salma Maromi (Geo-24)

 

Humas Departemen | September 2026