
Selama kurang lebih dua minggu pada bulan Juli, saya melakukan pemetaan geologi di Desa Ngaglik, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, dan daerah sekitarnya. Dua minggu tersebut menjadi pengalaman yang cukup berkesan karena pemetaan geologi ternyata bukan sekadar tentang mengamati batuan dan membuat peta. Hampir setiap hari kami harus berjalan beberapa kilometer untuk mencapai lokasi pengamatan, melewati jalan setapak, menaiki dan menuruni lereng yang cukup terjal, bahkan menyusuri aliran sungai untuk menemukan singkapan batuan yang dapat diamati. Medan yang didominasi punggungan dengan kemiringan sekitar 16–32° membuat perjalanan tidak selalu mudah. Namun, justru dari perjalanan tersebut kami dapat melihat secara langsung bagaimana kondisi geologi membentuk bentang alam di sekitar wilayah pengamatan.

Selama berada di lapangan, saya melakukan pengamatan terhadap litologi, struktur geologi, dan geomorfologi. Secara regional, wilayah pemetaan tersusun atas Anggota Tuf Formasi Waturanda, Formasi Halang, Formasi Peniron, dan endapan aluvium. Di lapangan, batuan yang cukup banyak dijumpai berupa breksi, tuf, hingga batupasir tufaan. Dominasi batuan tersebut menunjukkan kuatnya pengaruh aktivitas vulkanik dalam membentuk wilayah ini. Menariknya, pemahaman tersebut tidak hanya diperoleh dari melihat sampel batuan, tetapi juga dari cara batuan-batuan tersebut muncul dan membentuk bentang alam di sekitarnya. Setiap singkapan yang ditemukan setelah perjalanan panjang terasa seperti potongan kecil yang membantu kami menyusun cerita mengenai bagaimana wilayah ini terbentuk.
Kondisi medan yang cukup terjal juga membuat aspek geomorfologi menjadi salah satu hal yang menarik selama pemetaan. Beberapa lereng memiliki kemiringan yang cukup tinggi dan pada lokasi tertentu dijumpai kondisi yang berpotensi mengalami gerakan tanah atau longsor. Karakteristik batuan, tingkat pelapukan, kemiringan lereng, serta kondisi permukaan menjadi beberapa faktor yang perlu diperhatikan. Dari pengalaman di lapangan, saya semakin memahami bahwa peta geologi bukan hanya menunjukkan persebaran batuan. Di balik setiap garis dan titik pengamatan terdapat kondisi nyata yang dapat berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, mulai dari bentuk lahan hingga potensi bencana yang mungkin terjadi.
Hasil pemetaan ini diharapkan dapat menjadi salah satu data awal untuk mengenali kondisi geologi Desa Ngaglik dan sekitarnya dengan lebih baik. Informasi mengenai persebaran batuan, struktur geologi, dan karakteristik bentang alam dapat membantu dalam memahami potensi serta kerentanan wilayah, khususnya sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan lahan dan mitigasi potensi longsor. Hal tersebut juga memiliki kaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui upaya mengenali risiko bencana dan mendukung perencanaan wilayah yang lebih aman, serta SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim melalui peningkatan pemahaman terhadap kerentanan lingkungan. Di sisi lain, pengalaman turun langsung ke lapangan juga menjadi bagian dari SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, karena memberikan ruang untuk menghubungkan teori yang dipelajari dengan kondisi nyata. Pada akhirnya, perjalanan selama pemetaan mengajarkan bahwa memahami bumi membutuhkan lebih dari sekadar membaca buku atau peta. Kadang, kita memang harus berjalan jauh, melewati medan yang terjal, dan mencari singkapan satu per satu untuk benar-benar memahami cerita yang ingin disampaikan oleh batuan.
Penulis: Anisha Ramadhani
Humas Departemen | September 2026