Kulon Progo merupakan salah satu wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki bentang alam beragam. Perbukitan, lembah, tebing, hingga gua menjadi bagian dari karakter wilayah yang terbentuk melalui proses geologi dalam waktu yang panjang. Wilayah yang menjadi area pemetaan saya, keberadaan Air Terjun Sidoharjo, Goa Sriti, dan Paralayang Giri Sembung menunjukkan bagaimana kondisi alam dapat berperan dalam membentuk daya tarik wisata dengan karakter yang berbeda.
Kegiatan pemetaan geologi dilakukan melalui pengamatan singkapan, deskripsi litologi, pengukuran kedudukan batuan, identifikasi struktur geologi, pengamatan geomorfologi, serta pencatatan berbagai fitur yang dijumpai di lapangan. Kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan untuk menghasilkan peta geologi, tetapi juga memberikan kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana proses geologi membentuk karakter suatu wilayah.

Salah satu fitur yang menarik perhatian adalah Air Terjun Sidoharjo. Terletak di kawasan Perbukitan Menoreh, air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 75 meter dan menjadi salah satu daya tarik wisata alam di Kalurahan Sidoharjo, Samigaluh. Kondisi perbukitan dan lingkungan yang masih alami menjadi bagian penting dari pengalaman wisata di kawasan tersebut. Keberadaannya merupakan bagian dari suatu bentang alam yang terbentuk melalui interaksi antara kondisi batuan, proses struktur, dan erosi yang terjadi. Berkembangnya perbukitan di daerah Kulon Progo dimanfaatkan oleh warga sekitar dalam pengembangan Paralayang Giri Sembung. Berada di wilayah Banjarasri, Kalibawang, Paralayang Giri Sembung memanfaatkan kondisi topografi dan panorama kawasan perbukitan sebagai daya tarik wisata. Keberadaan destinasi ini memperlihatkan bahwa bentang alam tidak hanya memberikan objek untuk diamati, tetapi juga dapat menyediakan ruang bagi aktivitas wisata yang memanfaatkan kondisi medan dan lanskap.
Formasi yang membentuk perbukitan tinggi berupa aliran piroklastik merupakan bagian dari Formasi Andesit Tua, dipenuhi breksi andesit, lapilli tuff, dan lava andesit. Munculnya batupasir, konglomerat, dan batugamping menjadi penciri formasi kedua yang berkembang di daerah area saya yakni Formasi Jonggrangan. Formasi Jonggrangan banyak dijumpai pada puncak perbukitan berkembang di atas tubuh vulkanik. Dampak dari batugamping ini dapat ditemukan pada Goa Sriti. Kajian mengenai geoheritage Kulon Progo mencatat Goa Sriti sebagai salah satu geosite yang memiliki nilai geologi dan dapat dikembangkan untuk kegiatan edukasi.
Dari sudut pandang pemetaan geologi, ketiga objek tersebut dapat menjadi contoh bahwa data geologi memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar mengetahui persebaran batuan. Pemetaan membantu mengenali hubungan antara batuan, bentuklahan, struktur, dan proses geomorfologi. Pengetahuan tersebut dapat menjadi informasi awal dalam memahami mengapa suatu wilayah memiliki karakter wisata tertentu. Pemahaman mengenai kondisi geologi dan bentang alam dapat membantu masyarakat maupun pengelola mengenali karakter kawasan yang perlu dijaga. Hal ini menjadi penting karena daya tarik wisata alam pada dasarnya bergantung pada keberlangsungan kondisi lingkungan yang menjadi sumber daya utamanya.
Hubungan tersebut dapat dikaitkan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). SDG 8: Decent Work and Economic Growth, terutama melalui pengembangan kegiatan wisata yang dapat membuka peluang ekonomi masyarakat lokal. Wisata berbasis alam dapat menjadi salah satu cara untuk menghubungkan potensi wilayah dengan aktivitas ekonomi tanpa menghilangkan karakter lokalnya.
SDG 11: Sustainable Cities and Communities juga relevan karena pengelolaan kawasan wisata membutuhkan pemahaman terhadap karakter wilayah serta upaya menciptakan kawasan yang aman, tangguh, dan berkelanjutan. Data pemetaan geologi dapat menjadi salah satu informasi dasar untuk memahami kondisi fisik suatu wilayah sebelum pemanfaatan dan pengembangan dilakukan.
Penulis: Muhammad Nuh Fikri (Geo-24)
Humas Departemen | September 2026