Menyibak Jejak Geologi Ngrayong: Pasir Kuarsa dan Lapisan Batubara yang Tersembunyi

Penulis: Lavandra Naufal Krisnaputra

 

Kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri 2025 di perbatasan Kabupaten Rembang dengan Kabupaten Tuban, khususnya di sekitar jalan raya Jatirogo–Bulu, dilakukan untuk memetakan karakter litologi, struktur, dan potensi sumber daya geologi pada kavling yang telah ditentukan. Aktivitas pemetaan dimulai pada tanggal 3 Juli dan berakhir pada tanggal 26 Juli 2025. Pemetaan dimulai dengan survei lapangan untuk mengidentifikasi singkapan batuan, mengukur orientasi perlapisan, serta mendokumentasikan kondisi singkapan maupun morfologi yang ada pada kavling. Metode pengambilan data meliputi pengamatan langsung (outcrop observation), pencatatan sifat fisik batuan, serta pengambilan sampel untuk analisis laboratorium.

Salah satu fitur geologi lokal yang menonjol di kavling ini adalah keberadaan tambang pasir kuarsa, baik yang masih beroperasi maupun yang sudah berhenti produksi. Pasir kuarsa di wilayah ini berasal dari litologi Batupasir Kuarsa pada Formasi Ngrayong. Kuarsa yang ditemukan berukuran cukup besar hingga 3 mm, diperkirakan berasal dari pelapukan batuan beku felsic. Batuan beku felsic kemungkinan berasal dari pegunungan Schwaner di Kalimantan Barat yang tertransportasi melalui aliran sungai purba menuju pesisir cekungan Jawa Timur Utara selama Miosen tengah hingga atas. Formasi Ngrayong diendapkan di lingkungan pesisir dengan pengaruh kuat arus pasang surut dan gelombang dibuktikan dengan ditemukannya struktur sedimen berupa silang siur yang menjadi penciri lingkungan tersebut. Proses pelapukan, transportasi, dan pengendapan membentuk endapan pasir kuarsa berkualitas tinggi yang dimanfaatkan untuk bahan industri kaca, pengecoran, hingga keramik. Keberadaan tambang-tambang tersebut tidak hanya memperlihatkan potensi ekonomi lokal, tetapi juga menjadi exposure alami yang membantu pengamatan stratigrafi dan tekstur sedimen secara jelas.

Fitur geologi unik lainnya adalah ditemukannya lapisan batubara tingkat rendah Sebelum pasir kuarsa terendapkan, daerah Ngrayong pada Miosen Tengah–Atas berada di lingkungan delta hingga pesisir dengan banyak rawa-rawa dan laguna di belakang garis pantai (backshore). Di lingkungan ini, tumbuhan rawa tumbuh subur. Saat mati, sisa tumbuhan ini terakumulasi dalam kondisi jenuh air dan miskin oksigen, membentuk lapisan gambut tebal. Seiring waktu, rawa tersebut tertimbun sedimen pasir, lanau, dan lempung dari sistem sungai-delta. Penekanan (compaction) dan pemanasan geotermal secara bertahap mengubah gambut menjadi batubara (coalification). Proses ini menghasilkan lapisan batubara tipis hingga sedang di antara lapisan sedimen. Setelah fase rawa, lingkungan pengendapan bergeser menjadi zona pantai (shoreface) yang lebih terbuka akibat naik-turunnya muka laut (transgresi-regresi). Pada fase inilah endapan pasir kuarsa terbentuk. Arus gelombang dan pasang surut mencuci sedimen, menghilangkan material halus, dan mengendapkan pasir kuarsa yang bersortir baik di atas atau berdekatan dengan lapisan batubara. Akibat perubahan muka laut dan migrasi saluran sungai purba, lapisan batubara dapat terperangkap di bawah, di antara, atau bahkan di atas lapisan pasir kuarsa Ngrayong. Ketika penambangan pasir kuarsa dilakukan, terutama di bagian dasar atau sisi tertentu, lapisan batubara ini bisa tersingkap.

Hasil pemetaan di kavling ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap beberapa aspek lokal. Pertama, data sebaran dan ketebalan endapan pasir kuarsa dapat membantu perencanaan penambangan yang lebih efisien dan berkelanjutan, hal ini mendukung SDGs 12 sebagai upaya penggunaan sumber daya secara efisien. Kedua, informasi geologi yang dihasilkan dapat menjadi acuan mitigasi dampak lingkungan, terutama pada tambang yang sudah tidak beroperasi, misalnya melalui rekultivasi lahan, hal ini mendukung SDGs 11 sebagai upaya pengurangan risiko bencana. Ketiga, dokumentasi singkapan dan proses geologi di daerah ini berpotensi dikembangkan sebagai media edukasi geologi bagi sekolah atau wisatawan, mengingat aksesibilitasnya yang baik di sepanjang jalan utama, hal ini mendukung SDGs 4 sebagai upaya pendidikan untuk berkelanjutan. Dengan demikian, kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri 2025 di perbatasan Kabupaten Rembang dengan Kabupaten Tuban, khususnya di sekitar jalan raya Jatirogo–Bulu Tuban bukan hanya memberikan manfaat akademis bagi mahasiswa, tetapi juga mendukung pengelolaan potensi sumber daya dan pelestarian lingkungan setempat.

 

Humas Departemen | Oktober 2025